Langsung ke konten utama

Untittle #1



Entah berapa ribu hari sudah aku disini. Tiap detik, tiap sisi, kunikmati sendiri. Nikmat? Iya, keadaan yang memaksaku untuk menikmatinya. Tidak ada yang melarangku untuk protes terhadap apa yang terjadi dan harus kujalani sekarang. Namun sungguh, akulah yang melarang diriku sendiri. Apa gunanya aku tidak terima dengan apa yang terjadi sekarang? Memangnya akan terjadi sebuah perbaikan jika aku protes? Kepada siapa aku harus protes? Tuhan? Aku begitu sadar Tuhan punya jutaan makhluk yang ingin Dia perhatikan. Aku sadar, aku tidak akan pernah bisa menjadi prioritas-Nya. Aku tidak lebih dari seorang glandangan. Melukai orang untuk mendapatkan sesuatu demi sesuap nasi adalah hal biasa dan menyenangkan buatku. Dalam keadaan seperti itulah aku menikmati hidup. Orang-orang boleh menikmati bagaimana lelahnya mencari uang dikantor. Namun aku, menikmati ketika aku dikejar massa kemudian dipukuli, dilaporkan polisi, ditahan, kabur, ditangkap lagi, begitu seterusnya.
            Aku tidak pernah mau untuk memikirkan apa yang dirasakan orang lain saat aku melukai mereka. Jangan heran! Mereka tidak ada salah dan berdosa kepadaku. Ini hanya ekspresiku dalam berusaha menikmati apa yang terjadi. Mereka anggap aku gadis tidak waras. Baju compang-camping, sepatu lusuh dan celana soberk-sobek. Rambut cepak yang nyaris botak yang mereka lihat tidak wajar justru membuatku semakin menikmati. Aku tidak berusaha menjadi prioritas Tuhan, aku tidak berusaha peduli bagaimana pandangan orang lain terhadapku. Tidak ada yang tahu bagaimana bisa aku seperti ini. Bahkan Tuhan? Jika Dia taupun, Dia tidak akan memberi tahu orang-orang itu apa yang sesungguhnya terjadi padaku kan? Jadi tidak aka ada yang tahu. Hanya aku dan Tuhan yang tahu tentang bagaimana dahulu aku menahan semuanya dalam dada dan benakku. Berusaha menekan pikiranku sendiri untuk tidak berspekulasi dan lebih baik diam.
            Jika diijinkan, aku lebih memilih menghapus masa lalu. Aku benar-benar tidak menikmati bagaimana aku harus selalu mengingatnya dan menjadi bayang-bayang walaupun aku sudah memilih hidup di tengah hiruk pikuk dunia luar yang akrab dengan segala kekerasan dan tidak mengenal apa itu perasaan dan logika. Entah aku harus bagaimana untuk melupakan saat dia membantingku kearah kaca yang kemudian pecah karena terkena badanku. Sayatan beling di urat nadi, dan saat dia menghantam punggungku dengan benda besar dan tumpul yang entah darimana dia dapatkan. Dulu, aku tidak peduli dengan luka badan yang timbul akibat semua hal itu. Dulu aku hanya berpikir dan merasa “apakah dia tidak memikirkan betapa sakit hatiku dengan segala perlakuan yang telah terjadi?”. Namun sekarang, justru sebaliknya! Aku sudah tidak pernah memikirkan apa yang aku rasakan dalam hati dan apa yang dia pikirkan saat melakukan semua itu terhadapku. Seperti yang kukatakan tadi, aku sudah terlalu terbiasa dan menikmati dunia luar yang tidak mengenal perasaan logika. Aku hanya masih tidak rela jika aku melihat bekas syatan beling di urat nadi pergelangan tangan kiriku.
            Kembali lagi dengan bagaimana hidupku sekarang. Tidak ada untungnya terus mengungkit apa yang terjadi dulu. Asal kalian tahu, aku tidak sudi dan sudah tidak ingat garis mukanya. Ya, orang yang sudah membantingku kesana kemari. Entah bagaimana bentuknya aku tidak ingat dan tidak peduli. Di keadaan seperti inilah aku baru merasa betapa Tuhan baik kepadaku. Aku diijinkan untuk lupa muka orang yang sudah membuat badanku hancur.  Aku diijinkan untuk memaksa diriku sendiri menikmati apa yang kurasakan sekarang. Jangan berpikir bahwa aku gadis tak punya rasa malu, walaupun aku hidup didunia yang tidak mengenal perasaan dan logika. Jangan samakan aku dengan gadis-gadis bergincu yang berdiri dengan memaksakan keanggunan menanti lelaki hidung belang menghampirinya. Derajatku jelas lebih tinggi dari mereka. Aku lebih memilih disamakan pencuri kelas kakap daripada disamakan sekelompok gadis itu.
            Malam itu aku memutuskan untuk berjalan sejauh aku mampu dan tidak lelah. Menikmati apa yang orang lain sebut udara namun aku menyebutnya sahabat. Hanya dialah yang memang benar-benar menemaniku apapun keadaannya. Jika tidak ada dia, jika Tuhan mengambilnya, aku tentu akan mati. Menikmati udara luar yang sering kusebut sahabat kebebasan adalah waktu berkualitas dimana aku merefleksi apa yang sudah terjadi hari ini. Aku tidak pernah memperdulikan seramai apapun jalanan yang sedang aku lalui. Bagiku, hanya ada aku dan udara. Disaat seperti inilah aku benar-benar tidak ingin diganggu. Namun entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja aku merasakan ada sosok yang sengaja menubrukkan diri terhadapku. Badannya ringkih, tak punya tenanga lebih dariku. Dia langsung terpental ketika bertabrakan kepadaku. Jika boleh jujur, baru saat itulah sejak sekian lama aku hidup di dunia luar, aku merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk membantunya bangkit dan memastikan dia baik-baik saja. Rambutnya yang sudah memutih serta raut mukanya yang penuh kelelahan sungguh tidak bisa aku pungkiri sangat membuatku iba.
            Saat aku membantunya bangkit, kulihat dia begitu kesulitan. Badannya begitu tidak bertenaga. Bagaimana mungkin aku bisa memaksakannya untuk bangkit? Namun akupun merasa tidak bisa membiarkan badannya terkapar dipangkuanku. Ibuku saja tidak pernah berada dipangkuanku. Tunggu dulu, Ibu? Ah, aku hampir lupa. Aku dilahirkan seorang Ibu. Entahlah aku tidak pernah ingat siapa yang barusan kusebut Ibu dan bagaimana mukanya. Wanita lemah inipun terus berusaha bangkit namun tetap tidak mampu. Hingga akhirnya aku berusaha rela dia terkapar di pangkuanku. Sejenak dia menatap mukaku begitu dalam. Sejujurnya aku risih dengan tatapan matanya. Lambat laun dia memegang pergelangan tangan kiriku. Dia melirik kearah pergelangan tanganku, dan tiba-tiba menangis. Aku semakin tidak mengerti. Aku rasa dia terlalu berlebihan. Baru memegang pergelangan tangan saja menangis. Namun tidak bisa kupingkiri ada rasa terharu dan sedih dengan apa yang terjadi kepadanya. Hingga akhirnya dia berkata, “Dila? Aldila?”
            Aku terkejut. Bagaimana bisa dia menyebut namaku. Sedari tadi aku diam. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kertas dari saku lusuhnya. Belum sempat berbicara apa-apa lagi, napasnya mulai tersengal. Aku panic karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Hingga akhirnya matanya terpejam. Kupegang pergelangan nadinya, tak terasa denyut nadi sedikitpun. Detak jantungnya berhenti seketika. Ah, dia sudah dipanggil Tuhan, batinku. Mau tidak mau aku harus membopongnya sendiri ke sebuah Rumah Sakit dan Dokter menyatakan bahwa dia sudah meninggal. Ada setitik rasa sedih dalam hatiku. Baru saja ada seseorang meninggal dipangkuanku. Orang yang tidak aku kenal siapa dia. Aku ingat selembar kertas yang sempat dia serahkan kepadaku. Perlahan kubaca, semakin dalam semakin aku merasakan sesak di dada. Oh Tuhan, ampuni aku! Betapa aku memang tidak pantas Kau lindungi. Tuhan, ampuni aku…

