Langsung ke konten utama

Sebuah Kisah.. "Hingga Suatu Ketika"

Hidup adalah segala sesuatu yang kujalani, kurasakan, kuhayati, dan tidak sendirian bermuram durja. Tak peduli banyak anak muda bilang bahwa kehidupan mereka sedang berada di titik kebimbangan, tak tau arah dan disebut antah berantah. Ah, betapa sepertinya aku kelewat optimis dengan hidupku. Segalanya kupandang dengan sudut pandang begitu indah, saat ini. Berbeda memang ketika dahulu aku menapaki segala arah dengan kemurungan dan merasa sendiri. Sungguh, sampai detik ini aku sering tidak menyadari betapa perubahan terjadi begitu saja dihidupku. Siapa yang mengubahku? Semudah itukah aku melesat jauh dari ‘dahulu’ku?
            Sejak awal aku memang melihat perbedaan kamu dengan mereka. Ya, kamu. Kamu yang bermata bening, bersenyum manis nan ceria, berhidung kecil namun tetap mempesona. Mengingatmu memang lebih mudah daripada mengingat bagaimana aku berubah. Akupun tidak pernah sempat berpikir mengapa semudah ini aku mengingatmu. Mengingat segala keindahan Makhluk Allah penuh pesona. Terkadang aku lebih memilih memingat bagaimana caramu bicara, daripada mengingat apa yang kamu bicarakan. Parah, memang. Aku sering tidak mendengarkan apa yang kamu katakan dengan seksama karena sibuk memandangimu dengan sembunyi-sembunyi.
            Namun sungguh, tiada maksud aku tidak serius ketika berbincang denganmu. Kumohon, pahamilah. Semua ini semata-mata karena aku terlalu serius menangkap pesonamu, kemudian menata dan menyimpannya dengan rapi dihati dan pikiranku. Jangan kemudian kamu mengira semua hal yg kamu utarakan padaku selama ini hanya sebuah kesia-siaan. Ingat, hanya terkadang aku tak mencoba memahami apa yang kamu ucapkan. Artinya, banyak hal yang kamu sampaikan masih tersimpan rapi hingga saat ini. Jangan khawatir, aku tidak hanya menyimpannya dengan rapi. Namun kujaga dan kuterapkan. Ah, mungkin disinilah titik dimana aku mulai diliputi perubahan.
            Jadi, karena kamulah aku berubah? Kamu yang entah disudut manakah kamu berada. Sekali lagi maafkan aku. Kali ini aku kebingungan menempatkan dimana seharusnya kamu berada di salah satu sudut hatiku. Bukan karena kamu terlalu buruk untuk ada dihatiku, namun karena ditiap sudut hatiku sudah ada kamu hingga aku kebingungan disudut mana lagi kamu harus kutempatkan. Oh ya Allah, maafkan aku sekali lagi. Begitu mengingatmu, semua tersita untukmu hingga terkadang aku terlalu sulit ingat apa yang ingin kusampaikan. Kembali lagi, perubahan. Ingatkah kamu, dahulu kamu sempat sampaikan padaku bahwa wanita adalah suatu hal yang membuat pria merasa begitu sempurna?
            Sepertinya terlalu banyak kata maaf dariku. Namun sungguh, maafkan aku untuk kesekian kalinya. Maafkan, dahulu aku mengira itu hanya secuil caramu untuk membuatku luluh. Begitu mudah ku abaikan. Sejujurnya, tak bisa kupungkiri rasanya ada kumpulan bunga yang berterbangan dihatiku saat ku dengar kau katakan itu. Gombal ya? Sama! Kupikir dahulu kamu juga gombal. Tapi akhirnya tak mampu kupungkiri bahwa setelah itu aku mulai ‘terjebak’ dalam hal yang kurasa kamu gombal. Hmm, kamupun menunjukkan betapa memang kamu menghargai dan menghormati kaumku. Jangankan Ibumu, yang memang harus kamu hormati. Tiap wanita yang kamu kenalpun merasa bahwa unggah ungguh (tata krama) mu memang tak perlu diragukan. Begitu kata seorang ibu penjual gorengan di dekat kampus, yang sering kamu suguhi senyum serta sikapmu yang penuh kharisma dan mempesona.
