Langsung ke konten utama

Celah,

Jangan pernah tanyakan tentang matahari dan bulan kepadaku. Jangan pernah tanyakan tentang hijau dan rindang. Tidak akan kuberikan jawaban jika itu kalian tanyakan padaku. Aku tidak mau menjawab, dan tidak akan pernah bisa menjawab. Apa kalian yakin mau menanyakan hal-hal itu padaku? Yang menjadi pertanyaan adalah kapan kalian akan menemuiku? Memangnya kalian tahu dimana keberadaanku? Aku terlahir, namun tak nampak. Tidak akan ada kesempatan kalian melihatku. Apalagi menanyakan hal-hal itu padaku. Aku mendengar segala hal yang kalian bicarakan. Aku melihat apa yang kalian kerjakan walau sedikit namun begitu sering.

            Yang kukira Tuhan tak mencintaiku karena Dia tak akan membiarkan aku mengenal kalian, ternyata tidak benar. Ada saja celah dimana Tuhan mengingatkanku untuk menyadari cintaNya padaku. Aku melihat sinar dari celah, Karena itu kubilang aku tak tahu tentang matahari dan bulan, sejak saat itu. Sungguh aku tidak pernah berkesempatan menatapnya secara langsung walaupun sekejap. Ketika kalian bersorak melihat bulan yang katanya purnama, aku hanya mendengar dan mengintip dari celah. Ketika kalian berbicara betapa panasnya hari ini, akupun tidak bisa merasakan. Ketika kalian sibuk mencari payung karena hujan, aku hanya mendengar rintik hujan dan mencium bau tanah yang tersiram hujan.

            Aku sedih, awalnya hanya karena keadaanku sendiri. Namun semakin hari aku semakin merasa sedih dengan keadaan kalian. Mengapa aku terlalu sering mendengar keluhan tanpa mohon ampun? Mengapa aku terlalu sering mendengar takjub tanpa syukur? Hanya itukah yang sering kalian berikan kepada Tuhan? Ah, sudahlah. Itu urusan kalian. Karena aku sudah tidak menjadi bagian dari apa yang kalian rasakan.

            Lembab, sunyi, sendiri, gelap. Hanya hal-hal itu yang paling aku mengerti. Sedangkan kalian? Kalian sesungguhnya tidak begitu mengerti, namun seolah selalu merasakannya. Ya, aku sering dengar kalian merasa sendiri, lagi-lagi dari celah. Aku sering heran, kalian merasa sendiri, lalu yang disekitar kalian itu patutnya disebut apa? Atau memang kalian tidak menganggapnya, ya? Satu hal lagi di mana adanya keluhan tanpa ampun. Jangan terlalu heran mengapa aku terlalu percaya diri mengungkapkan semua ini.

            Aku tidak pernah ingin ingat kejadian itu. Namun bagaimanapun itu hal paling kuingat dari segala penggalan hidupku, sebelum aku seperti ini. Menjadi sosok yang tahu kalian namun tidak kalian ketahui. Tidak semua orang pernah merasakan bagaimana berjuang. Jangan bicarakan berjuang untuk orang lain. Berjuang untuk kemerdekaan dirinya sendiri saja entah bagaimana. Aku sendiri, namun aku tidak pernah merasa lemah. Kuakui ini karena kalian. Karena aku terlalu sering melihat segala apa yang kalian lakukan. Dari kalian aku seringkali berpikir bagaimana aku lebih kuat dari kalian.
            Aku kuat tanpa memandang bulan. Aku kuat tanpa merasakan langsung terik matahari. Andai kalian selalu ingat bahwa itu adalah nikmat tiada terkira dari Tuhan. Ya, memandang bulan dan merasakan terik matahari. Aku lebih kuat dari kalian karena aku tidak mengeluh walaupun tidak merasakan nikmat-nikmat dari Tuhan yang kalian rasakan. Sedangkan kalian mengabaikan bahkan mengeluh karena nikmat Tuhan. Jangan pikir aku sombong. Sesungguhnya aku yang sombong atau kalian yang belum mengerti apa yang Tuhan berikan?

            Ah, aku mulai mengerti. Mungkin kalian belum mengerti karena belum melihatku. Orang yang suka mengeluh, bertemu dengan orang yang suka mengeluh juga. Kemudian berbagi keluhan. Ibaratnya yang lemah semakin lemah. Ironis sekali, ya. Sedih mengetahui realita yang terjadi pada diri kalian? Baru sadar? Kemana saja kalian selama ini? Terlalu silau karena nikmat hingga lupa diri, apalah artinya. Aku juga sering mendengar pertengkaran penuh cacian. “Kapan kamu mengerti aku?”, kurang lebih begitu kalimat yang sering kudengar dari berbagai pertengkaran.

            Aku semakin ingin tertawa. Sesungguhnya apa yang dimaksud ‘mengerti’? Antar dua manusia? Kalianpun belum tahu persis jawabannya? Tanyakan pada diri kalian sendiri. Jangan terlalu sering menanyakannya kepada orang lain. Coba pikirkan. Bagaimana bisa mengerti sesama manusia jika belum mengerti Tuhan? Mengerti apa yang sudah diberikan Tuhan? Sudah belum? Kalau belum, coba pahami dulu.

            Berbahagialah bagi kalian yang masih bisa menikmati semuanya hingga detik ini. Bersyukur, berbagi, apa ruginya? Kupastikan tidak ada ruginya. Tapi jika kalian tidak mensyukurinya, aku jadi bertanya-tanya. Jadi arti syukur itu apa untuk kalian?

