Langsung ke konten utama

Postingan

#JumuahBerfaedah - Revolusi Dimulai dari Siapa pun, Terutama Ibu

Beberapa waktu lalu, tepatnya 2 Desember 2017, saya menghadiri sebuah diskusi yang diadakan oleh KM Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM. Tema diskusinya adalah tentang kepemimpinan pemuda zaman now, dan menghadirkan wakil bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin yang biasa disapa Mas Ipin. Rasanya sudah lama saya tak menghadiri diskusi dengan tema kepemimpinan. Mendengarkan Mas Ipin bercerita tentang latar belakang dirinya dan program-program pemerintah Trenggalek, serta mendengarkan pertanyaan para peserta, saya merasa ada energi luar biasa yang masuk pada diri. Energi yang saya rindukan.
Saat media sibuk memberitakan korupsi e-KTP, dalam diskusi itu Mas Ipin berhasil ‘menampar’’ saya dengan, “Sudahlah, anak cucu kita butuh warisan energi dari kita. Jadi jangan habiskan energi untuk mengingat Novanto aja. Lakukan kebaikan bareng.”
Bagi saya, yang diungkapkan Mas Ipin ini bukan soal ketidakpedulian dengan korupsi, tapi mengingatkan soal proritas energi yang harus diatur. Ada banyak lini k…
Postingan terbaru

Saya dan Kamu Tidak Pernah Sendirian, Sekalipun Jalan itu Nampak Sepi

Pagi ini adalah tanggal 2 di bulan yang baru, November, bulan kedua saya bekerja di tempat yang sudah lama saya kenal tapi baru saya pijak. Setelah sejak tahun kemarin saya sering diminta menjadi mentor untuk pelatihan menulis fiksi oleh sebuah perusahaan bernama Inspirator Academy, sejak 9 Oktober saya diamanahi untuk ikut mengelola salah satu cabang dari perusahaan tersebut. Sebuah perusahaan yang banyak menyediakan pelatihan menulis, public speaking, hingga membantu banyak perusahaan soal corporate branding. Intinya, perusahaan ini bergerak di bidang pendidikan juga, tapi pendidikan non formal. Kami punya ribuan alumni yang sudah berhasil konsisten menulis bahkan menerbitkan buku, dan ribuan mentee yang masih terus menjalani pendidikan menulis. Nggak sedikit orang yang kaget atau bahkan kecewa dengan keputusan ini, karena semua orang berpikir saya akan jadi dosen. Oh, sorry, lebih tepatnya segera jadi dosen setelah lulus pendidikan pascasarjanan. Namun, saya yakin dengan pilihan ini…

Lingkaran Konfirmasi

"Nggak semua hal perlu kamu konfirmasi, karena kebenaran bukan cuma soal berapa orang yang percaya."Yap! Memelihara kepercayaan rasanya lebih sulit daripada membuat orang lain percaya. Eh, sorry, atau sebetulnya begini:Memelihara kepercayaan lebih penting daripada membuat orang lain percaya.Kalau waktumu habis untuk memberikan konfirmasi, sudah waktunya kamu 'menampar' diri untuk mengkaji sudut pandang. Percayalah, semua akan terkonfirmasi asal kamu fokus memelihara keyakinan dan paham betul mengapa kamu percaya terhadap sesuatu..., atau seseorang?Jaga energimu untuk hal-hal substantif, dan jangan biarkan perasaanmu justru berlarut pada hal-hal sepele yang ternyata membuatmu kecewa.Jangan pelihara hal itu.
Bila ada yang kamu upayakan, tetapi niatmu tak diterima dengan baik, diam atau menepilah.
Tak perlu kecewa sebab tujuanmu bukan membuat orang lain percaya, jaga dirimu agar segala hal yang kamu awali dengan baik pun dapat kamu jalani dan selesaikan dengan baik.Akan…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…

Ruang untuk yang Beda

Memilih. Satu kata yang tiap saat ada di kehidupan kita. Kita boleh memilih pintu mana pun yang ingin kita masuki. Memilih siapa pun yang akan menjadi sosok berpengaruh di dunia kita. Memilih apa pun yang hendak kita lalui. Hak untuk memilih ini kemudian sering kita maknai dengan batasan batasan dalam berinteraksi antar makhluk. Kita membangun standar sendiri tentang sejauh apa kita boleh berdialog dengan si A, sesering apa kita datang ke sebuah tempat, bahkan kapan kita harus berhenti melakukan sesuatu.
Barangkali kita semua sudah terlalu bosan bicara soal niat, sebab terlalu sering dibicarakan tapi esensinya sama sekali tak berubah. Niat itu harus terus diperbaiki. Begitu saja yang sering dibahas. Padahal, dalam memilih ruang, orang, dan segala hal yang akan kita lakukan, bukan hanya niat yang harus diperhatikan. Ada alasan dan prinsip yang tidak mungkin dipisahkan dari pembahasan. Bila selama ini kita sibuk gembar-gembor soal dasar, ya, alasan ini yang sebetulnya kita maksud dasar. …

Sibuk tapi Lupa

Tiap hari kita mengejar sempurna.
Menghindari segala sumbu yang hantarkan salah di muka.
Ya, kita tak siap dianggap sebagai penyebab murka.
Hanya ingin aman dan terus dirangkul puji dan puja.Jangan-jangan ini pula yang buat kita sering enggan beri kesempatan.
Lebih memilih menimang luka dan tak berupaya menyembuhkan.
Tak pernah mau membuka pintu yang menjadi hak tiap insan.
Kita sibuk khawatir dengan kesalahan hingga lupa memberi ruang pada perbaikan.Sesekali kita sibuk mendebat diri sendiri.
Mencari pembelaan yang dilindungi topeng penjelasan dengan rapi.
Sekali lagi.
Nampaknya kita memang betul-betul tak mau bertanya pada nurani.Benci pada kemungkaran tetapi lupa memaafkan.
Tak terima kekurangan tapi lupa syukuri kekuatan.
Sibuk sembunyi agar diri tak punya cap kesalahan.
Dan, pergi meninggalkan kesalahan tapi tak mau beri jeda tuk melepaskan.

Maaf, Ternyata Aku Sering Lupa Berterima Kasih

Kebiasaan adalah hal yang selalu membuat kita merasa ringan melakukan sesuatu. Hari demi hari, akan ada hal yang bagi orang berat, tetapi mudah kita lakukan karena kita telah terbiasa.Suatu ketika, seorang guru mengatakan padaku bahwa kebiasaan itu bukan hanya lahir karena rutinitas, tetapi juga keberanian tuk melakukan hal yang tak selalu mudah. Melakukannya dengan disiplin dan menjadikannya bagian dari kebutuhan hidup.Namun, entah kita sadar atau tidak. Sebab kebiasaan, kita justru tak jarang mengesampingkan kekuatan diri. Karena merasa telah terbiasa, kita lupa bahwa sejak awal ada hal berat dan sulit ketika memulainya. Kemudian ada seseorang yang hadir mendekap sambil berbisik, "Kenapa kamu bisa sekuat ini, Nak?", dan pertanyaan itu membuat hatimu terketuk. Matamu tiba-tiba membulat sejenak, lantas terpejam dan meneteskan airnya.Detik itu juga, kamu baru sempat menya pa diri sendiri.
"Hei..., ternyata selama ini kamu kuat sekali, ya. Karena kita terbiasa, aku lantas…