            Kudengar segala baikmu, ada secuil pernyataan logis dalam otakku yang mengingatkanku bahwa bisa saja semua itu sekedar pencitraan. Namun semua tertepis dengan segala kharismamu. Begitu memang kamu meyakinkanku bahwa aku tidak dekat dengan pria yang salah. Betapa kamu memang membuatku tahu, wanita punya arti besar bagimu. Aku yang sering meremehkan diriku sendiri, berpikir bahwa aku ini tidak ada apa-apanya dan tidak ada artinya, semakin mengerti bahwa ternyata aku bisa menjadi luar biasa bagimu, wahai pria. Dengan segala kekuranganku untuk menyempurnakanmu. Itulah mengapa, jangan salahkan aku ketika kubilang kamu membuatku berubah. Ya, segala pemikiran dan pandanganku semakin terarah ke ‘kanan’ karenamu. Betapa saat aku menyadari itu, begitu kubersyukur pada Allah karena diperkenankan menjadi bagian darimu, wahai pria yg ingin disempurnakan wanita.
            Satu hal lagi yang membuatku bersyukur adalah ketika pertemuan kita beberapa bulan yang lalu, disuatu malam, disebuah titik di Kota penuh perjuangan untukku berubah. Begitu kuingat titik demi titik dimana kita berbincang, penuh senyum, hangat, seperti biasa. Namun ada satu hal yang berubah. Saat itu, sepertinya kamu ‘terlihat’ tak membutuhkanku seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Ya, entah kamu memang ‘sedikit’ mengabaikanku, atau hanya perasaanku saja. Akupun mulai diam karena merasa tidak bisa bertahan dalam kesunyian bersamamu. Rautmu kian berubah, dan yang paling kuingat adalah ketika akhirnya kamu mengeluarkan kemudian memberikan secarik kertas bermotif indah kepadaku. Kulihat sekilas, tampak seperti sebuah undangan. Dengan khusnudzon kubuka perlahan, dengan berbasmallah dalam hati dan penuh senyum. Hingga akhirnya aku menemukan namamu tertulis, berdampingan dengan sebuah nama wanita. Ah, andai kamu tahu. Saat itu aku merasa seperti ada petir besar dihadapanku. Membuatku kaget dan takut.
            Ternyata begitulah siklus kehidupan. Tidak bisa aku terus meminta dan berharap segala yang indah menurutku. Indah sesaat belum tentu yang terbaik, namun yang terbaik sudah tentu membawa kita merasakan keindahan yang lebih istiqamah dan penuh ridho Allah karena memprioritaskan kebaikan. Sekali lagi, darimu aku belajar tentang kehidupan dan perubahan. Ya, berubah. Berangsur aku sadar, betapa tidak seharusnya aku terlalu bahagia tanpa ingat segala kemungkinan bagi kita, namun takdir bagi Allah. Maksudku, mungkin menurut kita terlalu banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Namun bagi Allah, terlalu banyak pula takdir untuk makhlukNya yang akan terus menjadi rahasia. Seperti aku dan kamu. Indah, luka, penuh misteri. Sungguh, terimakasih. Kesedihanku kini berubah menjadi kekuatan yang membackingku dengan kuat. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Berbahagialah kamu, dan akupun tetap bahagia dengan keyakinanku tentang takdir Allah bagi MakhlukNya. Sungguh kurasakan hikmah begitu luar biasa tentang kita. Terimakasih atas segala pelajaran, perubahan, dan kehidupan..




Kudus, 17 Mei 2012 ; 20.01

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…