Langsung ke konten utama

Dua Kurikulum dan Trauma Kesenjangan dalam Pendidikan.

Kelahiran kurikulum 2013, sejak awal sudah sering dikatakan premature. Hal ini terjadi karena tampaknya masih banyak aspek yang sebetulnya belum siap. Jauh dari idealisme harapan kementerian, guru-guru justru nampak lebih repot mempersiapkan dokumen pembelajaran yang berkaitan dengan kurikulum 2013. Ada 27 dokumen yang harus disiapkan guru (belum termasuk dokumen standar tiap sekolah). Sayangnya hal itu tak diimbangi dengan inovasi bahan dan media pembelajaran.

Pada fase perubahan kurikulum, peran utama jelas dipegang oleh pemerintah dan guru. Konsep yang disodorkan pemerintah harus diterima untuk kemudian diolah oleh guru. Dokumen-dokumen yang membuat guru sibuk tersebut sesungguhnya tak menjamin kesempurnaan proses perubahan kurikulum. Yang terjadi dilapangan, seringkali RPP dan silabus hanya disalin untuk kemudian disunting bagian penilaian otentik-nya. Hal ini justru membuat dokumen Kurikulum 2013 yang (kelihatannya) sudah dikerjakan oleh guru, sesungguhnya tak jauh berbda dengan dokumen kurikulum sebelumnya.

Value pembelajaran lambat laun berubah karena guru lebih sibuk dengan tumpukan dokumen yang sudah ditentukan deadline-nya, daripada mempersiapkan bahan ajar yang harusnya juga perlu disunting.

Belum lama kurikulum 2013 ditetapkan, sejalan dengan pergantian nama di lingkup pemerintahan, Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan, Anies Baswedan memutuskan untuk mengevaluasi kurikulum 2013. Evaluasi ini dilakukan dengan cara penghentian kurikulum 2013 bagi sekolah yang baru menerapkannya selama satu semester. Sedangkan sekolah-sekolah yang sudah jalankan kurikulum 2013 selamat tiga semester dapat tetap dilanjutkan dan akan menjadi sekolah percontohan.

Langkah itu tergolong berani karena artinya, ke depan, kita akan mengimplementasikan dua kurikulum, yaitu kurikulum 2006 san kurikulim 2013. Perbedaan penerapan kurikulum ini akan membantu kita untuk ikut serta mengevaluasi dengan membandingkan proses dan hasil belajar dari dua kurikulum tersebut.

Keputusan ini mengingatkan saya tentang gejolak Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di dunia pendidikan. RSBI yang memiliki konsep lebih inovatif dan (tentunya) lebih mahal, jelas menimbulkan kesenjangan dalam pendidikan jika disandingkan dengan sekolah yang berstandar nasional. Selain konsep, adanya RSBI juga menyebabkan harus adanya standar tersendiri yang tak dapat disandingjan dengan sekolah berstandar nasional.

Pada lingkup kurikulum, keputusan untuk mencoba menjalankan dua kurikulum jelas akan menimbulkan kesenjangan pembelajaran dalam pendidikan. Mungkin kita akan dengan mudah melihat hasil dari implementasi kedua kurikulum tersebut, dan tentu akan memberikan pandangan baru tentang kurikulum manakah yang lebih layak diterapkan. Namun, nantinya akan muncul pembandingan antara sekolah yang dijadikan percontohan kurilum 2013, dengan sekolah yang harus kembali gunakan kurikulum 2006, yang akan menimbulkan anggapan masyarakat tentang perbedaan taraf masing-masih sekolah karena kurikulum yang digunakan jelas berbeda.

Pemerintah perlu mempersiapkan sikap jangka panjang dari keputusan menteri kali ini. Mulai dari standar nilai siswa, hingga kapasitas guru yang nantinya tak merata dalam satu waktu. Guru-guru di sekolah percontohan akan lebih paham dengan implementasi kurikulum 2013 dan tak sebanding dengan guru-guru di sekolah yang harus kembali gunakan kurikulum 2006.

Belum lagi tentang implementasi kurikulum di madrasah yang notabene ditangani oleh kementerian agama. Jika tak ikut di'gandeng', bayang-bayang kesenjangan pembelajaran dalam pendidikan akan makin meruncing. Perlu adanya kolaborasi aktif antara Kemendikbud dan Kemenag tentang penerapan kurikulum yang telah diputuskan oleh Anies Baswedan. Tujuannya jelas, agar seluruh lini lembaga pendidikan tetap dapat berjalan beriringan walaupun harus ada perbedaan kurikulum.

Diluar masalah penerapan dua kurikulum dan kekhawatiran kesenjangan dalam pendidikan, kita tak boleh lupa bahwa hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia dengan cara yang manusiawi. Guru yang harus sibuk dengan tumpukan dokumen tak boleh lupa bahwa kemerdekaan tertinggi dalam pendidikan adalah pemahaman dan pengamalan ilmu sebagai jalan ilmu yang bermanfaat yang menjadi bagian dari amalan yang tak terputus pahalanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…