Langsung ke konten utama

Over Size, Over Think, and Over Heart

  Punya badan over size sedari lahir sering membuatku merasa benci tetapi tidak tahu harus benci kepada siapa. Jelas dosa jika benci kepada orang tuaku. Paling tidak aku harus ingat betapa beruntungnya aku masih bisa diberi makan oleh mereka (walaupun kelebihan) sedari kecil.
“jadi dulu, mbah yi itu udah nyuapin adonan pisang waktu kamu umur 2 bulan. Mungkin gara-gara itu ususmu jadi melebar”. Canda Ibuk.

                Geli ketika mendengar, tetapi merasa bersyukur. Ibuk juga bilang, aku anak yang paling nggak doyan susu. Jarang sekali minum ASI, apalagi susu formula. Yah, disaat para orang tua bingung membeli susu untuk anaknya tiap seminggu sekali, orang tuaku agak bernapas lega. Walaupun pasokan pisang harus lebih tinggi. Mbah yi memang punya peran besar dalam hidupku. Dirumah, apa-apa sama Mbah Yi, sampai beliau meninggal.

                Ternyata sampai besarpun, tabiat over size ini belum juga hilang. Sedari TK aku selalu dituakan. Kemana aku pergi disitulah teman-teman mengikuti. Entah mereka takut kalau aku giles atau bagaimana, yang jelas waktu TK aku merasa punya bodyguard karena banyak teman lelaki yang main bersamaku. Dan perlu diketahui, badan mereka jelas lebih kecil daripada aku.

                Kelas 6 MI (setara dengan SD), aku dipilih menjadi wakil ketua panitia perpisahan. Seperti acara-acara pada umumnya, di perpisahan itupun ada sambutan dari panitia. Dan yang mencengangkan adalah aku yang diminta untuk maju berbicara memberikan sambutan dihadapan ketua yayasan, kepala sekolah, dan seluruh teman-teman beserta walinya.

“Rizka, besok kamu saja yang maju memberikan sambutan”, begitu kata kepala sekolah saya waktu itu.
“Lho, saya cuma wakil bu. Kenapa nggak ketuanya saja?”
“Kan badan kamu lebih besar. Ketua panitianya kecil. Nanti nggak kelihatan”.

                Jelas alasan itu membuatku sedih dan terbebani pada awalnya. Waktu itu adalah pertama kali aku bicara dihadapan umum selain membaca Undang-Undang Dasar atau menjadi Master Of Ceremony ketika upacara. Aku harus memberikan sambutan, dan teks sambutan itu harus dariku sendiri. Bayangkan bagaimana rasanya. Selama seminggu aku menulis teks sambutan, kemudian ku serahkan kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk dikoreksi. Selama satu minggu pula aku harus belajar berbicara penuh wibawa dan tidak terpaku pada teks. Perjuangan sangat berat waktu itu.

                Tetapi sejujurnya ada rasa bahagia ketika mengingat peristiwa tersebut. Betapa baiknya Tuhan, sedari kecil aku sudah diberi kesempatan untuk belajar menulis, tampil, dan berbicara dihadapan umum. Apalagi dihadapan para petinggi yayasan. Dituntut tampil resmi dan penuh wibawa menjadi pelajaran yang membuat saya semakin merasa beruntung.

                Tidak berhenti disitu, ketika MTs aku dipaksa untuk mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Waktu itu saat pelajaran sejarah, wakil kepala bidang kesiswaan memanggilku ke kantor guru. Jelas ruangan itu dipenuhi para guru (yaiyalah). Tanpa basa-basi beliau langsung menyodorkan formulis calon ketua OSIS. Dengan sekuat tenaga aku menolak.

“Tapi saya nggak minat, Bu. Nggak mau”.
“Guru-guru itu maunya kamu mencalonkan diri”.
Ruangan sejenak hening.
“Kamu itu nggak usah GR. Nggak ada yang menjamin kamu bakal kepilih.”

