Langsung ke konten utama

Terimakasih, waktu.

Dahulu,
Ada yang menggerutu
Jika tak sampai pada yang dituju.

Dahulu,
Ada yang sibuk menyalahkan waktu,
Segala kata rasanya hanya berlalu.

Dahulu,
Ada tangan yang memilih membatu,
Daripada napas yang menghela dan perlahan melaju.

Kala itu,
Logika hanya punya ruang semu.
Amarah sering sibuk menderu.

Namun, lalu,
DikirimNya ujian melulu,
Jatuh, tersungkur, dan seolah jadi benalu.

Napasnya melunak, menentu.
Memaknai waktu,
Mencoba bangkit dan berlalu.

Mempercayakan pada Sang Penentu.
Melaju sambil mengingatkan tentang apa yang dituju.

Ah, terimakasih, waktu.
Makin diuji, makin kuat tuk terus maju.
Terimakasih, waktu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…