Langsung ke konten utama

Tujuan

Tiap jejak yang menjejali bumi,
Tak pernah mampu dustai nurani.
Tanjakan yang harus didaki,
Terkadang jadi ajang gembleng diri.

Kekhawatiran,
Keraguan,
Keterancaman,
Kesenduan,

Ada yang terlalu mendengar,
Atau memikirkan hingar bingar.
Anggapan dianggap benar,
Atau mampu tumbuh tegar.

Memilih itu hakikat, kan, Tuhan?
Mengapa ada yang tak lelah mempertanyakan?
Manusia Kau ciptakan dengan amanah yang diemban.
Memaknai tujuan dengan kehambaan.

Sebab tiada daya tanpa suratan,
Sandi di tiap pintu kehidupan,
Sebagai buktiMu tentang keEsaan.
Sampai kupahami, Kau adalah tujuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…