Langsung ke konten utama

71 Tahun Indonesia; Selamat Terlibat dan Melibatkan.

71, bukan usia yang muda bagi seseorang. Namun untuk sebuah bangsa yang dipenuhi masyarakat dan terus ber-regenaerasi, masih akan banyak waktu yang harus dilalui penuh perjuangan. Menyadari bahwa sejatinya kita tak dapat bergerak sendiri, adalah salah satu pengingat untuk berjuang beriringan dan berhenti saling menyalahkan.


Bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang minim masalah, tapi yang dibangun dan dirawat bersama. Masalah tak diselesaikan sendirian, perjuangan tak ditempuh tanpa saling mendengarkan dan menyertakan nurani. Budaya memasrahkan pada pemerintah, menuntut hal yang tak disukai, menyalahkan keputusan, tidak akan mengubah apapun bila tak diiringi dengan kontribusi dan refleksi.


Ya, kontribusi saja ternyata tidak cukup. Kontribusi tanpa
refleksi bisa saja justru membuat kita merasa paling berperan tapi lupa pada esensi perjuangan suatu bangsa yang tak butuh satu pahlawan. Bangsa ini jelas butuh kerjasama yang bukan hanya saling melempar gagasan dan berperan, tetapi mau saling mendengarkan dan merefleksi hal yang harus diperbaiki bahkan diakhiri.


Hari ini, makin banyak gerakan yang diinisiasi anak muda. Mereka yang bukan hanya ingin terlibat tetapi mau melibatkan masyarakat tentu paham bahwa yang dilakukan bukan untuk nama baik pribadinya, tetapi mengajak masyarakat untuk bersama memperjuangkan janji kemerdekaan bangsa.


Menjadi yang paling hebat bukan satu-satunya prestasi. Menjadi yang paling berperan juga hanya akan menyelesaikan masalah hari ini tanpa mempersiapkan hari esok. Sejatinya kita tak harus berjuang sendiri. Negeri ini bukan hanya soal apa yang dibutuhkan hari ini, tapi apa yang harus disiapkan dan diperjuangkan nanti.


Selamat berkolaborasi untuk bangsa yang lebih solid dan beradab.
Selamat terlibat dan melibatkan.
Selamat ulang tahun, Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Perlu, Tapi Masih Saja Ingin Khawatir

Dulu, pernah ada suatu masa... Saya ditanyain orang, dan orang heran dengan keputusan saya untuk melanjutkan kuliah di Jogja. Sambil kerja pula."Kenapa enggak di luar negeri aja S2-nya?"
"Yaelah masih aja di sini."
"Sayang banget lho, padahal kayaknya kamu memenuhi kualifikasi untuk kuliah di luar negeri."Kala itu, jawaban saya selalu sama:
Emang sejak awal nggak pingin kuliah di luar negeri.Ya nggak pingin aja.Pernah nyaris mencoba daftar, tapi ya dibelokkan Allah untuk berada di tempat yang sama. Yang pernah merasakan kuliah&bekerja tentu tahu betul bagaimana perjuangannya. Capek dan hari libur dieliminasi tanpa ampun, tapi di sisi lain sungguh bahagia karena masih berkesempatan memenuhi kebutuhan orang lain saat harus memenuhi kebutuhan diri sendiri dalam menyelesaikan kuliah.Ketika saya hampir lulus S2, seorang teman yang sedang berjuang menunggu pengumuman beasiswa kuliah di luar negeri pernah bilang, "Kamu udah hampir selesai S2, sedangkan …