Langsung ke konten utama

Iman

Semut bilang, ia datang karena suka yang manis.
Sedangkan lalat berkata bahwa ia terbang melihat ikan yang amis.
Gerombolan nyamuk berbisik sambil melirik dengan miris.

Ada bau yang sedari tadi tercium dari sudut ruang.
Setumpuk sisa yang terhambur karena uang.
Semutpun berbaris dan mengajak lalat yang sedari tadi terbang.

Ah, apalah arti syukur, kukotori ruang dengan sisa makanan.
Aku lupa pesan ibu tuk jaga kebersihan,
Bahkan aku lupa kalau Allah bilang annadlaafatu minal iimaaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…