Langsung ke konten utama

Harusnya Kamu Bernama Tampan.

Harusnya kamu bernama Tampan.
Tuhan melimpahkan rahmat pada tiap manusia yang mengenalmu.
Rantai napasmu menyimpan rangkaian kesholehan penebar ilmu.

Harusnya kamu bernama Tampan.
Air muka yang rupawan bukan lagi masalah bonus duniawi.
Ia terajut begitu santunnya dengan tutur dan makna yang tersaji.

Harusnya kamu bernama Tampan.
Langit seisinya memahami segala lakumu,
namun mereka menunggu Tuhan menitipkan kasih dalam syahdu.

Harusnya kamu bernama Tuhan.
Semesta terasa lembab oleh jejak kaki yang bertumpuk doa darimu.
Lahir dan batinmu,
melengkapi cerita dan menuntun persiapkan akhiratku.

Ya, harusnya kamu bernama Tampan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…