Langsung ke konten utama

Tentang Lelaki

Assalamu'alaikum. Halo, segenap sohib blog yang semoga sehat dan diberkahi Allah. Sebelumnya, selamat hari raya Idul Fitri 1463 H. Mohon maaf lahir dan batin. Maafkan, jika ada tulisan saya yang sering menyinggung hati dan menjengkelkan.

Pada kesempatan mudik kali ini, saya menyempatkan tuk berjumpa dengan rekan-rekan SMA. Orang-orang yang menjadi kawan seperjuangan, ketika selama SMA kami berjuang di beberapa organisasi yang berdampingan.

Saat SMA, teman lelaki yang aktif di organisasi lebih mendominasi. Maka tak heran jika saya pun sering berinteraksi dengan mereka, dan tak hanya membicarakan organisasi.

Saya banyak belajar dari lelaki. Tentang ketangguhan, tekad, dan kepemimpinan. Saya banyak ngobrol dengan rekan-rekan SMA. Mulai dari mengingat masa sekolah, sampai membicarakan pada titik mana kaki kami berpijak saat ini.

Saya dipertemukan dengan rekan-rekan lelaki yang tangguh. Mereka akan sangat malu kalau melihat ada perempuan yang mengangkat benda-benda berat, mereka yang mau manjat pager dan tiang cuman buat masang spanduk, sampai mau cari bambu sendiri di kebon untuk diolah. Kegiatan-kegiatan fisik ini, ternyata bukan tentang kemampuan. Tapi banyak rekan lelaki saya yang merasa, ya, itu sudah kewajiban. Lelaki itu ya harus bisa nukang (melakukan pekerjaan yang dilakukan tukang) dan angkat junjung.

Bukan lalu mereka tak punya kapasitas tuk jadi pemikir. Bukan begitu. Mereka adalah para pemikir yang merasa wajib turun tangan. Mereka pantang membayar orang untuk melakukan hal-hal berat yang menurut mereka harus jadi keahlian kaum adam.

Di tengah obrolan obrolan lucu tentang masa lalu, tiba-tiba ada yang menyeletuk, "Kalau di keluarga, aku malu sekali dengan Paklik dan Pakdheku. Aku ini paling ndak bisa masang genteng rumah, milih bambu yang bagus juga ndak bisa. Main gergaji? Cih, mences! Mana bisa lurus."

Saya terdiam mendengarkannya. Di masa yang serba instan ini, hal-hal seperti itu mulai ditinggalkan para ABG lelaki masa kini. Generasi saya dan beberapa di atasnya, mungkin masih sanggup disuruh nukang. Tapi generasi selanjutnya? Tak banyak. Padahal pekerjaan itu bukanlah profesi. Ini tentang kebutuhan sehari-hari.

Lalu, yang lain menanggapi. "Paklikku, ngganti lampu aja ndak berani. Mosok yang ngganti lampu Bulikku. Apa ya ndak malu."

Lagi lagi saya terdiam. Iya, ya. Ini mungkin hal sepele. Tapi kalau ndak dibiasakan, ya ndak akan bisa.

Saya tak menyalahkan lelaki jika memilih pesan dan memakai jasa orang lain. Toh itu ladang amal baginya dan ladang rizki bagi orang lain. Tapi ini tentang masa depan. Tentang bagaimana lelaki akan hidup seatap dengan perempuan. Ndak lucu kalau misalkan ngganti genteng aja harus nyuruh orang. Mbenerin keran ndak bisa. Itu yang menjadi sorotan obrolan rekan-rekan lelaki saya.

Lalu, apakah para lelaki pemikir yang hobi baca buku dan diskusi itu kalah dengan lelaki yang pandai nukang? Ya ndak. Ini bukan masalah mana yang unggul. Berpikir dan bertindak itu tabiat manusia yang harus terus kita lestarikan. Lakukan secara beriringan. Begitupun tentang lelaki.

Rumah yang kita rawat bersama (ciye, kita?), itu juga butuh sentuhan 'tukang' dimiliki kaum adam. Ini sama dengan nyinyir, "Perempuan kok ndak bisa masak."

Kalau lelaki, "Lelaki kok ndak bisa nukang."
Kan ndak enak.

Ibuk ndak pernah mengajarkan saya masak. Tapi bagi saya, masak itu bukan masalah kemampuan perempuan, tapi kewajiban. Kenapa? Ya iya, masa bikin sayur sama ngolah telur aja ndak bisa. Apa ya tiap anaknya laper harus cari warung? Keburu lapernya hilang.

Begitupun lelaki. Apa ya kalau sanyo dan genteng rusak, harus muter-muter nyari tukang? Ya keburu rumahnya banjir karena air pada masuk.

Kembali pada obrolan para rekan lelaki saya. Ada yang kemudian bilang, "Pokoknya, kalau aku punya anak lelaki, dia harus ngerasain nyebur sungai dan ngubek-ubek sawah. Harus tahu gimana rasanya mbenerin genteng dan manjat-manjat."

Obrolan tentang lelaki ini bukan sekadar refleksi diri bagi rekan-rekan saya, tapi juga penyadaran tentang tantangan mendidik di masa depan. Bagaimana mereka dapat menjadi Ayah yang dapat mendidik anak lelakinya tuk jadi lelaki yang tangguh. Yang berani jungkir balik, bisa megang kerjaan rumah, dan berani basah-basahan, sampai kotor-kotoran.

Dengan fenomena pergaulan anak muda yang serba 'ngotani' dan instan, pendidikan tentang nukang yang sebetulnya adalah pekerjaan rumah, harus dipupuk agar tumbuh jadi lelaki yang mumpuni.

Jangan sampai muncul generasi lelaki yang ia merasa bangga kalau harus masuk kebon untuk nyari bambu. Lha, itu harusnya sudah jadi hal biasa. Jangan sampai gumunan karena pekerjaan seperti itu.

Jangan gunakan alasan lingkungan tinggal di kota. Di manapun tempatnya, hakikat pekerjaannya akan sama. Maka, tugas para lelaki bukan hanya terus meningkatkan kapasitas diri dalam hal kemapanan, tetapi juga belajar menangani pekerjaan rumahan yang jadi bekalnya merawat rumahnya sendiri, serta menjadi bekal mendidik anak kelak.

Maka, wahai para lelaki, ingatlah. Jika kamu menikah dengan perempuan yang kamu anggap cerdas dan sanggup melakukan pekerjaan fisik, ini tentang kewajiban. Mulailah belajar tuk menjadikan kemampuan rumahan itu sebagai kewajiban.

Sama dengan kami kaum hawa, (masih ada) yang percaya bahwa masak dan nyuci itu bukan tentang kemampuan dan emansipasi, tetapi kewajiban sebagai abdi pada keluarga dan memelihara peradaban.

Kami, para kaum hawa, secerdas apa pun, kami tetap ingin dipimpin. Kami tak mau mendominasi. Kami tak mau mengalahkan lelaki. Tak jarang justru kami merasa tak mau setara, karena kami sadar bahwa kami adalah makmum. Kalianlah imamnya. Maka belajarlah memimpin di mana pun, agar siap memimpin siapa pun.

Mendengarkan obrolan rekan-rekan lelaki itu, saya patut berdoa agar kaum adam di bumi ini senantiasa diberikan kesadaran dan kemampuan untuk nukang. Biar kehidupan rumah tangganya senantiasa harmonis karena penuh dengan 'sentuhan keringat'nya. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…