Langsung ke konten utama

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)


                Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang menghadirkan beliau sebagai narasumber. Padahal di Jogja ini gudangnya Seminar Nasional dan beliau sering dijadikan narasumber (poor you, Rizka).

                Kemudian, saya menemukan pengumuman diadakannya “Lomba Menulis Surat Dahlan” oleh penerbit Noura Books (yang menerbitkan novel Sepatu Dahlan). Begitu melihat hadiah yang ditawarkan, tanpa basa-basi saya berikrar dalam diri, “Kuwe kudu melu iki, Riz! (kamu harus ikut ini, RIz!)”. Apa hadiah yang ditawarkan?

                Ada beberapa hadiah (yang rasanya saya ga perlu sebutkan semua). Tapi salah satu hadiahnya adalah “Di undang launching novel Surat Dahlan (sekuel Sepatu Dahlan), makan dan berfoto bersama Pak Dahlan Iskan”. Yup, hadiah itu yang sesungguhnya saya bidik. Akhirnya saya menulis surat untuk beliau dan saya kirimkan ke Noura Books. Setelah periode pengiriman selesai, ternyata ada 300 orang lebih yang ikut lomba ini juga.

                Sekitar satu bulan kemudian, akhirnya diumumkan 20 besar yang lolos ke tahap seleksi selanjutnya. Dan nama saya ada di urutan 11 dari 20 nama yang terpampang di website Mizan (Noura Books adalah anak penerbit Mizan). Belum senang, rasanya. Justru yang saya rasakan adalah gemetar dan deg-degan berlebih. Waktu mengikuti lomba itu, saya sengaja diam saja. Tidak bercerita kepada siapapun kalau saya sedang ikut lomba menulis surat untuk Pak Dahlan Iskan. Ketika pengumuman 20 besar pun saya hanya bercerita kepada dua orang teman saya.

                Kira-kira satu minggu kemudian (waktu itu saya sedang jadi panitia makrab), saya coba cek website Noura Books dan ternyata sudah diumumkan 3 pemenang Lomba Surat Dahlan. Amazing, saya meraih juara 3! Yang terbayang pertama kali adalah saya akan bertemu orang yang saya kagumi, berbincang dengan dia. Andai saya boleh berharap lebih, saya ingin sekali diberikan waktu untuk berdialog dan berdiskusi dengan dia tentang Indonesia, tentang kepemimpinan, dan masih banyak lagi (semoga itu terkabulkan).

                10 Februari nanti, saya akan bertemu beliau di Jakarta. Betapa Allah memang Maha Baik, ternyata hadiah tidak berhenti sampai disitu. Saya dihubungi pihak Noura Books dan diberikan kesempatan mengikuti “Noura Books Academy (NBA)” (program writing camp yang pendaftarnya 200 orang lebih dan yang berhak ikut hanya 10 orang. Saya secara otomatis bisa ikut acara ini karena menang Lomba Surat Dahlan). Betapa saya merasa beruntung dan diberikan jalan untuk mewujudkan mimpi menjadi penulis (saya bercita-cita menerbitkan buku sebelum usia 20 tahun). Saya diminta membuat kerangka novel (waktu itu hanya dalam jangka waktu 2 jam) untuk diberikan kepada pihak Noura.

                15 Desember 2012, akhirnya saya mengikuti NBA dan bertemu banyak orang luar biasa. Dipertemukan dengan 9 orang peserta lainnya (yang ternyata pengalaman menulisnya jauh lebih banyak daripada saya), kru Noura, dan 3 mentor keren. Mereka adalah para penulis teenlit yang dulu semasa MTs dan SMA novelnya sering saya baca. Mbak Orizuka, Mbak Primadona Angela, dan Mas Tasaro.

                Ini lebih dari indah. Saya bukan hanya bertemu mereka tetapi juga mendapatkan banyak ilmu menulis dari mereka (di note berikutnya InsyaAllah akan saya share). Kami ber-10 diberi waktu 30 hari untuk menyelesaikan novel yang sudah kami buat kerangkanya, dan setiap 1 minggu sekali kami diberi kesempatan untuk konsultasi naskah kepada masing-masing mentor (kami ber-10 dibagi 3 kelompok dengan mentor berbeda. Saya berkesempatan konsultasi dengan Mbak Donna). Dan 3 naskah terbaik akan diterbitkan oleh Noura (ini mimpi saya dari dulu, bikin novel).

                Menulis novel selama 30 hari, jumlah halaman minimal 200, genre romantic teen (sumpah, sebelumnya saya nggak pernah sama sekali nulis tentang percintaan remaja). Tantangan ini jelas sempat membuat saya tertatih. Tetapi saya selalu ingat bahwa tantangan kali ini adalah wadah dimana saya bisa keluar dari zona nyaman. Mengapa? Karena saya diberi kesempatan menulis sesuatu yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Novel yang saya tulis berjudul “Hot Chocolate” (unyu banget ya judulnya).

                Deadline pengumpulan draft akhir adalah tanggal 15 Januari (tepat 30 hari sejak tanggal 15 Desember). Rasanya jelas lega. Akhrinya saya bisa membuktikan kalau saya bisa menulis novel (walaupun belum tentu lolos) dan menulis sesuatu yang belum pernah saya tulis. Selanjutnya, jelas saya dan 9 peserta lainnya di landa rasa penasaran. Kemarin (21 Januari) saya diberikan “kode” oleh salah satu kru Noura.

“Selamat yo, kutunggu cokelat panas buatanmu.” Begitu kata dia via mention di twitter.
“Iya, doain lolos ya.” Saya membalasnya dengan polos dan masih terus berharap.

                Tiba-tiba dia mengirimkan direct message ke twitter saya. “Aku udah pakai kata selamat lho itu”. Sontak saya kaget. Saya lolos! Tetapi itu baru kata dia. Saya nggak mau terlalu percaya sebelum pengumuman resmi benar-benar ada. Akhirnya sore tadi, keluar juga pengumuman yang kami tunggu. Alhamdulillah, novel pertama saya “Hot Chocolate” lolos 3 besar dan akan diterbitkan Noura Books. Mimpi saya untuk menerbitkan buku sebelum usia 20 tahun tercapai. Berkat dukungan teman-teman semua yang selama ini sudi membaca tulisan-tulisan ‘absurd’ saya. Terimakasih, semuanya. Terimakasih, Allah. Terimakasih, Noura Books. Terimakasih, teman-teman (yang dukung dan sudah mau jadi ‘first reader’). Sampai jumpa 10 Februari nanti, Bapak Dahlan Iskan.

cek ini : http://nourabooks.blogspot.com/2013/01/pengumuman-3-besar-nourabooks-academy.html

Jangan lupa beli dan baca ya hihi *tetep promosi*

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…