Langsung ke konten utama

The Power Of Two (Love)

  Dalam mata kuliah media pembelajaran, saya diajarkan tentang the power of two “kekuatan berdua”. Maksudnya adalah tentang bagaimana dua orang mendiskusikan tentang sesuatu untuk dibuat sebuah rumusan. Ternyata, dalam kehidupan nyatapun the power of two sangat dibutuhkan. Lagi-lagi ini tentang dua orang manusia. Menguatkan dan dikuatkan. Mengasihi dan dikasihi walaupun tidak berharap balasan dari tiap mengasihi orang lain. Mencintai, dan dicintai.

            Belum ada yang bisa memungkiri bahwa cinta memang membutuhkan the power of two untuk mendapatkan proses serta output yang maksimal. Mungkin ini terlalu sulit dipikirkan, karena orang sudah terlalu menerima bahwa cinta adalah rasa. Bukan mata, apa lagi teori. Pandangan bahwa cinta adalah tentang rasa akhirnya seperti menghalalkan dan menyetujui bahwa logika dalam cinta tidak lagi menjadi yang utama karena nyatanya banyak yang logikanya dikalahkan oleh rasa. Astaghfirullah..

            Padahal banyak firman Allah yang mengutamakan orang-orang yang berakal. Artinya, dalam Islampun akal (yang berkaitan dengan logika) sangat diperhatikan. Misalnya  "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang ber akal (menggunakan pikirannya)." (QS. Yuusuf, 12: 111)

            Dalam ayat tersebut secara tidak langsung disampaikan bahwa orang-orang yang mampu mendapat pengajaran adalah mereka yang berakal dan menggunakan pikirannya. Jadi, logika manusia tetap selalu mempunyai peran utama.

            Kembali lagi dengan cinta. Banyak yang berharap bahwa dalam sebuah cinta, logika dan rasa menjadi dua hal yang bisa melengkapi (walaupun sampai sekarang masih banyak yang tidak seimbang). Padahal dalam sebuah hubungan, salah satu kekuatan the power of two (dalam cinta, ini tentang pihak perempuan dan laki-laki) akan menuai manfaat tentang keseimbangan logika dan rasa karena keduanya akan saling mengingatkan tentang hal tersebut.

            Ketika pihak laki-laki berusaha menenangkan pihak perempuan yang sedang bimbang, secara tidak langsung hal tersebut adalah cara sang lelaki mengingatkan dan mencoba mengajang pihak perempuan untuk ingat akan keseimbangan dan rasa. Tidak jarang, dalam cintapun ada yang namanya perselisihan, rasa sensitive antara satu sama lain, dan perbedaan pendapat.

            Jalan keluar yang paling indah adalah ketika salah satu pihak ada yang mau mengalah dan tetap selalu mengungkapkan pikiran dan rasa tentang bagaimana caranya membawa permasalahan tersebut agar bisa dibicarakan bersama tanpa emosi yang meledak-ledak, dan tetap penuh dengan rasa sayang. Orang sering bertanya, “kenapa harus mengalah? Sampai kapan mau mengalah? Apa tidak takut ditindas?”

            Lagi-lagi manusia memang senang sekali suudzon (tanpa kita sadari). Mengapa yang selalu disorot adalah dampak buruknya? Hal seperti itu menjadikan kita lupa bagaimana menanggapi masalah dengan berpikir positif. Pernahkah ada yang berpikir bahwa ketika ada pihak yang mengalah dalam sebuah masalah, justru hal tersebutlah sisi lain the power of two. Mengapa demikian? Karena pihak yang mengalah berusaha untuk mengantisipasi pergolakan yang akan lebih mengkhawatirkan. Pihak yang mengalah justru merupakan penyeimbang ketika terjadi perselisihan dalam hubungan percintaan. Bukan hanya agar perselisihan tersebut cepat berakhir, namun juga mengingatkan satu sama lain dengan tetap penuh rasa sayang.

            Cinta yang indah adalah ketika kedua pihak mampu menempatkannya sebagai ajang untuk lebih memahami satu sama lain. Belajar mengungkapkan emosi tanpa harus meledak-ledak dan melukai orang lain (dalam hal ini pasangan). Dan belajar untuk saling mengingatkan. Betapa besar manfaat the power of two sekalipun dalam urusan cinta. Ya, karena cinta adalah ‘kita’. Bukan ‘aku’ atau ‘kamu’.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…