Langsung ke konten utama

Refleksi Dini Hari

Pagi ini, rasanya ada yang kurang dalam memikirkan negeri. Sekian waktu habis tuk sibuk kecewa pada pemimpin dan tiba-tiba berubah menjadi orang yang (seolah-olah) paham, lantas mencoba memperbincangkan solusi.

Pagi ini, yang menjadi tanya dalam diri adalah tentang celah yang membuat muramnya hari. Sepertinya, waktu memang habis untuk berbincang dengan kawan segenerasi. Lalu, apa yang kurang? Masih ada celah yang rasanya kurang terisi. Doa untuk pemimpin negeri yang harusnya menjadi perbincangan dengan Ilahi.

Lepas dari segala dukungan rakyat yang menjadi faktor utama menuju kursi tertinggi, takdir yang Allah gulirkan sebetulnya menjadi kunci. Tiada ada yang mampu terjadi tanpa Dia yang Maha Menghendaki. Sayangnya, kita sering lupa tentang hal ini. Pengetahuan yang menggunung takkan mampu menang dari hati yang terus berusaha mengimani.

Mendoakan pemimpin negeri adalah hal kunci, yang sayangnya (mungkin) lupa kita tekuni. Ibarat diri yang selalu memohon tuk dilindungi, begitu pula harusnya kita doakan para pemimpin yang sedang seolah lupa diri. Ya, jangan-jangan, selain karena lalai pada posisi, doa kita tak jua mendampingi.

Sebetulnya, kita ini yang sedang diingatkan oleh Ilahi. Dia ingin tahu seberapa besar kontribusi rakyat pada pemimpin yang sedang berusaha berdiri. Dia ingin ingatkan, bahwa gerakanNya tiada pernah terbatas pada satu sisi. Hubbul wathan minal iman tak hanya tentang mengkritisi, tetapi kesadaran tentang kuasa Allah yang selalu punya porsi.

Maka, sesombong apakah kita mampu mencaci, mengkritisi, lantas lupa pada petunjuk Ilahi yang pasti menuntun pemimpin di bumi pertiwi?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…