Langsung ke konten utama

#eaaaa

Dulu, kupikir, menyibukkan diri akan  100% menyenangkan. Sebagai orang yang memang tak bisa diam, aku memang senang dengan segala kesibukan. Kewajiban tuk ke sana-sini sendirian, datang dan pergi sekadar bertemu orang untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman di luar kota. Namun, sepertinya Tuhan sedang menegurku.

Orang lain, bahkan kamu, mungkin melihatku terlalu sibuk, bahkan sangat sibuk. Nah, sepertinya Tuhan sedang menegurku, sekarang. Aku mulai sering kesal terlihat begitu sibuk dan dikatakan sibuk oleh banyak orang, termasuk kamu. Padahal sesungguhnya, tak semua yang kukerjakan adalah hal serius.
Sering kali aku terlihat sibuk hanya karena tak betah diam. Tak jarang aku memilih pergi sendirian, bukan untuk pekerjaan, tetapi untuk liburan.

Andai kamu tahu, kadang orang yang nampak sibuk sebetulnya bukan orang-orang yang banyak pekerjaan, tetapi karena memang tak mau diam. Ada yang kurang dalam hidupnya kalau ia terlalu banyak diam.


Oh ya, satu lagi. Kadang, orang yang kamu lihat begitu sibuk, sesungguhnya punya kesibukan lain. Mendoakanmu dari jauh dan berharap kau pun sibuk berjuang agar bisa memperjuangkan masa depan, denganku. #eaaaa :"))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…