Langsung ke konten utama

kumpulan kultwit #pendidik

Tweeps, #pendidik itu bukan hanya mengajarkan materi.namun juga memastikan bahwa peserta didiknya akan menjadi manusia berakhlak mulia :)
jadi, ketika seorang #pendidik hanya berperan disekolah, sepertinya kurang afdhol ya, Tweeps.coba jadi pendidik yang 'dekat' dengan peserta didik
mengapa harus 'dekat' ? untuk memastikan bahwa peserta didik dapat mengaplikasikan yang slama ini diberikan oleh #pendidik
ya, karena #pendidik punya PR untuk membantu mengembangkan potensi peserta didik, maka ke'dekat'an bisa jadi media pengembangan potensi yg asyik

kemas ke'asyik'an belajar dengan bagus dan seimbang.asyik yg bermanfaat. #pendidik jg jangan sampai lupa dgn pendidikan karatker.mengapa?
tidak lain agar peserta didik dapat menjadi generasi penerus bangsa yang BERKARAKTER.karakter positif berawal dr #pendidik yg positif
nah, jadi #pendidik yg positif itu, yang gimana ya Tweeps? :)
1. buat peserta didik nyaman dengan kita.cara paling pertama.tebar senyum dan kata2 yg 'asik' agar mudah dipahami 
2. #pendidik harus yakinkan peserta didik, agar mereka tidak ragu untuk sharing dengan kita. sering2 ajak ngobrol yang asik tapi berkualitas
3. jadilah #pendidik yg membuat peserta didik semangat.beri motovasi dlm brbagai bentuk
4. arahkan peserta didik kpd kegiatan positif yg dikemas menarik.misalnya,belajar ttg pertanian dgn terjun ke sawah langsung. #pendidik
5. hadirlah sbg kakak dan teman ketika diluar kelas.agar mreka nyaman dan lebih mudah kita arahkan #pendidik karena  mendekati peserta didik melatih kesabaran.maka,dekati mereka #pendidik
6. kenakalan jgn dibalas dgn bentakan apalagi pukulan.itu bukan tipe #pendidik positif tweeps
yg terakhir.. 7.jangan tebar virus kegalauan pd peserta didik.hehe #pendidik
jadi #pendidik yg positif itu asyik tweeps..krn akan mmbawa dampak positif jg.lebih ceria&sabar..hehe siapa yang pengen jadi pendidik positif?
berusaha jd #pendidik positif bs membentuk pebadi kalem tp mantep lho tweeps.mengedepankan keilmuan drpd koar2 ga jelas
ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri ketika melihat peserta didik dpt mengaplikasikan apa yg kita ajari.terharu :') #pendidik

apalagi kalo mereka bs menjai pribadi lebih dewasa dan baik.rasanya bahagia.coba deh #pendidik
Tweeps,bantu adik2 kita untuk menyiapkan diri memimpin&membawa Indonesia pd kemajuan.Masa depan Indonesia ada ditangan mereka #pendidik
Indonesia negara yg hebat jika ada ditangan org hebat.maka,mari ciptakan generasi hebat untuk Indonesia #pendidik
menciptakan generasi hebat berawal dari pribadi yg hebat juga. so, be an awesome youth! #pendidik



Follow me on twitter @rizkamamalia >>  https://twitter.com/#!/rizkamamalia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…