Langsung ke konten utama

Untittle #2



Aku kini bukanlah orang yang sama dengan aku tiga tahun yang lalu. Namun, tentu aku tak akan pernah lupa dengan kejadian di malam itu. Ketika untuk pertama kalinya, aku bertemu ibuku. Dan di malam itu, terakhir kali jugalah aku bertemu dengan ibuku. Aku bertemu ibu dengan kondisi sekarat, bahkan Ibu harus meninggal di pangkuanku saat itu juga. Tak lebih dari lima belas menit aku melihat ibu dalam kondisi yang masih hidup. Tapi, sampai ini aku masih tak bisa menerangkan makna tatapan itu secara pasti. Kenapa tatapan itu begitu mengena dalam hatiku?. Entahlah, kenapa hal itu bisa terjadi. Mungkin seorang ibu memiliki kelebihan hati yang mampu mengenali darah dagingnya secara batin.
            Sejak kejadian itu, aku sering bertanya kepada Tuhan, kenapa semua ini bisa terjadi?. Tuhan tak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan. Setiap kali aku bertanya, Tuhan hanya memberikan kesunyian. Iya, kesunyian yang diam dan tak pernah bicara. Apakah Tuhan tak pernah mendengar apa yang aku tanyakan?. Entah dimana keberadaan Tuhan. Apakah Tuhan hanya ada di masjid-masjid ? apakah Tuhan hanya berdiri diam di dalam gereja? Ataukah Tuhan hanya diam dan duduk bersila dalam vihara?. Aku tidak yakin, tak ada yang bisa menjamin, ketika aku pergi ke masjid, gereja, vihara, dan kemanapun itu, aku akan bertemu dengan Tuhan. Mungkin Tuhan sudah mati. Ya, dia sudah mati. Kematian Tuhan kini telah tercatat dalam lembaran-lembaran kertas yang terangkum dalam buku sejarah tentang Tuhan. Sesungguhnya, Tuhan tidak pernah ada. Dia hanyalah asumsi yang dibuat-buat oleh manusia untuk menjelaskan kejadian yang tak mampu dijelaskan jalan pikiran. Dan penjelasan itu disebut takdir. Takdir hanyalah dogma yang berusaha dijelaskan oleh agama bahwa itu dilakukan dan ditentukan Tuhan.
            Betapa banyak orang dibodohi oleh asumsi yang dibuatnya sendiri. Setiap hari, ditempat aku tinggal, ribuan orang lima kali sehari berbondong-bondong pergi ke masjid. Mereka bersujud, mencium lantai-lantai masjid yang berada dalam sebuah ruangan besar yang tak bersekat. Konon, menurut kepercayaan mereka, sujud adalah titik terdekat dengan Tuhan. Sujud adalah bentuk rasa syukur dan rendah diri sebagai seorang hamba kepada Tuhannya. Dan mereka lakukan itu tujuh belas rakaat dalam sehari. Jadi, kalaulah dihitung, mereka bisa berdekat-dekatan dengan Tuhan paling sedikit dua puluh empat kali dalam sehari. Aku menggelengkan kepala tanda takjub dan sekaligus tanda simpatik, betapa bodohnya mereka membuang-buang waktu untuk melakukan itu semua. Padahal mereka tak pernah bertemu Tuhan, tak pernah. Doa yang mereka lantunkan setelah sholat pun Tuhan tak pernah jawab. Tuhan tak pernah menyapa mereka dalam masjid-masjid yang mereka kunjungi. Bahkan pengalamanku, ketika ku pergi ke majid hanya untuk sekedar berkunjung, aku sempatkan melihat-lihat ke tempat wudhu dan kamar kecil. Aku hanya ingin melihat, bagaimana tempat wudhudan kamar kecil di rumah Tuhan. Ahhhh..., sejujurnya aku kadang tak percaya. Kondisi tempat-tampat itu sangatlah buruk. Bau tak sedap langsung tercium ketika aku melengkahkan satu langkah pertama memasuki kamar kecil. Iya bau pesing, apakah Tuhan itu jorok? Sehingga tak pernah membersihkan amar kecil di rumahnya sendiri?. Atau Tuhan tak punya kapabilitas untuk melakukan itu?.
