Langsung ke konten utama

Untukmu, Mbak

 Betapa Tuhan memang Maha Baik. Ia mengijinkanku lahir dari seorang makhluk, dan nantinya akupun akan melahirkan makhluk. Mengajarkan bahwa manusia ada untuk saling mendengar dan membaca satu sama lain. Bahwa kita tidak bisa terus berbicara dan menulis. Memberi kesempatan orang lain berbagi. Bukan hanya membagi apa yang kita rasakan pada orang lain. Ketika aku dilahirkan sebaga seorang perempuan yang terlahir menjadi anak terakhir dari Ayah dan Ibuku. Kedua kakakku yang jeda usianya cukup jauh dariku. Aku terlahir ketika kakak perempuanku berumur 15tahun dan kakak laki-lakiku berusia 12tahun.

                Sekarang umurku 4tahun. Dimanjanya aku, ditimang selalu. Kasih sayang begitu besar dan meluap ada ditiap titik dan celah hidupku. Ketika yang lain pusing memikirkan hidup, uang, dan kedudukan, aku masih asik dengan dunia bermainku. Orang tuaku mengemas duniaku semasa kecil dengan memberi pelajaran-pelajaran yang begitu berarti. Mereka berharap aku bisa menyerap semua yang diberikan dengan dalih otakku yang masih kuat sehingga energinya harus digunakan dengan baik.

                Aku bahagia, kakak-kakaku merasa aku adalah anak yang cerdas dibanding mereka. Mereka selalu menganggapku sebagai hiburan dirumah. Mereka tertawa ketika bertemu aku yang lucu, melepas penat dan beban diluar sana. Seringkali aku bermain sendiri dengan barang-barang indah yang diberikan Ayah Ibuku. Kumainkan semua hingga aku bosan. Dan ketika aku bosan, aku bisa melempar barang-barang itu semauku dan tiada yang tega memarahiku karena apa yang aku lakukan.

                Mbak Ika, kakak pertamaku yang seorang perempuan adalah mahasiswi sebuah universitas di Semarang. Ia seringkali membelikanku buku ketika pulang kerumah. Katanya, buku-buku itu untukku belajar. Ia tak tahu bahwa aku masih sibuk bermain. Belajar adalah ibarat pekerjaan sampingan buatku. Ia mungkin sering lupa, anak sepertiku yang usianya masih 4tahun belum mau belajar. Duniaku adalah bermain dan bermain.

                Kak Fahri, kakak keduaku yang seorang laki-laki adalah seorang siswa SMA yang pendiam dan paling dekat denganku karena anak Ayah dan Ibu yang dirumah hanya aku dan dia. Emosinya sering meninggi ketika melihat aku membuang mainan yang sudah bosan kumainkan. Ia sering menasehatiku dengan kata-kata yang tak sepenuhnya kumengerti dan sependengaranku, kata-kata itu bukan menasehati namun memarahi.
Adek, jangan nakal. Kakak kan capek bersihinnya. Bersihin sendiri.”

                Aku tidak mengerti mengapa orang dewasa menganggap kata-kata seperti itu sebagai nasehat. Bagiku yang masih 4tahun, itu bentakan dan artinya ia tidak menyukaiku. Ia tidak tahu bagaimana aku bosan dengan mainan-mainan yang itu-itu saja. Aku bosan bermain dengan barang-barang yang tak bisa bicara. Ketika aku bermain pura-pura sebagai penjual makanan, aku berbicara sendiri tanpa ada yang menjawab perkataanku. Aku bermain dengan benda mati padahal disekitarku adalah makhluk hidup.

                Ketika Ibu mengajakku mandi, aku sering terlalu sibuk dengan mainanku. Ibu sering bilang, “Adek, yuk mandi. Nanti mandinya sambil main”. ibu terlalu sabar ketika sudah membujukku dengan hal seperti itu namun aku tak berkutik. Ah, Ibu.. Aku hanya ingin bermain. Bermain sesuka hatiku. Mandi adalah nomer sekian untuk kujalankan. Aku sering melihat Mbak Ika membicarakanku bersama Ibu. Ibu begitu bahagia ketika menceritakan apa saja perkembanganku pada Mbak Ika. Aku tak sepenuhnya mengerti. Namun aku bahagia Ibu membicarakanku penuh senyum. Alhasil aku hanya bisa senyum khas anak umur 4tahun.
“Bu, Adek itu belum boleh dipaksa untuk belajar. Usia 4tahun itu masih usia bermain. Begitu kata dosenku”

                Aku pernah mendengar Mbak Ika bicara begitu. Ah, Mbak. Andai Mbak sering dirumah. Aku ingin ditemani bermain. Kak Fahri tidak bisa kuajak bermain seperti Mbak Ika. Sungguh, aku ingin memberitahu Mbak tiap hal yang aku jalani. Siapa saja yang aku temui. Kata orang, aku mirip Mbak. Mulai terlihat punya bakat bicara dan anak perempuan yang berani.

                Mbak, maafkan aku. Buku-buku yang Mbak belikan hanya aku coret-coret. Aku belajar menghitung hanya ketika bersama Bunda-Bunda di sekolah. Ketika dirumah, aku ingin ditemani Mbak. Mbak mengajarkanku bagaimana mengukir cita-cita. Ketika anak-anak umur 4tahun sepertiku sibuk merengek minta mainan, aku hanya ingin bersama Mbak. Kalau Mbak tidak bisa terus pulang, biarlah nanti aku yang menyusul Mbak.
“Mbak, si Adek itu kok minta sekolah SD di Semarang. Katanya mau sama Mbak Ika”.
“Yasudah, Bu. Biar nanti dia SD di Semarang. Biar Ika yang ngurus. Jika itu maunya”.

                Mbak, aku sedih ketika Ibu hanya diam mendengar Mbak Ika bicara begitu. Mbak tentu sering melihat aku lonjak-lonjak girang ketika mendengar Mbak mau jika aku sekolah di Semarang. Dekat dengan Mbak Ika.
“yeyeyeye. Aku SD di semarang sama Mbak Ika”.
Aku hanya bisa selalu bilang seperti itu. Mbak, aku ingin ditemani Mbak Ika. Aku butuh didengarkan. Aku butuh penerang jalan.

                Cita-cita bukan hal asing untukku. Itupun karena Mbak yang rajin bertanya “Adek cita-citanya mau jadi apa?”. Aku selalu menjawabnya dengan banyak hal yang berganti-ganti. Kadang Polwan, Koki, Guru, Model. Tapi Mbak Ika selalu menjawab dengan arahan-arahan yang semakin membuatku semangat dan dekat dengan cita-cita yang harus kuwujudkan.

                Mbak, aku anak-anak yang butuh ditemani kesana kemari dan begini begitu. Bukan dikawal boleh kesini dan tidak boleh kesitu. Aku yakin Mbak tahu, dan terimakasih. Aku merasa menjadi anak umur 4tahun paling bahagia.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…