                Kalo boleh suwer sesuwer-suwernya, waktu itu rasanya aku ingin marah tetapi tidak bisa. Dikatakan GR untuk hal yang tidak aku minati, apa bahagianya? Dituntun tanganku untuk mengisi formulir tersebut dan dengan penuh rasa sesak di dada akhirnya kuisi juga. Rasa khawatir jelas selalu muncul setiap hari sejak peristiwa itu.

                Benar saja, ketika penghitungan suara, aku berhasil lolos untuk tidak terpilih. Hanya beda tiga suara dengan calon pertama. Syukur tiada terkira dan betapa bahagia karena akhirnya aku hanya menjadi wakil ketua OSIS. Lagi-lagi masalah ukuran badan, orang diluar seringkali mengira akulah yang menjabat sebagai ketua OSIS.

“Ya dia kan badannya besar. Kelihatan gagah. Pantes lah kalau jadi ketua”.

                Kalau sebelum-sebelumnya ada rasa sesak karena selalu dihubungkan dengan ukuran badan, kali ini aku hanya tertawa. Ukuran tidak menjamin jabatan, Bung!

                Semakin bertambah umur, semakin besar badan, semakin besar hasrat membuktikan bahwa over size juga penuh isi dan manfaat. Ini bukan karena merasa diremehkan, tetapi mulai lelah di anggap segala sesuatu dengan pertimbangan ukuran badan. Memang kalau oversize kenapa, sih? Salah ukuran badan? Isi otak dan hatinya masih benar, kok.

                FYI (For Your Information) nih, sejak MI dan MTs aku bersekolah di satu yayasan yang sama. Ketika lulus dari MTs, akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke SMA Negeri. Alasannya? Alasannya karena aku khawatir dipaksa lagi dan lagi untuk mengikuti berbagai macam organisasi. Sedari kelas satu sampai kelas tiga MTs, aku tidak pernah lepas dari organisasi dalam maupun luar sekolah. Menjabat sebagai wakil ketua OSIS dan ketua PMR diwaktu yang bersamaan sejujurnya cukup menguras tenaga dan menimbulkan jenuh. Belum lagi ketika teman-teman yang lain sibuk mempersiapkan Ujian Nasional, aku masih saja aktif menjadi pengurus PMR PMI Cabang di Kota ku. Ini sangat melelahkan.

                Lagi-lagi aku merasa salah. Kali ini salah memilih sekolah. Di SMA pun, aku tidak bisa lari dari kegiatan-kegiatan itu walaupun sudah sering berdiam diri di kelas dan menekan hasrat banyak tingkahku. Ternyata ada kakak kelas sewaktu MTs yang mengenaliku dan dengan PD nya merekrutku menjadi pengurus Ikatan Remaja Musholla di sekolah.

                Mengetahui bahwa sedari MTs aku sering menjadi pembawa acara di berbagai kegiatan, waktu pertama kali menampakkan diri di acara re-organisasi Ikatan Remaja Musholla pun dia langsung dengan semena-mena memintaku menjadi pembawa acara. Urat maluku rasanya harus benar-benar kusimpan dan lagi-lagi aku harus menampilkan diri. Sejak saat itu gerak-gerikku lagi-lagi tidak aman. Mau bersembunyi dimana, badan sebesar ini tetap akan terlihat dimanapun dan kapanpun (ah, lagi-lagi karena over size).

                Ketua OSIS SMA waktu itu mulai menjadi sosok yang merekrutku kesana kemari. Diikutkan ini dan itu. Dan sejujurnya hal tersebut membuat hasrat untuk aktif kembali berkibar, sampai puncaknya adalah ketika kelas dua. Hawa-hawa pencalonan ketua OSIS mulai memanas dan aku mulai mencari cara agar tidak direkrut lagi, dijebloskan untuk mencalonkan diri menjadi ketua OSIS.

                Ada celah kecil yang bisa aku ambil waktu itu agar tidak diminta mencalonkan diri menjadi ketua OSIS tetapi tetap berkontribusi untuk sekolah. Dengan PD nya aku mencalonkan diri menjadi ketua MPK padahal aku tidak tahu organisasi apa itu. Parahnya, aku terpilih menjadi ketua MPK. Ternyata secara struktural MPK mempunyai tanggung jawab untuk mendampingi ketua OSIS dalam menjalankan segala kegiatan dan mengambil keputusan. Lepas dari OSIS nyatanya malah aku memilih jalan lebih tinggi dari itu. Nasib sungguh nasib.

