Langsung ke konten utama

Frekuensi

Untuk tiap lembar yang tak asing dengan ucapan.
Tiap jarak yang akrab dengan kisah dalam lajuan.
Tercipta bukan lagi oleh waktu, namun desir tak berbau.
Takdir bukan tentang siapa yang maju dahulu, menangkap buih makna yang kadang tak kunjung temu.
Bahwa hentak yang kadang retak justru penguat yang menyeruak.
Ukir tinta ditemani bulir haru mengharap biru.
Napas dan degup tak lagi jadi saksi tentang siapa yang mau mengisi, tetapi mengerti bahwa ada jejak yang satu frekuensi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…