Langsung ke konten utama

Monolog dengan Hati

Kadang kita terlalu khawatir,
Pada suara yang sebetulnya hanya mengikuti angin.

Kadang kita terlalu takut,
Tentang niat dan langkah yang asing bagi orang lain.

Lucunya, kita masih tetap takut,
Padahal kita tahu anggapan orang bukanlah yang benar.

Kita tahu bahwa ia tak tahu,
Tetapi kita takut jika ia sok tahu.

Maka artinya, kita khawatir pada hal yang tak berdasar?

Langkah itu pilihan,
Dan tentunya beralasan.

Kita takkan mampu menjawab anggapan,
Dengan jutaan kata sebagai jawaban.

Kadang, anggapan hanya perlu didengar.
Lalu tetaplah melangkah dengan tegap hingga mereka melihat jawaban yang tak disangka.

Belajar bukan tentang mengejar,
Tetapi wujud syukur dan kecintaan padaNya.

Kau tak perlu mengonfirmasi tiap anggapan hari ini juga.
Sebab niat memang bukan tuk diumbar, tetapi melangkahlah penuh ikhtiyar.

Berbincanglah dengan hati,
Agar mantap menapaki jalan diri.

Selamat meluruskan niat dan melangkah dengan kuat :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…