Langsung ke konten utama

Belajar Bersyukur dari Penyuka Sesama Jenis

Enam tahun yang lalu, saat kelas 3 MTs, aku mengenal orang yang menyadarkanku bahwa hidup bukan hanya tentang bersyukur, tetapi juga bersabar.

Dia sulit menerima kenyataan bahwa dirinya penyuka sesama jenis. Dia ingin pergi, mengasingkan diri, tapi banyak lelaki terus mencari keberadaannya.

Well, kadang kita bukannya tidak mau meninggalkan sesuatu, tetapi memang tidak dapat meninggalkannya. Sulit, lho.

Penyimpangan itu tidak hanya berpengaruh pada kehidupan sosialnya, tetapi juga hubungannya dengan Tuhan.

Bayangkan. Banyak orang menolak kehadirannya karena dianggap tidak normal, dan dia harus terus memupuk kepercayaan agar (setidaknya) dia dapat menerima dirinya sendiri. Ini penting, karena kenyataannya banyak orang memilih bunuh diri karena tidak sanggup.

Sekelilingnya begitu ramai. Dia nampak penuh cinta (walaupun dari sesama jenis). Banyak yang mau berbagi 'cinta' tapi tanpa kasih. Tidak ada satupun orang yang mau mendengarkan bahkan ngobrol dengannya sebagai sesama manusia normal.

Ke segala arah dia mencari, kepada siapa dia harus percaya ketika kepercayaan dirinya mulai menipis?

Memang, kadang orang perlu menghilang dari peredaran untuk sekadar mencari siapa dirinya dan apa yang dia cari. Itu juga yang dia lakukan.

Mulai dari meninggalkan segala fasilitas agar dapat terlepas dari lelaki-lelaki yang mengejarnya, hingga memutuskan pindah agama.

Semuanya butuh proses. Namun, darinya, aku belajar bahwa terlalu manja jika segala keadaan harus kutinggalkan, bukan kuhadapi.

Betap tidak tahu dirinya aku jika masih sibuk meng-aduh pada Tuhan, padahal dihadapanku ada orang yang mati-matian bertahan hidup dalam belenggu 'merah'.

Percaya atau tidak, siapapun dan seperti apapun seorang manusia, ia akan merasakan betapa Tuhan mencintainya.

Ya, akhirnya dia lepas dari (hal yang selalu dibilang orang) penyimpangan dan menemukan perempuan yang mau menerimanya.

Sebagai orang yang tahu perjuangannya saat proses reborn, aku sangat bahagia.

Saat aku sibuk memikirkan 'bagaimana caranya biar orang lain menerimaku, ya?' Dia justru sibuk berusaha bertahan agar dia mampu menerima dirinya sendiri.

Bersama perempuan yang dipilihnya, perlahan semua mulai pulih.

Namun, lagi-lagi, Tuhan maha cinta.

Kini, giliran dia harus menerima kenyataan bahwa perempuan yang dia cintai juga penyuka sesama jenis.

Bayangkan, bagaimana dia harus terus memilih berdiri. Belum lama dia terlahir kembali, ada lagi nikmat Tuhan yang disampaikan melalui ujian.

Doakan agar dia bertahan (paling tidak) dengan dirinya sendiri, teman.

Namun, begini.
Syukur itu hak kita. Anggap saja begitu. Mubadzir kalau hak tidak digunakan dengan baik. Maka, banyak-banyaklah bersyukur.
Lalu, kewajiban kita apa? Ya jelas berusaha.
Selesaikan, lalu bersyukurlah.

But anyway, satu hal yang aku sadari. Terkadang kita tidak dapat meninggalkan hal atau orang yang menurut orang lain harus ditinggalkan.

Aku dekat dengan dia bukan berarti aku menghalalkan penyimpangan, ya. Bukan itu.

Yang kurasakan dan kupikirkan adalah bagaimana dia bertahan saat dia hanya dapat bertumpu pada dirinya sendiri. Bagaimana posisi Tuhan?

Ingat, di awal dia sempat tidak tahu siapa dirinya dan tidak pernah menyertakan Tuhan.

Jadi, teman, sungguh terlalu manja jika kita mudah sekali meng-aduh. Buanyak orang yang lebih butuh diperhatikan.

Jutaan motivasi dan contoh diberikan Tuhan.
Tuhan Maha Cinta. Tuhan Maha Romantis.
Segala kasihNya terasa luar biasa.
Ya, tentunya bagi kita.

Bersyukurlah yang normal (walaupun jomblo *oposih*). Bersyukurlah yang lingkungannya bersih.
Bersyukurlah dengan segala yang ada pada diri dan terus perbaiki.
Bersyukurlah karena waktu kita tidak habis untuk memikirkan kepada siapa kita berpijak.
Bersyukurlah yang selalu libatkan Allah di tiap langkah.
Selamat bersyukur ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…