Langsung ke konten utama

Hitungan Hari.

Hari ini, ada yang memilih beramai-ramai untuk merayakan pergantian tahun.
Ada pula yang memilih sendirian, merefleksi diri tentang yang telah dilakukan dan hendak dilakukan.
Ada juga yang melalui hari seperti biasanya, tidak ada yang spesial.
Momen pergantian ini sesungguhnya tiap hari kita lalui.
Bagaimana tiap malam kita menyadari bahwa hari ini akan usai dan hari esok segera datang.
Merenungi yang telah lewat dan merencanakan yang akan dihadapi.
Tiap orang tentu punya hal-hal yang hendak dicapai dan diraih penuh perjuangan.
Bagaimana kita memililih karena selalu ada yang harus didahulukan.
Tak jarang kita ngotot ingin mencoba melakukan banyak hal dalam rentang waktu yang bersamaan.
Sering kita sibuk menantang dan menghitung kemampuan diri, memerkirakan bisakah kita memilih dan menyelesaikan semuanya?
Kita sibuk khawatir tentang waktu.
Kita takut kehabisan waktu.
Kita takut terlambat.
Kita takut kehilangan kesempatan.
Padahal kita tahu, ada hal yang takkan mampu kita tukar dan putarbalikkan.
Ada pula hal yang sudah Dia simpan hanya untuk kita.
Ada jalan yang Dia ciptakan memang untuk kita selesaikan satu persatu.
Saat Dia menghadapkan kita pada banyak kesempatan, kadang itu bukan berarti kita mampu menghadapi semua.
Kadang, itu berarti Dia sedang mengajak kita belajar untuk berani memilih menyelesaikannya satu persatu.
Mengontrol diri agar lebih bersabar menempuh hari, dan percaya bahwa Dia tak akan menukar dan menunda memertemukan kita pada yang kita nantikan.
Dia sedang mengajak kita untuk memahami, bahwa Dia akan memersatukan potongan jiwa saat kita dapat menyelesaikan rentetan hari yang memang harus kita selesaikan dalam keadaan lebih kuat dan siap dari hari kemarin.
Bersabarlah, karena jika takdir, pasti dekat.
:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…