Langsung ke konten utama

#HariPertamaSekolah ; Bergerak Bukan Soal Jarak, Berkontribusi Bukan Soal Posisi.

Antar dengan bangga, lepas dengan doa.

Hampir sebulan ini terus mendengar dan mengingat slogan gerakan #HariPertamaSekolah , salah satu gerakan yang diinisiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) pada masa kepemimpinan Pak Anies Baswedan sebagai Mendikbud. Awal Juli lalu, saat Mas Bukik Setiawan mulai gencar mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi di gerakan tersebut, bahkan mulai membagikan informasi bahwa beberapa pemimpin daerah mulai mengeluarkan surat edaran sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan #HariPertamaSekolah , saya justru sedang ada di fase bimbang karena baru membaca surat edaran dari Dinas Pendidikan dan Kepemudaan DIY. Sebagai warga Jawa Tengah yang sudah 5 tahun di Jogja, saya makin berpikir keras, ini gimana caranya biar jarak jauh tapi tetep bisa gerak, ya? Bagi saya, pendidikan tidak akan ada artinya bila
tidak ada komunikasi orangtua dan guru, karena keduanya adalah sumbu utama penggerak pendidikan Jelas ada teorinya. Dua pihak tersebut adalah bagian dari faktor-faktor pendidikan yang memang harus berjalan beriringan.

Tuhan memang Maha Baik dan selalu memertemukan kita dengan orang baik. Saya percaya itu. Tak lama, salah satu teman seperjuangan, Mas Akhdyan yang akrab kusapa Masyan (dan akhirnya semua orang manggil dia begitu >.<) mengajak untuk menggerakkan #HariPertamaSekolah di Jawa Tengah. Kami langsung ngobrol soal gerakan tersebut, menguatkan tekad, dan akhirnya saya 'terseret' di grup relawan HPS (Hari Pertama Sekolah). Salah satu hal yang tak dapat kita pungkiri dari kepemimpinan Pak Anies sebagai mendikbud adalah pelibatan publik dalam tiap gerakan dan implementasi kebijakan, termasuk gerakan HPS ini. Saya 'bertemu' banyak teman baru di grup relawan HPS. Mulai dari DiniIrfan, Kak Della, Kak Bayu, Kak Rijal, Mas Shafiq Pontoh dan masih banyak lagi. Orang-orang ini berkumpul karena punya kesadaran dan kemauan untuk terlibat di gerakan HPS di manapun mereka berada. Mulai dari Jakarta hingga Nusa Tenggara Barat, semuanya bergerak mengkampanyekan HPS di lingkungan sekitar, media lokal, hingga media sosial. Tiap hari berbagi informasi tentang persiapan HPS di wilayah masing-masing, menunggu acc konten HPS yang kemudian siap disebarluaskan agar publik dapat mengetahui dan ikut terlibat juga.



Banyak cerita mengharukan selama relawan HPS bergerak. Mulai dari Mbak Fajar yang dengan semangat menemani anaknya HPS pagi-pagi dan menyebarkan semangat HPS ke wali murid lainnya, padahal pukul 9 ada rapat bareng rektor, Irfan dan Kak Rijal yang terus talkshow tentang HPS di media lokal Medan dan Balikpapan, Kak Efa yang terus 'memanaskan' gerakan di Dompu, dan relawan lain yang tak kalah semangat berbagi informasi dan mengampanyekan gerakan ini. Para relawan yang siap setiap saat menyebarkan konten HPS mulai dari himbauan orangtua mengantarkan anak ke sekolah, pentingnya HPS, hingga soal aturan baru Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS), kegiatan pengganti MOS yang tanpa perploncoan. Semakin dekat tanggal 18 Juli 2016 (yang merupakan dimulainya HPS di sebagian besar wilayah di Indonesia), semakin terasa semangat kampanyenya, dan makin banyak pula orang yang aware terharap Hari Pertama Sekolah.


Banyak perusahaan yang mengeluarkan pengumuman bahwa mereka mengizinkan dan menghimbau karyawannya untuk mengantarkan anak ke sekolah dulu sebelum ke kantor. Para pemimpin daerah banyak yang menyatakan dukungan dan himbauan pada masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam HPS, termasuk Pak Ahok yang awalnya sempat tak mengizinkan PNS mengantarkan anak ke sekolah dan akhirnya beliau mengizinkan. Kala itu, sebagai warga Jawa Tengah, saya sempat sedih karena belum menemukan berita bahwa Pak Ganjar, gubernur Jawa Tengah, menyatakan dukungan pada HPS ini. Semua konten dukungan tentu saja langsung disebar agar makin banyak masyarakat yang tahu. Bagi saya pribadi, saya tak dapat melupakan betapa senangnya ketika Pak Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng) akhirnya menyatakan dukungan dan menghimbau orangtua untuk berpartisipasi dalam HPS. Lebih dahsyatnya lagi, beliau terjun langsung saat tanggal 18 Juli 2016. Pak Anies Baswedan yang kala itu masih menjabat sebagai Mendikbud juga keliling ke banyak sekolah untuk memastikan HPS berjalan dengan baik, menemui guru, walimurid, hingga siswa.


Selain mengawal pergerakan daerah masing-masing, media sosial juga merupakan 'lahan' sosialisasi yang sangat efektif. Terbukti, tanggal 18 Juli 2016, selain banyak laporan masuk terkait penyelenggaraan HPS di berbagai wilayah, hashtag #HariPertamaSekolah sempat menjadi tranding topic di twitter, dan ramai juga di media sosial lain seperti facebook, instagram, hingga path. Bunda dan Ayah semangat berbagi cerita dan keceriaan tentang pengalaman HPS bersama anaknya. Banyak juga yang berbagi pemikiran tentang kesadaran pentingnya HPS. Hari itu, keceriaan dan kolaborasi pendidikan di berbagai daerah begitu terasa. Ya, sejujurnya, segala hal baik, termasuk pendidikan, tidak akan ada maknanya jika tak ada kolaborasi. Semua harus terlibat agar budaya protes dan mencaci berganti dengan budaya dan semangat berkontribusi.


Good guys stick together. Pak Anies sering sekali sampaikan hal tersebut. Pak Anies memang sudah tak lagi menjadi menteri. Tapi semangat terlibat dan berkontribusi, semoga makin besar kita rasakan. Semoga kita semua tak ragu terlibat, karena perbaikan muncul bila orang baik berkumpul dan bergerak bersama. Relawan Hari Pertama Sekolah ini, sekali lagi menegaskan bahwa jarak tak menjadi penghalang untuk
bersama bergerak. Kita semua harus percaya, pergantian mendikbud ini akan memerkuat pendidikan di Indonesia. Pemerintah terus memerbaiki, dan kita yang di luar pemerintahan (termasuk Pak Anies) terus berkolaborasi dan berkontribusi.


Terimakasih Mas Ardhi dan Star Jogja FM, Mbak El dan Yasika FM Kudus, Mbak Desti dan SD Muhammadiyah Kreco, Bantul, DIY, Kak Bella MoulinaNailil, dan seluruh relawan HPS yang bergerak tanpa hingar bingar pujian publik tapi tetap semangat. Ini baru 'paragraf' awal, mari kita tulis paragraf selanjutnya untuk pendidikan Indonesia.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…