            Tidak hanya itu yang akan aku ceritakan, setiap minggu gereja disekitar daerahku juga sering dikunjungi ratusan umat kristiani dan katolik yang paling tidak datang ke gereja satu kali seminggu. Pakaian mereka rapi,wangi, dan tak jarang menggunakan kosmetik agar penampilan mereka terlihat rapi. Meskipun ruangan gereja hampir sebesar sepertiga lapangan bola, seringkali penitia gereja masih harus menyiapkan tenda-tenda besar mengelilingi gereja seperti yang sering digunakan di pesta perkawinan. Lalu, mereka menyanyikan lagi rohani yang dipimpin oleh sekelompok orang di panggung gereja. Menurutku, suara mereka merdu. Jarang aku menemukan suara fals jika aku dengarkan mereka menyanyi secara bersama. Sejauh yang aku dengar, mereka menyanyikan lagu-lagu rohani untuk mengaungkan Tuhan. Mereka percaya bahwa mukzizat Tuhan itu nyata. Tapi aku pikir mereka berlebihan. Jika pun Tuhan itu ada, apakah Tuhan gila dengan pujian. Aku pikir Tuhan tak butuh dipuji. Dan manusia tak perlu memuji Tuhan sebagai bentuk “penjilatan” agar doanya bisa dikabulkan, agar cobaannya bisa diringankan, dan agar nikmat yang di diberikan Tuhan selalu ditambahkan.  Manusia yang berdoa di tempat-tempat ibadah adalah kamu religius yang munafik. Atas nama keikhlasan mereka beribadah, nama hati mereka menginginkan imbalan dan belas kasihan Tuhan. Mereka menginginkan surga yang Tuhan ceritakan dalam kitab-kitab yang diberikan kepada mereka dan disampaikan oleh seorang nabi yang juga seorang manusia.
            Tuhan?. Dia tak pernah menyelesaikan masalahku. Masalahku hanya bisa diselesaikan jika aku berusaha dan bekerja keras. Tuhan tidak berperan dalam kehidupan manusia. Kalaupun ada Dia hanyalah penonton trasenden yang hanya menjadi pengamat, bukan pemain. Alam semesta hanya bekerja jika manusia ikut bekerja, dan alam semesta akan berhenti jika manusia juga berhenti. Alam semesta adalah sesuatu yang menciptkan dirinya sendiri. Ia tak berawal dan tak pernah berakhir, karena energi akan selalu abadi. Energi hanya berubah bentuk, tapi tak pernah akan mati. Dan Tuhan yang banyak dibanggakan dan diagungkan oleh manusia-manusia religius munafik hanyalah ilusi yang menawarkan dogma-dogma kemalasan untuk mencari alasan yang disebut takdir. Tuhan tak pernah bisa menjelaskan kenapa aku dilahirkan dalam keluarga yang tidak utuh. Tuhan tak pernah memberitahuku kenapa ayahku selalu bertindak kejam ketika aku dididknya. Dan Tuhan tak pernah memberiku kesemptan untuk menerima sedikit kebahagian ketika aku harus berjumpa dengan ibuku dalam kondisi yang sekarat. Tak perlu aku meminta untuk diprioritaskan Tuhan. Karena bagiku, Tuhan telah mati !!.

Komentar

  1. LUAR BIASA... Prok.. Prok.. Prok!! Keren!

    Entah kenapa kadang aku juga mikir gitu., Semesta punya misteri yang pernah kita tau....

    BalasHapus
    Balasan
    1. LUAR BIASA... Prok.. Prok.. Prok!! Keren!

      Entah kenapa kadang aku juga mikir gitu., Semesta punya misteri yang tak pernah kita tau..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…