Langsung ke konten utama

Postingan

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…
Postingan terbaru

Ruang untuk yang Beda

Memilih. Satu kata yang tiap saat ada di kehidupan kita. Kita boleh memilih pintu mana pun yang ingin kita masuki. Memilih siapa pun yang akan menjadi sosok berpengaruh di dunia kita. Memilih apa pun yang hendak kita lalui. Hak untuk memilih ini kemudian sering kita maknai dengan batasan batasan dalam berinteraksi antar makhluk. Kita membangun standar sendiri tentang sejauh apa kita boleh berdialog dengan si A, sesering apa kita datang ke sebuah tempat, bahkan kapan kita harus berhenti melakukan sesuatu.
Barangkali kita semua sudah terlalu bosan bicara soal niat, sebab terlalu sering dibicarakan tapi esensinya sama sekali tak berubah. Niat itu harus terus diperbaiki. Begitu saja yang sering dibahas. Padahal, dalam memilih ruang, orang, dan segala hal yang akan kita lakukan, bukan hanya niat yang harus diperhatikan. Ada alasan dan prinsip yang tidak mungkin dipisahkan dari pembahasan. Bila selama ini kita sibuk gembar-gembor soal dasar, ya, alasan ini yang sebetulnya kita maksud dasar. …

Sibuk tapi Lupa

Tiap hari kita mengejar sempurna.
Menghindari segala sumbu yang hantarkan salah di muka.
Ya, kita tak siap dianggap sebagai penyebab murka.
Hanya ingin aman dan terus dirangkul puji dan puja.Jangan-jangan ini pula yang buat kita sering enggan beri kesempatan.
Lebih memilih menimang luka dan tak berupaya menyembuhkan.
Tak pernah mau membuka pintu yang menjadi hak tiap insan.
Kita sibuk khawatir dengan kesalahan hingga lupa memberi ruang pada perbaikan.Sesekali kita sibuk mendebat diri sendiri.
Mencari pembelaan yang dilindungi topeng penjelasan dengan rapi.
Sekali lagi.
Nampaknya kita memang betul-betul tak mau bertanya pada nurani.Benci pada kemungkaran tetapi lupa memaafkan.
Tak terima kekurangan tapi lupa syukuri kekuatan.
Sibuk sembunyi agar diri tak punya cap kesalahan.
Dan, pergi meninggalkan kesalahan tapi tak mau beri jeda tuk melepaskan.

Maaf, Ternyata Aku Sering Lupa Berterima Kasih

Kebiasaan adalah hal yang selalu membuat kita merasa ringan melakukan sesuatu. Hari demi hari, akan ada hal yang bagi orang berat, tetapi mudah kita lakukan karena kita telah terbiasa.Suatu ketika, seorang guru mengatakan padaku bahwa kebiasaan itu bukan hanya lahir karena rutinitas, tetapi juga keberanian tuk melakukan hal yang tak selalu mudah. Melakukannya dengan disiplin dan menjadikannya bagian dari kebutuhan hidup.Namun, entah kita sadar atau tidak. Sebab kebiasaan, kita justru tak jarang mengesampingkan kekuatan diri. Karena merasa telah terbiasa, kita lupa bahwa sejak awal ada hal berat dan sulit ketika memulainya. Kemudian ada seseorang yang hadir mendekap sambil berbisik, "Kenapa kamu bisa sekuat ini, Nak?", dan pertanyaan itu membuat hatimu terketuk. Matamu tiba-tiba membulat sejenak, lantas terpejam dan meneteskan airnya.Detik itu juga, kamu baru sempat menya pa diri sendiri.
"Hei..., ternyata selama ini kamu kuat sekali, ya. Karena kita terbiasa, aku lantas…

Hanya Beda Barisan

Sebab awal yang pertemukan karena segala langkah yang sama,
Kemudian kita sejenak lupa bahwa akan ada waktunya hati berjarak nyata.
Sebab dahulu ada visi yang diperjuangkan dengan penuh percaya,
Lantas kita tak siap bila hari ini ada yang beda.Dulu, barangkali kita memilih ada di satu barisan.
Saling meyakinkan untuk sebuah pilihan.
Hari ini aku sadar, ternyata kala itu kita tak beri ruang pada perubahan.
Padahal sebetulnya kita tahu, pada akhirnya tak ada yang perlu sama karena paksaan.Akan selalu ada ruang bagi peran yang terbagi.
Yang perlu dipahami, idealisme takkan berubah tanpa tepi.
Kita hanya beda barisan, bukan pintu kepercayaan yang selama ini terus kita uji.
Biar kamu di sini, aku di sana karena sosok dibutuhkan pada banyak ruang dan tak hanya di satu sisi.Tak perlu khawatir.
Perubahan itu bukan hal yang pasti getir.
Harusnya kaupun masih yakin walau tak jarang ada rasa berdesir,
Aku hanya ingin punya andil di sudut yang tak ramai dan teriakan yang menyingkir.

Menemukan Jutaan Kehilangan

Pernah ada yang mengingatkanku, bahwa akan selalu ada hal yang tak sesuai bayangan atau keinginan. Di dunia ini bukan hanya ada rencana, tapi ada pula kejutan. Sayangnya, seringkali kita sibuk menyiapkan diri dan hanya mendominasi diri dengan kesiapan menerima kejutan baik, kejutan yang menyenangkan. Padahal, ada kejutan yang bukan hanya tak pernah terbayang, bahkan berlawanan dengan kejutan yang kita bayangkan.
Kadang kita sibuk menyiapkan diri untuk menerima segala hal, tetapi kita lupa bersiap untuk kehilangan. Selanjutnya kita akan bilang bahwa kehilangan adalah kesedihan. Apa iya? Saya tak percaya. Yang saya yakini, kehilangan muncul bukan untuk membawa kita pada kepedihan. Justru, kita diajak belajar bahwa ke depan kita tidak akan hidup dengan orang yang sama dan di tempat yang sama. Segala hal yang kita miliki juga takkan pernah sama. Yang kita anggap hilang, bisa saja hendak diganti. Bukan mau pergi begitu saja.Lalu, sebetulnya apa makna segala perjalanan yang memertemukan kita…

Pendidikan Adalah Kebahagiaan Menemukan Potensi dan Berkolaborasi, Bukan Berkompetisi.

Hari ini saya menghadiri 3 dari sekian banyak rangkaian acara Pesta Pendidikan #pekanyogya 2017 yang dihadiri banyak guru, orang tua, dan komunitas pendidikan. Sejak pagi kami diajak mendengarkan pengalaman dan diskusi bersama tentang hal-hal yang selama ini barangkali masih tabu di lingkungan pendidikan formal. Mulai dari anak Indonesia yang (katanya) bahagia tetapi tak berprestasi, homeschooling dari kacamata kebijakan pemerintah, hingga jagongan homeschooling yang menghadirkan para homeschooler (anak yang menempuh homeschooling) dan para Ayah homeschooler.


Bertemu dengan Bu Waya dari SALAM (Sanggar Anak Alam), Bu Novi yang menangani kasus klitih di Jogja, Bu Heni yang sering menjadi fasilitator pendidikan untuk guru di Indonesia, Pak Didik dari Dinas pendidikan, Pak Susianto dari Kemendikbud yang justru memilih homeschooling untuk pendidikan anaknya, Mas Reza yang memilih resign dari bank tempatnya bekerja demi memfasilitasi dan menemani anak untuk homeschooling, hingga Andaru yang …