Langsung ke konten utama

Itu Bukan Cinta

Manusia diciptakan dan tumbuh dengan rasa.
Kepekaan yang terasah jadi bekal melengkapi agar sempurna.
Karena apa?
Cinta?
Apa itu cinta?

Saat kau memilih karena ia mahir berandai tentang masa depan?
Atau saat kau terpikat dengan paras yang rupawan?

Ah, itu bukan cinta.
Itu hanya suka.
Cinta itu ketika kau bersedia berjalan, berdampingan dengan orang yang sama-sama mau belajar.
Saat kau menyadari bahwa masa depan adalah meniti langkah yang tegar.

Cinta itu, kau paham dan menerima saat kau harus menguatkannya.
Saat ia juga harus menguatkanmu.

Kalau kau tak kenal dan tak menerima segala kurangnya, itu bukan cinta.
Itu suka.
Cinta itu,
Kau mengerti dan menerima,
Dia berhasil membuatmu senang belajar,
Belajar bukan untuk dan demi dia.
Bukan.
Kau senang belajar karena ia berhasil meyakinkanmu tentang dunia yang tak boleh kosong dari ilmu.
Bahkan kau bahagia saat menjadi pendengar.

Ketika kau dan dia,
berikrar dan ikhtiyar,
Berdampingan,
Dan perbaiki peradaban.

Lalu, kalau kau yakin padanya,
Tanpa menambah keyakinanmu pada Sang Pemberi Rasa,

Apa itu cinta?
Oh, bukan.
Itu hanya suka.
Bukan cinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…