Langsung ke konten utama

Cerpen "Kami Nyaris Menikah"


Pagi itu aku benar-benar bahagia. Bahagia karena melihat indahnya semua ciptaan Tuhan, termasuk kamu. Sudah sejak lama aku hanya bisa mengumpat senyum dalam hati ketika berusaha curi-curi pandang kepadamu. Hanya sekedar melirik parasmu sudah merupakan hal yang menyenangkan bagimu. Bukan karena kau tampan, putih, atau apapun itu. Namun karena karismamu dan senyumanmu bak racun yang sekali suntik begitu mematikan bagiku.
Aku tidak pernah tau dan tidak berani untuk sekedar mengetahui siapa namamu. Walaupun sesekali saat aku melirikmu dan tersenyum simpul, diam-diam akupun melihat kamu tersenyum ke arahku. “Oh Ya Tuhan, melihat senyumnya membuatku tak berdaya.” Batinku.
Tak kusangka akhirnya aku punya kesempatan untuk sekedar bertegur sapa denganmu. Ingatkah kau waktu itu kita bertemu di hall kampus, tidak sengaja kita duduk bersebelahan kemudian kau menyapaku? Sejujurnya aku tidak pernah lupa hingga detik ini.
“Sepertinya aku tidak asing dengan kamu. Kita sering ketemu ya?” tanyamu malu-malu.
“Kita? Eum, sepertinya kita memang sering ketemu. Aku juga tidak asing dengan mukamu.” Jawabku dengan berusaha menyimpan rapi rasa senangku yang sebenarnya berlebihan.
“Kamu semester berapa?” Kamu terus melanjutkan obrolan kita.
“Aku baru semester 5, mas. Mas-nya semester berapa?” aku mulai memanggiilmu dengan sapaan Mas.
”Wah aku sudah semester  akhir. Ngomong-ngomong sejak tadi kita ngobrol tapi belum kenalan. Siapa namamu?” betapa aku senang akhirnya kamu menanyakan siapa namaku.
“Panggil saja Lia. Mas-nya sendiri?” aku berusaha menanyakan namamu juga.
“Lia? Sapaan yang singkat dan mudah di ingat. Aku Akbar.”
Setelah kejadian itu, ingatkah kamu? Tiap kali kita berpapasan, kita selalu bertegur sapa. Walau kadang hanya sekedar berbalas senyum. Subhanallah, semakin aku bahagia. Ya, bahagia yang hanya bisa simpan dalam hati karena aku tidak berani bahkan rasanya tidak mungkin untuk ku ungkapkan. Sejujurnya aku selalu berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa ini tidak lebih dari pertemanan dan aku tidak berharap kamu merasakan yang aku rasakan. Akupun tidak pernah mau berharap bahwa yang aku rasakan adalah rasa ingin memiliki. Karena menurutku, rasa ingin memiliki adalah salah satu rasa yang hanya akan mengusik rasa cintaku padamu yang hanya berlandaskan ketulusan.
Ingatkah kamu? Semakin hari kita semakin sering bertegur sapa. Tapi, tunggu dulu. Bukan hanya bertegur sapa. Berbincang-bincang lebih tepatnya. Ahh, hatiku benar-benar bahagia. Bukan hanya bahagia karena aku bisa berbincang-bincang denganmu. Tapi lebih kepada bahagia karena ternyata aku tidak mencintai orang yang salah. Aku mencintai orang yang penuh karisma, murah senyum, ramah, dengan bonus mempunyai senyum yang manis.
Tidak hanya sampai disitu. Kamu tidak jarang bersilaturrahmi ke rumahku. Sekedar berbincang denganku, bahkan berbincang dengan ayahku. Ya Tuhan, tidak pernah aku sebahagia ini. Memperkenalkan seorang lelaki kepada orang tuaku. Aku sering bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa maksud dari semua ini? Semua keindahan ini? Terlepas dari status yang ku anggap masih sebatas ‘pertemanan’ . Teman yang menjada ukhuwah dan saling membantu.
