Langsung ke konten utama

Pemakluman dan Dialog Ketegasan Diri.



            Saat membuat surat izin untuk tidak masuk sekolah, biasanya kita sering menambahkan, “harap maklum,” di akhir surat. Dalam menghadapi masalah, saat kita tak dapat mengatasinya, kita juga sering berharap dan meminta agar dimaklumi. Pemakluman yang sering muncul dalam hidup sebetulnya menjadi dilemma yang lumayan menyita hati dan pikiran. Berdalih manusia yang tak pernah lepas dari kesalahan maka harus dimaklumi, bahkan hingga melakukan hal yang tak biasa kita lakukan. Membiasakan memaklumi diri adalah hal yang sebisa mungkin harus kita hindari. Bahaya jika kita terlalu sering memaklumi dan akhirnya justru menjadi kebiasaan.
            Pemakluman adalah hal yang sebetulnya manusiawi. Sayangnya, justru karena kita menganggap hal tersebut sebagai hal yang manusiawi, kita sering tak tegas dalam menempatkan diri. Misalnya saat kita mendapatkan penghargaan, lalu kita mengeksposnya. Mungkin tujuannya ingin berbagi kebanggaan dan motivasi, dan akhirnya kita memaklumi. Namun jika terlalu sering, khawatirnya, justru mulai tumbuh sifat sombong yang tak kita sadari. Sifat sombong selama ini mati-matian kita hindari ternyata dapat tumbuh dari sebuah pemakluman. Begitu pula dalam berusaha mengejar cita-cita. Kita sering bilang pada diri sendiri bahwa yang terpenting adalah prosesnya. Hasil itu hanya masalah bonus dari Allah saja dan tak seharusnya dijadikan tujuan. Maka saat kita tak mendapatkan hasil maksimal, kita sering memaklumi diri karena merasa sudah berusaha. Padahal seringkali kita tak menyadari dan tak mengevaluasi, jangan-jangan usaha kita yang terlalu stagnan. Kita terus berusaha dengan ritme yang sama, tak ada kemajuan dan tak ada usaha yang ritmenya lebih cepat dan baik. Akhirnya kita memaklumi kegagalan.
            Lebih bahaya lagi kalau kita memaklumi hal tak terpuji. Misalkan saat terjadi kejahatan yang kita nilai penyebabnya karena ada kesempatan yang sangat besar, jadi maklum saja kalau si pelaku berani melakukannya. Padahal fokusnya, mau ada kesempatan atau tidak, kalau si pelaku tak ada keinginan mencuri, ya ia tak akan mencurinya. Ini tentang konsep diri. Bukan sekadar ada kesempatan atau tidak. Maka saat kita terlalu sering memaklumi sesuatu, kita perlu menanyakan pada diri tentang keinginan dan tujuan awal kita dalam melakukan sesuatu. Menempatkan diri agar mengetahui mana yang masih dapat dimaklumi, dan mana yang harus terus diperjuangkan. Godaan-godaan untuk memaklumi diri memang sangat dekat dengan kita. Dekat sekali. Banyak kesempatan yang pada akhirnya membuat kita terlalu sering memaklumi dan menerima keadaan, seadanya. Padahal pemakluman juga dapat menjadi masalah, sebab dari sana sebetulnya kita sedang mengikis kekuatan diri untuk menjadi manusia yang lebih tegas.
            Masalah pemakluman ini tak berhenti pada saat kita terlalu sering memaklumi, tetapi juga saat kita terlalu tinggi berekspektasi atau menilai sesuatu, sampai akhirnya kita tak dapat memaklumi jika terjadi hal yang tak kita inginkan. Misalnya kita mengenal seseorang yang usianya sama dengan kita, tetapi ia jauh lebih dewasa. Karena kita memahaminya sebagai sosok yang dewasa, kita justru tak memaklumi saat ia melakukan kesalahan kecil yang sebetulnya sering kita lakukan. Karena apa? Karena selama ini kita mengenal ia sebagai sosok yang dewasa, hingga akhirnya kita lupa bahwa umurnya sama dengan umur kita, jadi wajar saja ketika ia melakukan sedikit kesalahan yang mungkin tak biasanya dilakukannya, padahal sering kita lakukan.
            Pada kasus ini, biasanya akan banyak orang yang enggan mengingatkan. Seringkali mereka beranggapan, “Dia kan sudah dewasa. Mungkin kita hanya perlu diam, nanti dia juga akan merasa ada yang berbeda.”. Nah, anggapan seperti ini yang membuat kita jadi tak mau memaklumi suatu kesalahan yang terjadi. Orang yang dianggap dewasa tadi juga ingin diingatkan dan tak dianggap selalu benar. Ia juga ingin dimaklumi dan dibantu untuk memperbaiki diri. Maka saat kita menutup mata, menganggap sesuatu sempurna, hal itu justru kadang menjadi penghalang kita untuk mau memakluminya.
            Tak mudah memberikan garis ketegasan dalam memaklumi diri. Kapan kita boleh memaklumi? dan kapan kita harus menentang rasa ingin dimaklumi agar mau terus berkembang? Mungkin, kita perlu bertanya pada diri sendiri dan kembali mengingat tujuan kita melakukan sesuatu, serta memahami posisi kita ‘berdiri’. Kadang, pemakluman bukan hanya tentang dianggap pantas atau tidak, tetapi juga hasil refleksi tentang tujuan yang ingin diperjuangkan. Seringkali kita dihadapkan pada hal mendesak agar kita tak mudah memaklumi diri dan belajar yakin bahwa di tiap kelemahan yang sering memberikan pemakluman, ada kepercayaan dsri Allah bahwa kita diciptakan agar mampu belajar memilih dan mempertanggungjawabkan pilihan kita sendiri. Kita perlu sering berbincang dengan diri sendiri, sekadar mengingat kembali tentang hal yang kita tuju dan jadikan pilihan. Pantaskah kita memaklumi diri tuk menyerah berjuang, atau lebih tegas tuk tak mudah memaklumi kerisauan dan bertanggung jawab pada pilihan. Berdialog dengan diri sendiri adalah sarana tuk belajar tegas dalam menentukan sikap, termasuk pemakluman diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…