Langsung ke konten utama

Iman

Semut bilang, ia datang karena suka yang manis.
Sedangkan lalat berkata bahwa ia terbang melihat ikan yang amis.
Gerombolan nyamuk berbisik sambil melirik dengan miris.

Ada bau yang sedari tadi tercium dari sudut ruang.
Setumpuk sisa yang terhambur karena uang.
Semutpun berbaris dan mengajak lalat yang sedari tadi terbang.

Ah, apalah arti syukur, kukotori ruang dengan sisa makanan.
Aku lupa pesan ibu tuk jaga kebersihan,
Bahkan aku lupa kalau Allah bilang annadlaafatu minal iimaaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…