                Menjabat sebagai ketua MPK, membuatku tidak bisa lepas (lagi) dari segala hal. Sampai akhirnya mantan ketua OSIS periode sebelumnya mengatakan.

“Kamu itu gimana sih, Ndut! Harusnya kamu masuk OSIS. Malah masuk MPK”.
Dan karena merasa bersalah akhirnya aku berjanji kepada ketua OSIS periodeku. Itu aku lakukan juga agar dia mau mencalonkan diri.
“Pokoknya siapapun yang jadi ketua OSIS, aku pasti bantuin”.
Dan janji itu ditagih berkali-kali dan membuat akupun ikut terlibat dalam segala kegiatan OSIS. Lagi-lagi ini nasib.

                Terlepas dari kegiatan-kegiatan itu, ada yang mengesankan ketika SMA. Di kelas, teman-temanku selalu menyapaku dengan panggilan “Ibuk”. Untuk kesekian kalinya ini karena over size. Ah, lagi-lagi. Panggilan itu sangat berpengaruh terhadap peranku dikelas. Tiap ada masalah, rujukan pertama pasti aku. Konsultasi apa-apa, aku lagi dan aku lagi.

“Ya udah coba konsultasi sama Buk Ndut”.
“Kenapa musti aku, sih? Yang lain kan bisa ngasih pendapat”.
“Yah kamu kan yang paling besar dan dituakan”.

Tidak bisa dipungkiri ini karena over size (untuk kesekian kalinya). Pernah suatu ketika ada permasalahan yang membuat kekompakan kelas kami benar-benar di uji. Salah paham yang terlalu meluas membuat masalah tersebut jadi sulit untuk cepat diselesaikan. Mau tidak mau harus ada satu orang yang berbicara di depan untuk menyediakan forum diskusi agar semua terselesaikan. Lagi-lagi aku ditunjuk banyak pihak dari berbagai kubu.

“Udah, Buk Ndut aja yang ngomong. Pasti semua mau dengerin”
“Aku lagi aku lagi. Yang lain lah!”.
“Kalau nggak Buk Ndut yang ngomong pasti nggak mau perhatiin”.

                Okey, kesempatan itu aku gunakan untuk melepas kegerahan segala beban pikiran karena selalu dianggap lebih dewasa pemikirannya. Setelah berbicara panjang lebar tentang permasalahan yang terjadi, akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara.

“Aku nggak melarang kalian manggil aku Ibuk, dan menganggap aku lebih dewasa. Tapi tolong, jangan karena merasa aku lebih dewasa, kalian jadi nggak berani menegur kalau kalian merasa aku punya salah dan sikapku kurang benar. Sedawasapun aku dihadapan kalian, aku ini tetap sama seperti kalian. Seumuran dengan kalian, dan punya egoisme yang tidak jauh berbeda dengan kalian”.
Semuanya diam, dan hanya mengangguk. Ah, aku lega bicara apa yang aku rasakan.

Itu baru urusan kelas. Jangan salah, urusan hatipun banyak yang memilihku menjadi sandaran kisah. Tiap hari ada saja yang bercerita apapun dan dimanapun. Tapi mereka lebih akrab menyapaku dengan sapaan “Mbak Ndut”. Zaman SMA, karena pengaruh jabatan sebagai ketua MPK pula lebih dikenal dengan sapaan itu. Lebih mudah mereka menyapaku begitu karena waktu itu ada 5 orang yang punya nama “Rizka” (okey, aku harus menyadari namaku pasaran).

“Rizka yang mana sih?”
“Itu, Mbak Ndut”.
Pasti jawabannya langsung “oooo”
Atau ketika ada acara di sekolah dan butuh MC dadakan.
“MC nya siapa nih?”
“Ya udah Mbak Ndut aja”.

