Langsung ke konten utama

Terimakasih, waktu.

Dahulu,
Ada yang menggerutu
Jika tak sampai pada yang dituju.

Dahulu,
Ada yang sibuk menyalahkan waktu,
Segala kata rasanya hanya berlalu.

Dahulu,
Ada tangan yang memilih membatu,
Daripada napas yang menghela dan perlahan melaju.

Kala itu,
Logika hanya punya ruang semu.
Amarah sering sibuk menderu.

Namun, lalu,
DikirimNya ujian melulu,
Jatuh, tersungkur, dan seolah jadi benalu.

Napasnya melunak, menentu.
Memaknai waktu,
Mencoba bangkit dan berlalu.

Mempercayakan pada Sang Penentu.
Melaju sambil mengingatkan tentang apa yang dituju.

Ah, terimakasih, waktu.
Makin diuji, makin kuat tuk terus maju.
Terimakasih, waktu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…