Langsung ke konten utama

Frekuensi

Untuk tiap lembar yang tak asing dengan ucapan.
Tiap jarak yang akrab dengan kisah dalam lajuan.
Tercipta bukan lagi oleh waktu, namun desir tak berbau.
Takdir bukan tentang siapa yang maju dahulu, menangkap buih makna yang kadang tak kunjung temu.
Bahwa hentak yang kadang retak justru penguat yang menyeruak.
Ukir tinta ditemani bulir haru mengharap biru.
Napas dan degup tak lagi jadi saksi tentang siapa yang mau mengisi, tetapi mengerti bahwa ada jejak yang satu frekuensi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…