Langsung ke konten utama

Sajak untuk Laptop.

Jika kau mampu berontak, mungkin kau akan memilih berteriak.
Pagi hingga malam, aku darimu tak mampu beranjak.
Ini mungkin bagian kesetiaan tak berjarak.
Ketikan lincah tak terpisah dari ide yang muncul dan buat hati berdecak.

Jika kau mampu jujur, mungkin kau sungguh lelah.
Ada untaian yang tak dapat lepas dan bercelah.
Panas yang muncul adalah bukti kalau mulai berkeluh, resah.
Lalu, kau pun melemah.

Maaf, ini karena ide dan tugas yang terlalu setia.
Orang bilang kita takkan berpisah begitu saja.
Aku memang takkan mampu jauh hingga tak terpandang mata.
Terimakasih telah setia, maafkan jika tuanmu belum amanah jadi penjaga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…