Langsung ke konten utama

Menteri Itu Mencintai Guru SD

Menteri itu mencintai Guru SD

            Dipertemukan dengannya, melihat wajah yang selama ini hanya mampu ku lihat dari media, buku, dan televisi, dan mendengar suaranya. Keadaan tersebut nyaris membuatku gugup, tak mampu berpikir apa yang harus ku lakukan. Padahal jika aku mau, bisa saja aku menyapanya kemudian memperkenalkan diri siapa aku. Namun, memang siapa aku? Begitu pikirku waktu itu.

            Serangkaian acara Launching Novel Surat Dahlan terlaksana. Lebih dari dua jam beliau berbagi keceriaan, mulai dari senam Dahlan Iskan (beliau bilang, backsound lagu itu di nyanyikan seorang pedangdut pantura yang akhirnya membuat beliau tertarik dan dijadikan gerakan senam) hingga pelepasan burung merpati sebagai tanda meluncurnya Novel Surat Dahlan di seluruh Indonesia.

            Semua orang yang memenuhi kawasan Monumen Nasional sontak berteriak riang. Bapak menteri itu, mengajak kami semua bergembira. Kang Khrisna Pabichara (penulis Surat Dahlan) bercerita bagaimana dia harus benar-benar datang di tempat-tempat penuh kenangan masa kecil Pak Dahlan Iskan untuk mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana dan berapa jauh Pak Dahlan harus menempuh perjalanan dengan jalan kaki ke sekolah, waktu itu.

            Beliau juga menemui guru Pak Dahlan dan diceritakanlah bagaimana seorang Dahlan kecil yang memang semangatnya terkenal menggebu-gebu sejak dulu. Dan ketika semua orang memperhatikan gerak gerik sang menteri, aku melirik seorang perempuan berbadan kecil penuh senyum di deretan depan, duduk tersenyum memperhatikan sang menteri berbicara.

            “Saya jatuh cinta dengan seorang Guru SD. Dia kekasih saya.” Ujar sang menteri waktu itu (10/02/2013). Wajahnya tidak mencerminkan lelahnya seorang menteri. Senyum lebar selalu terlihat ketika menceritakan perasaan cintanya yang tak pernah padam hingga sekarang. Ternyata wanita yang sedari tadi tersenyum lah yang di ceritakan oleh Pak Dahlan.

            “Dulu saya harus seharian naik perahu gethek untuk menemui kekasih hati saya, Nafsiah. Gawatnya, begitu sampai justru dia sedang mencari kayu di hutan. Langsung saja saya lari dan berteriak ‘kekasihkuuuu … tunggu akuuu ….’ Biar seisi hutan tahu kalau perempuan itu adalah kekasih saya.” Pak Dahlan terus bercerita tentang Ibu Nafsiah, guru SD yang sekarang menjadi pendamping hidupnya.

            Usai Pak Dahlan bercerita, aku memberikan surat yang kutulis untuknya secara langsung, berjabat tangan, bahkan dengan sigap beliau meminjamkanku sebuah pena. “Tulis nomor Handphonemu, ya, Nak.” Begitu kata beliau ketika hendak naik ke atas delman.

            “Terimakasih, ya.” Beliau tersenyum ke arahku. Di usapnya punggung kemudian kepalaku. Aku hanya sanggup mengangguk waktu itu. Rasa senang terlalu menumpuk dalam dada. Ibu Nafsiah ikut tersenyum, kemudian melambaikan tangan ke arahku dan memberikan isyarat agar aku ikut naik delman bersama beliau dan Pak Dahlan. Lagi-lagi aku tidak bisa sedikitpun melangkahkan kakiku. Ini jelas jauh lebih indah dari mimpi dan bayanganku ketika aku hendak bertemu dengan beliau. Semua wartawan sudah bergerombol untuk mendapatkan sedikit penjelasan dari Pak Dahlan tentang acara pagi ini.

            Entah hanya berapa menit aku bercakap dengan beliau. Walaupun gagal mewujudkan keinginan untuk berdialog sebagai ‘generasi penerus bangsa’, tapi aku tetap bahagia. Akhirnya aku bertemu dengan beliau.

            Malam harinya, Handphoneku berdering. Sebuah SMS yang kubaca dengan seksama penuh rasa bahagia.

Rizka, saya baru saja mendarat di Manado setelah 3 jam penerbangan. Senang membaca surat anda saat penerbangan tadi. Istri saya juga ikut membaca. Salam untuk anak-anak semua ya.


Kemudian aku tahu bahwa Bapak melakukan perjalanan luar kantor (kunjungan ke wilayah-wilayah di Indonesia) saat akhir pekan. 24 jam bisa jadi 3 waktu di 3 tempat berbeda, untuk beliau. Pagi beliau di Monas, malam beliau sudah di Manado, dan esoknya beliau sudah harus di kantor. Jadi ketika banyak yang menyatakan “Beliau terlalu sering berada di luar kantor”, itu lah ‘sedikit’ jawabannya.



Itu jawaban untuk teman-teman yang mengirimkan salam untuk Pak Dahlan, ya :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…