Langsung ke konten utama

Self Talk

Sebagai orang yang aslinya cengeng tetapi sering nampak sok kuat, makin hari saya merasa makin cengeng dan sulit menahan haru. Singkatnya, selangkah saja saya maju, Allah senantiasa mempertemukan dengan berbagai macam orang yang memiliki berbagai macam cara pandang. Dipertemukan dan didekatkan dengan orang-orang yang dekat denganNya, saya banyak belajar untuk lebih mendalami makna keterikatan denganNya. Dipertemukan dengan orang-orang yang secara kasat mata tak lebih beruntung daripada saya, diri ini merasa hina karena tersadar bahwa banyak hal yang lalai tuk disyukuri. Tiap pertemuan selalu membawa saya pada renungan, asyik ngobrol dengan diri sendiri. Tak jarang rasa syukur bertemu dengan amarah karena merasa begini-begini saja. Entah ini tabiat manusia atau sekadar pencitraan, rasa rendah yang makin sering menderu. Memang Dia tak kenal ruang. Bergeser sedikit saja diri kita, tiap sudut telah terisi olehNya. Dari dulu memang begitu adanya. Namun pertanyaannya, kapan kita mau belajar lebih memaknai? Seseorang pernah bilang, rasa hanya dapat terdefinisi oleh rasa. Betul. Yang selama ini tertulis bukanlah rasa, tetapi dampak yang ditimbulkan oleh rasa. Kita takkan pernah mampu berbagi betapa dahsyat rasa yang Dia amanahkan pada kita. Maka maafkan jika saya tak pernah menulis panjang lebar tentang rasa padaNya. Sekali lagi, patahan-patahan dalam kata ini hanyalah dampak yang ditimbulkan oleh rasa. Sesungguhnya ikatan kita denganNya takkan pernah berjeda dan hanya mampu dipahami oleh rasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…