Langsung ke konten utama

Niat; Dorongan, bukan Perlombaan.

Semua langkah sesungguhnya hanya perantara. Ia menapak untuk menjemput niat yang harusnya makin membulat.

Kewajiban yang harus dijadikan dorongan adalah seberapa tekad kita untuk terus mengingatkan diri tentang niat.

Tentang apa yang hendak kita lakukan, mengapa kita harus melakukannya, untuk siapa kita melakukannya, serta seberapa besar kemauan kita untuk melakukannya.

Saat langkah menjejak karena tuntutan..., suaranya akan parau dan terdengar berat. Saat kaki menapak ragu..., lagi-lagi niat adalah hal utama perlu kita tinjau kembali.

Jika kita sudah hapal dengan narasi merefleksi diri, sesungguhnya terus mengontrol posisi niat adalah kunci utamanya.

Kita tentu sepakat bahwa mengontrol niat bukan hal sepele dan bisa selesai sekali kerja. Kita memang hanya punya kuasa mengontrolnya. Bukan mengontrol pandangan orang lain.

Ketika kita tahu betapa suci dan bermakna sebuah niat yang terus dikontrol, kita takkan mudah menilai orang, dan takkan mudah 'jatuh' ketika dinilai jelek.

Karena waktu kita telah habis untuk menegapkan langkah dengan niat yang kita bangun dan rawat, kita takkan punya waktu untuk mencari nilai baik dari khalayak ramai.

Memutuskan untuk belajar meluruskan niat akan dipilih oleh orang-orang yang merasa sudah bukan waktunya mengharap gegap gempita dan tepuk tangan, sorak sorai dan sorot lampu.

Jangan harap kita akan dapat dengan mudah meruntuhkan niat orang dengan memujinya. Sebab ia telah belajar bangun ketika dijatuhkan dengan nilai jelek, dan ia sudah merasa tak butuh dinilai baik dan diajak naik ke podium tertinggi.

Baginya, hidup bukan seperti perlombaan. Hidup adalah tentang niat yang tumbuh dari dorongan. Ia akan sibuk membantu mendorong, daripada hanya mencibir dan merongrong.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…