Langsung ke konten utama

Sajak untuk Laptop.

Jika kau mampu berontak, mungkin kau akan memilih berteriak.
Pagi hingga malam, aku darimu tak mampu beranjak.
Ini mungkin bagian kesetiaan tak berjarak.
Ketikan lincah tak terpisah dari ide yang muncul dan buat hati berdecak.

Jika kau mampu jujur, mungkin kau sungguh lelah.
Ada untaian yang tak dapat lepas dan bercelah.
Panas yang muncul adalah bukti kalau mulai berkeluh, resah.
Lalu, kau pun melemah.

Maaf, ini karena ide dan tugas yang terlalu setia.
Orang bilang kita takkan berpisah begitu saja.
Aku memang takkan mampu jauh hingga tak terpandang mata.
Terimakasih telah setia, maafkan jika tuanmu belum amanah jadi penjaga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…