Teruntuk Aldila,

Nak, maafkan aku.
Entah bagaimana semua hal itu bisa terjadi.
Maafkan aku, aku tidak pernah menjadi sesuatu yang berarti untukmu.
Maafkan aku, aku tidak ada untuk melindungimu.
Maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia menyiksa dan membawamu pergi entah kemana.

 Saat aku menulis surat ini, akupun tidak tahu bagaimana wajahmu.
Tentu kau lebih cantik dari Ibumu yang hina ini, Nak.
Ibu yang tidak bisa melindungi anaknya dari segala hal yang ayahmu lakukan kepadamu.
Aku terlalu sibuk mencari uang di Negeri orang, hingga tidak bisa melakukan kewajibanku kepadamu.
Entah, kau akan membaca secari surat ini atau tidak.
Aku tidak yakin, Nak.
Mak Dasri, tetangga kita, dia bilang bahwa satu-satunya caraku untuk mengenalimu adalah adanya bekas sayatan di pergelangan tangan kirimu.
Sungguh aku tidak bisa membayangkan.
Aku harus mencarimu dengan bekal tanda sayatan? Sayatan yang dibuat oleh ayahmu sendiri.
Maafkan Ibu, Nak..
Sebagai tanda abdi Ibu kepadamu, sungguh ibu berjanji akan terus mencarimu..
Ibu tidak ingin dan tidak rela mati dalam keadaan tidak bersamamu.
Maafkan ibu, Nak.. Ibu tidak berhasil menjagamu..

Salam Rindu Penuh Cinta,
Sarti,
Ibumu

(to be continue)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…