Saling membantu? Ya, kamu tidak jarang membantuku mengerjakan sesuatu yang tidak bisa kulakukan sendiri. Walaupun hanya sekedar mendiskusikan tugas kuliahku karena kamu lebih senior dariku. Ada saja hal-hal menarik yang selalu kita bicarakan. Tentang coklat kesukaanku, tim bola kesukaanmu, dan lain sebagainya. Selalu kuingat ketika kita membicarakan sesuatu yang sesungguhnya membuatku bahagia sekaligus semakin bertanya-tanya.
“Dek Lia, kamu tau mengapa Nabi Muhammad memilih Khadijah sebagai pendampingnya, padahal banyak wanita muda nan cantik yang tidak menolak jika dipinangnya dan dijadikan istri?”
“Tidak, Mas.”
“Hmmm, itu karena Nabi yakin bahwa Khadijah bisa menjadi istri yang baik dan sholekhah. Itu memang hal sepele dan biasa. Tapi, sekarang kenapa sedikit lelaki yang berpedoman seperti itu ya ketika mencari pendamping hidup?”
“Nah, Mas Akbar saja yang laki-laki nggak tau. Apalagi saya sebagai pihak perempuan?”
“Hehe.. Iya juga ya. Hmm mungkin karena pengaruh alam dan lingkungan tetapi tidak di imbangi dengan Ilmu agama yang cukup ya, Dek?”
“Mungkin saja. Ya, yang terpenting adalah punya istri cantik. Mungkin begitu ya Mas. Hehe.”
“Seperti Dek Lia ya?”
“Apanya yang seperti aku, Mas?”
“Ahh tidak. Lupakan saja.”
Dan akhirnya tiba-tiba kamu pamit pulang setelah perbincangan itu. Antara bingung dan senang , yang aku rasakan ketika kamu membicarakan hal tersebut. Tentu aku terus berusaha menata hati dan pikiran dengan melihat perlakuanmu terhadapku yang semakin baik dan peduli kepadaku.
Kamu tidak pernah segan untuk menemaniku dan memberiku energy semangat ketika aku benar-benar terpuruk. Semakin hari, semakin pertemuan kita terus-menerus berlangsung. Jangankan seminggu sekali. Setiap haripun kita bertemu walaupun untuk sekedar bergurau dan membicarakan hal-hal ringan namun menyenangkan.
Betapa aku terkejut, 1 minggu setelah perbincangan tentang Muhammad dan Khadijah , kamu datang dan bilang hendak meminangku.
“Dek Lia, terimakasih ya.”
“terimakasih untuk apa, Mas?”
“Terimakasih karena kamu sudah membuatku yakin.”
“Yakin apa?”
“Yakin untuk meminangmu.”
seketika aku diam. bingung dan tidak percaya. Kemudian kamu meyakinkanku sekali lagi.
“Maukah kamu menerima pinanganku, Dek Lia?”
Walaupun begitu aku bahagia, aku tidak begitu saja menerima atau menolak pinanganmmu. Banyak hal yang harus ku pertimbangkan dan akhirnya aku memutuskan untuk memikirkannya dulu.
Kesannya berlebihan memang, ketika aku terus mengingat apapun yang kita lalui bersama. Taukah kamu? Semua itu tidak hanya sekedar menyenangkan namun juga berharga. Begitu berharga sampai pada akhirnya Tuhan lebih menyayangimu dan memintamu kembali ke pangkuanNya sebelum sempat aku menjawab pertanyaanmu. Pertanyaan yang masih sering terngiang-ngiang di telingaku. Pertanyaan yang sering membuatku terbelenggu hingga terus mengingatmu.
Betapa perih rasanya ketika aku sadar kamu pergi karena kecelakaan yang kamu alami sepulangnya kamu menanyakan “Maukah kamu menerima pinanganku, Dek Lia?” , dan aku belum sempat menjawabnya..

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…