Langsung ke konten utama

Jangan Lupa Makan Es Krim.

Assalamu'alaikum, Ulfah Mardiani Sabila alias Upech KW alias Pece alias Mardiyanto alias Marimar.
Semoga lo selalu dalam lindungan Allah dan dimampukan menjalankan segala amanah.

Malam ini, di sebuah toko yang sering kita sebut Amplaz-nya jakal (sebut saja Mitra), gue menemukan sesuatu yang sering kita jadikan teman dan pelarian dalam tiap perjalanan dari kampus ke kost.

Gue tidak menyangka, kenapa barang beginian aja bisa bikin gue inget lo. Tapi ini menyebalkan. Serius.

Menyebalkan karena nyatanya kita sudah lama tak menjadi sepasang pejalan kaki yang sering makan es krim sepanjang jalan di tengah terik matahari.

Waktu ngambil es krim tadi, gue mencari es krim yang paling bawah. Kata lo, yang paling bawah pasti paling beku dan akan lama melelehnya. Padahal nyatanya es krim ini sering menemani obrolan kita sampai dia meleleh. Bukan karena dia menyalahi kodrat es krim yang ada di freezer paling bawah, tapi karena kita tidak pernah berhasil ngobrol dalam waktu sebentar. Haha.

Seseorang pernah bilang ke gue, doa paling penting dalam tiap perpisahan adalah, semoga Allah menguatkan hati kita. Dulu gue enggak begitu ngerti apa maksudnya. Tapi malam ini gue betul-betul sadar.

Ini bukan tentang sudah berapa lama kita berpisah, tetapi berapa banyak kenangan dan pelajaran yang tidak mampu terulang. Banyak ikatan batin yang mungkin menurut orang-orang itu mitos belaka, nyatanya memang ada.

Gue tahu kita bukan saudara kandung. Namun rasa memiliki yang Allah berikan itu, tak mampu dipungkiri nikmatnya.

Dalam tiap perjalanan, kita sering menemukan orang-orang yang membuat kita menggelengkan kepala dan menertawakan dunia.

Dalam tiap jarak, kita sering diingatkanNya bahwa kedekatan itu bukan masalah seberapa jauh langkah terbentang, tetapi sedalam apa kita mau berjalan beriringan dan saling memperbaiki diri.

Berulang kali kita bercerita tentang kenyataan dan asumsi. Suara jangkrik, bahkan tak jarang tokek, jadi saksi tiap pekikan kekesalan dan muhasabah diri.

Es krim ini pun tak jarang jadi saksi. Entah sudah berapa cup yang tahu sejauh mana kita berkisah, sebanyak apa tamparan dunia dengan setia mengingatkan.

Gue tidak menyangka, kenapa perpisahan harus semenyebalkan ini, ya? Gue jadi enggak bisa menertawakan dunia bareng elo. Bareng es krim ini lagi.

Tadinya gue mau makan sampai habis. Tapi ternyata, jiwa gue masih ingat kalau es krim ini harusnya tidak di makan saat sedang sendirian. Biasanya berdua. Tak jarang sampai meleleh.

Selamat malam, jangan lupa makan es krim! :)

Wassalamu'alaikum.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…