Jadi aku sering dapat job dadakan karena sapaan Mbak Ndut yang kesekian kalinya bawa-bawa badan. Karena  aku over size. Kalau ditanya bagaimana rasanya dapat job karena sapaan itu, jelas bahagia. Mengasah kemampuan berbicara dan tampil dihadapan umum merupakan salah satu bukti bahwa oversize membawa berkah. Siapa yang mau memungkiri kalau aku sudah menceritakan hal sepeti ini? mau meremehkan ukuran badan lagi? Sampai kalau di sosial mediapun, teman-teman atau adik kelas sewaktu SMA yang di dunia nyata tidak pernah saling menyapa dan mengenal, bisa dengan enak memanggil “Mbak Ndut”. Lagi-lagi karena over size mereka jadi lebih mudah mengenal saya. Saya lebih bahagia :)
Dan sekarang, ketika menempuh pendidikan di kota orang, dipertemukan dengan sosok-sosok baru, ada pemikiran bahwa aku akan terlepas dari berbagai panggilan itu. Tapi lagi-lagi, salah. Jika dulu orang-orang memanggil Ibuk, yang sekarang justru lebih kece. Aku dipanggil “Emak”. Udah, nggak perlu ketawa. Ini nggak lucu tapi membahagiakan.

“Emak, curhaaaat!”.
“Emaaaaak, peluuuuk”.
“Emaaaakkkk!”.

Tidak ada hari tanpa kata “Emak” di Kost. Ini panggilan dari teman-teman kost untukku. Yang lebih istimewa adalah panggilan itu bukan hanya menjadikanku tempat bersandar mereka, tetapi juga tempat bermanja-manja. Pokoknya kali ini memang aku ibarat berlatih menjadi Ibu.

“Emaaaak. Mau maem. Suapin…”

Nggak usah ketawa. Ini nggak lucu, tapi membahagiakan.

                Biarpun aku dipanggil Emak dan Ibuk karena over size, tapi sejujurnya itu menjadi energy tersendiri untuk mau belajar menjadi sosok yang mereka inginkan. Mereka memanggilku begitu, paling tidak artinya mereka merasa nyaman ketika dekat dan berbagi denganku, tidak jauh sebagaimana mereka nyaman di dekat Ibunya yang di rumah.

                Biarpun aku dipanggil Emak dan Ibu karena over size, artinya aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk belajar menjadi sosok Ibu yang baik, dan outputnya untuk anakku kelak. Aku diberikan kesempatan untuk belajar lebih dewasa dan berpikir 10 langkah lebih depan dari pada yang lain. Menjadi tempat curahan hati mereka, artinya aku diberi kesempatan untuk belajar mengendalikan hati dan perasaan lebih prima.

                Bahagia dipanggil seperti itu karena tidak semua perempuan diberi kesempatan untuk belajar dewasa lebih cepat. Tidak semua perempuan mendapatkan panggilan yang pada umumnya diberikan kepada orang yang lebih tua bahkan panggilan itu juga digunakan untuk menyapa orang yang sudah mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak. Panggilan terhormat untuk seorang perempuan.

                Aku pernah membaca sebuah novel karya Mas Donny Dhirgantoro. Disitu, tokoh Herry pernah bilang “Orang gendut itu hatinya juga besar”. Sejujurnya kalimat itu sangat memotivasiku agar mempunyai hati lebih besar daripada orang lain. Menyikapi segala hal dengan lebih sabar dan berbesar hati.
                Aku memang over size. Jika hal itu sesuatu yang salah, paling tidak selain over size aku juga over think, and over heart. :)
Kupersembahkan untuk semua orang yang pernah mengenalku sebagai siapapun

Komentar

  1. aaaahhhh :') *peluk*

    karena kmu pertama manggil aku mbk broh.. jadi aku juga manggil kmu adik broh.. sampe nama contac di hape jugaaa hahaaa.. (FYI)

    sering dipanggil emak atau mak, mungkin karena kita bisa ngasih solusi atau meringankan masalah mereka, bahkan hanya sekedar mendengar keluh kesah saja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. and I'm happy to hear that.thanks, brohh *peluk*

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…