            Seperti yang kukatakan tadi. Kalian tidak tahu aku, namun aku tahu kalian. Aku bukan lagi bagian dari kalian, sejak saat itu. Aku tidak pernah ingin mengingatnya. Namun bagaimanapun hal itu menjadi titik paling kuingat sekaligus mengerikan di sebuah fase dihidupku. Aku ingat betul usiaku 19 tahun waktu itu. Usia di mana aku tidak bisa menahan hasrat untuk menjadi anak muda yang aktif dan produktif. Apapun kulakukan sepanjang itu bisa kulakukan. Darahku bukan lagi milikku seutuhnya. Entah sudah berapa orang yang dialiri darahku. Tiga bulan sekali aku melakukan donor darah. Tidak bisa kupungkiri itu kenikmatan tersendiri. Baik untuk kesehatanku dan bermanfaat untuk hidup orang lain.

             Tidak ada yang aneh kan? Memang. Hingga suatu ketika saat aku melakukan donor darah, petugas PMI bilang ada yang tidak beres dengan darahku. Aku kaget karena aku tidak merasa sedang sakit saat itu. Petugas bilang, darahku harus dibawa ke laboratorium dan untuk mengetahui hasilnya aku harus menunggu paling tidak dua hari. Rasa heran dan ingin tahupun selalu menyeruak karena baru kali itu ada yang tidak beres dengan darahku.

            Hingga aku dihubungi dan diminta datang ke Rumah Sakit dimana darahku di tes. Aku berangkat dengan santai karena kepercayaan bahwa semuanya baik-baik saja. Aku bertemu dengan seorang dokter dan dia memegang sebuah amplop yang kuyakini hasil tes darahku.
“Mbak Evi, ya?”
“Iya, Dok. Gimana hasil tes darahnya? Baik-baik saja kan?”
“Mari keruangan saya”
            Kemudian dia menuju ruangannya dan aku mengikuti dari belakang. Ada rasa takut yang tiba-tiba hadir. Semakin bertanya-tanya ada apa sesungguhnya. Dokter itu seperti berusaha menenangkanku dengan basa-basi terlebih dahulu. Aku sudah terlanjur enggan panjang lebar penuh basa basi.
“Terlalu lama basa-basi. Jadi bagaimana hasil tesnya?”
“Sebelumnya saya ingin bertanya. Maaf sebelumnya. Mbak ini ada riwayat memakai narkoba?”
            Seperti disambar petir dan ditampar ramai-ramai aku mendengarkan pertanyaan itu.
“Enggak, Dok. Saya nggak pernah dan nggak sedang memakai narkoba”
“Tapi Mbak positif HIV/AIDS”

            Jika diperkenankan untuk mati, aku lebih memilihnya saat itu. Ini tidak pernah aku bayangkan. Semua orangpun aku yakin enggan membayangkan hal macam ini. Sudah tidak sampai aku berpikir ini lelucon. Berulang kali aku menanyakan kepada Dokter tentang hasil tes itu. Berulang kali pula dokter meyakinkan bahwa memang benar aku positif HIV/AIDS. Aku hanya bisa pulang tanpa berani memikirkan hal-hal lain. Hasil tes itupun hanya kugelenterkan di meja makan.
            Seisi rumah membacanya. Aku yang murung dikamar hanya bisa diam ketika mereka mencaci. Mereka menanyakan bagaimana bisa hal itu terjadi. Bagaimana aku mau menjawab jika akupun tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi, apa penyebabnya? Dititik inilah aku menjadi bagian dari kalian. Mengeluh tanpa mohon ampun. Sebagai manusia seharusnya aku mohon ampun apapun yang terjadi. Tak perduli bagaimana awalnya hal ini bisa terjadi. Demi Tuhan aku tidak pernah menyentuh narkoba.

            Ini bisa saja terjadi karena kurang telitinya petugas saat aku mendonorkan darah. Jarum yang tidak steril tentu dengan mudah menularkan sebuah penyakit. Tak terkecuali HIV/AIDS. Seisi rumah benar-benar marah dan tidak terima. Mereka mencaci tanpa ingat bagaimana seharusnya mereka percaya kepadaku. Tanpa pikir panjang, sejak saat itu aku harus berada di gudang sepanjang waktu. Dikurung, berteman dengan rantai yang diikat dikakiku.

            Coba pikirkan, apa yang terjadi padaku mungkin klise. Tetapi kalianpun terlalu klise jika tidak bersyukur, banyak mengeluh, dan merasa sendirian hanya karena merasa Tuhan tidak adil. Aku tidak diijinkan keluar dan memang tidak bisa keluar dari gudang. Dirantai, makan dan dikurung layaknya tahanan. Mereka khawatir aku menyebabkan keluargaku menanggung malu. Kepada semua orang mereka bilang aku melanjutkan pendidikan di luar negeri. Ironis memang. Tidak sesuai sama sekali dengan apa yang sebenarnya terjadi.

            Tidak mudah untukku bangkit kemudian menerima apa yang terjadi. Bukan aku tak mau berontak. Namun aku begitu bersyukur, segelap apapun duniaku sekarang, Tuhan begitu dekat. Aku diijiinkan belajar dari kalian yang diberi kesempatan merasakan nikmat namun tak bersyukur, dan Tuhan mengijinkanku menjadi sosok penuh gelap tanpa harap namun tetap bahkan semakin kuat.

            Sejak usia 19 tahun aku menjalani semua ini dan sekarang usiaku menginjak 25 tahun. Jika aku yang sendirian masih bisa bersyukur ditiap celah yang Tuhan berikan kepadaku, lalu kalian?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…