Langsung ke konten utama

Walaupun Harus Pergi




            Orang bilang, jujur itu hal paling berat tetapi membawa keberuntungan. Walaupun kita bisa hancur karena jujur, setidaknya di masa yang akan datang kita pasti akan mengerti dan percaya bahwa kejujuran akan membuat kita lebih kuat, entah kapan waktunya.

            Bisa saja saat ini kita jujur, kemudian kita merasa hancur. Namun, nanti saat kita sudah lebih dewasa (misalnya), pasti kita akn menyadari “Untung dulu aku jujur. Jadi sekarang aku nggak menyesal”. Begitu lah siklus kejujuran yang pasti akan membuat kita bahagia atau minimal tenang, kapanpun waktunya.

            Sebagai manusia, walaupun sudah ada emansipasi wanita, tetap ada batasan antara perempuan dan laki-laki. Bagi yang masih memegang teguh hal tersebut pasti akan berpikir lebih jauh ketika hendak melakukan sesuatu. Kata orang, “sengsaranya wanita adalah tidak bisa begitu saja mengungkapkan perasaan yang di punyai”. Realitanya memang tidak banyak perempuan yang berani mengungkapkan perasaan karena alasan “Aku kan perempuan”. Kemudian aka nada yang bertanya “terus kenapa kalau kamu perempuan? Toh sama-sama punya hati. Ya, sama-sama memiliki hak untuk mengungkapkan segala sesuatu”.

            Ketika kita menangis karena sedih atau kecewa, pasti timbul pikiran “andai saja dulu aku bla bla bla” di akhir cerita. Mengapa? Karena kita menilai kalau apa yang kita andaikan itu terjadi, maka jalan ceritapun akan berubah. Saat itu kita akan tiba-tiba ingin membuat mesin waktu untuk kembali ke sebuah masa dan melakukan hal yang belum kita lakukan serta kita sesali sekarang.

            Saat seperti itu, kita sering lupa bahwa Allah lah yang memiliki hak atas hati manusia. Dia yang maha membolak-balikkan hati tanpa kita ketahui. Kita sering terlalu berpikir “jadi aku harus bagaimana?” tanpa ingat tentang hati dan Allah. Bahkan kita sering buru-buru ingin lari dari kesedihan dan kekecewaan tanpa ingin menikmatinya terlebih dahulu. Ibarat karier, banyak orang ingin sukses tanpa mau gagal. Dan kita semua tentu tahu, sangat kecil kemungkinan itu terjadi.

            Ketika kita sedih dan kecewa terhadap diri sendiri karena belum bisa jujur, kita pasti bingung memikirkan apa yang harus kita lakukan? Kepasrahan seharusnya boleh hadir saat kita ‘terlalu’ berambisi untuk mencoba melakukan hal-hal agar apa yang kita rasakan tersalurkan. Kita jarang berpikir “Oh, mungkin memang harus begini jalannya”. Ini di luar tentang mimpi dan impian, ya. Kalau masalah mimpi dan impian, kejarlah! Sampai kita tidak bisa bernapas karena harus kembali kepadaNya.

            Pernahkah merasakan kesulitan untuk jujur kepada orang yang bersangkutan? Misalnya, kamu sedih dan merasa sangat kehilangan karena dia harus pergi untuk sebuah kebaikan. Dilemma tentu hadir. Kalau sedih, berarti jahat. Lha wong perginya untuk kebaikan. Tapi kalau berusaha nggak sedih, berarti kita benar-benar menyimpan rasa dengan rapat. Cukup kita dan hati kita yang tahu. Ketika kita berhadapan dengan orang tersebut, kita terlihat santai dan tidak ingin menangis. Mulai dari bahasa tubuh, hingga nada suara, semuanya terdengar baik-baik saja. Namun, saat baru saja beberapa detik kita berpisah, air mata tiba-tiba engan lancarnya mengalir tanpa henti.

            Pertanyaannya, kenapa nggak nangis dari tadi aja? Apakah itu membuktikan kita tidak mampu jujur dengan orang tersebut sehingga harus menutupi kesedihan dan menikmatinya saat kita sudah tidak bersamanya? Yang seperti itu, bisa dikatakan nggak jujur kah? Atau jahat terhadap diri sendiri? Ah, tidak juga. Ada kalanya kita perlu menikmati segala kesedihan terasa. Sejujurnya, kesedihan sering tidak tahu diri karena hadir seenaknya, kapanpun dan di mana pun.

            Coba, rasakan saja. Apa salahnya berpikir positif? Kadang kita harus menikmati dan merasakan kesedihan hingga kita menemukan sendiri kebahagiaan sesungguhnya. Belajar jujur dan percaya. Jujur paling tidak hati kita sendiri sudah tahu apa yang kita rasakan, dan percaya bahwa dia akan kembali. Rasa cinta itu tidak pernah membatasi diri untuk melakukan kebaikan walaupun harus pergi.

Komentar

  1. Karena kejujuran butuh keberanian :D

    BalasHapus
  2. Mau jujur atau tidak, yang penting siap resiko apapun...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…