Langsung ke konten utama

Berpikir Hidup Ibarat Roda, lalu Maknanya?

Hari ini, kita tentu banyak mendengar kabar gembira. Atau jangan-jangan kita tak menyadarinya? Butir-butir yang tergulir berkat keagunganNya, pengingat-pengingat yang dihadirkan dalam bermacam rupa. Sayang, kita lebih sering sibuk memikirkan tentang bagaimana kita harus menghadapi hari? Bagaimana harus menanggapi kata? Hingga sering tak memerhatikan tiap nikmat, melupakan garis hidup orang-orang di sekitar kita yang harusnya tak kita biarkan terlantar.

Saat kita memilih terus berpikir, jangan-jangan kita lupa memeliharanya dengan rasa. Padahal hidup ini sempurna jika pikiran kita terasah berdampingan dengan kepekaan, yang pada akhirnya mendorong kita tuk berbuat kebaikan.


Jika selama ini kita mengartikan hidup itu ibarat roda yang berputar karena mengambil perspektif posisi diri yang kadang di bawah dan kadang di atas, mengapa kita tak memaknai, bahwa kehidupan ini ibarat roda yang berputar, karena kita selalu diberikan nikmat, maka kita tak boleh ragu bahwa kita adalah agen agen Allah tuk menyalurkan nikmatNya pada orang lain. Ya, diberikan nikmat, dan menyalurkan nikmat. Begitu seterusnya selama hidup.

Maka saat kita sibuk merasa jenuh karena harus terlalu sering menjawab pertanyaan yang mungkin kadang bosan kita dengar, merasa lelah dengan keramaian yang harus selalu kita hadapi, jangan-jangan karena kita sibuk pada dua hal itu, lalu kita lupa bahwa ada 'roda' yang harusnya lebih kita perhatikan, usahakan, dan jadikan bahan belajar bersyukur. Kita lupa, bahwa banyak orang-orang hebat yang Allah dekatkan dengan kita, untuk mengingatkan bahwa hidup ini harus seimbang. Jangan sibuk jenuh hingga lupa syukur. Jangan sibuk lelah hingga lupa berbagi nikmat.

Kita sering berpikir hidup ini ibarat roda. Namun, sudah sedalam apa kita memaknainya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…