Langsung ke konten utama

Emang Jilbabku Kenapa, Sih?

Halo, teman-teman. Semoga semua membaca tulisan ini dalam keadaan baik dan sehat.
Sebelumnya saya mohon izin, sesekali curhat (eh, atau apa, ya, ini?) di blog. Ini soal perubahan yang makin hari makin banyak dikomentari. Soal prinsip dan pertanyaan diri yang tidak pernah saya sampaikan kepada banyak orang.


Sudah setahun terakhir saya berniat belajar agak memanjangkan jilbab, juga belajar memakai jilbab yang tak transparan.

Seketika banyak orang, teman, mulai dari yang deket sampai yang ngobrol aja enggak pernah, mengira bahwa saya telah terseret arus aliran ekstrim, radikal, bahkan jadi kader salah satu partai. Asumsi ini sejak awal sudah saya kira akan muncul. Saya siap, insyaAllah, dengan segala anggapan hingga bercandaan soal penampilan. Bukan hal baru buat saya, kok. :)


Tapi, izinkan saya bercerita...

Saya tumbuh di lingkungan yang bisa dibilang baik. Ayah saya rajin mengingatkan soal menjaga nama baik hingga beragama tapi tak lupa berbangsa dan berbudaya. Sejak RA (setara TK) saya mulai berjilbab karena sekolah di institusi Islam, hingga dilanjutkan di madrasah. Jadi mau tidak mau, tiap hari saya berjilbab, setidaknya pas sekolah dan keluar rumah.

Guru-guru saya senantiasa mengajak mengaji dan diskusi soal hal-hal serta masalah kontemporer yang kiranya tak buat kita sibuk kaget hingga lupa memikirkan jalan keluar baik. Teman-teman saya heterogen, mulai dari yang anak pondok salaf, pondok modern, anak madrasah, yang hobi mabuk, sampai yang non muslim. Maka saya tidak terbiasa mengambil keputusan hanya karena terpengaruh perkataan orang tanpa mengkajinya terlebih dahulu. Oke, soal latar belakang, selesai, ya. Kita lanjutkan...


Setahun lalu, seorang teman dan kakak, Mbak Kalis Mardiasih namanya, menulis soal jilbab. Saya ingat betul kala itu dia minta saya baca tulisannya untuk diskusi kira-kira tulisan itu cocok atau tidak bila dibaca oleh remaja? Tulisan itu memaparkan pemikiran Mbak Kalis mulai dari niat berjilbab hingga pertanyaan-pertanyaan yang dapat 'mengoyak' hati pembaca, seperti; pakai jilbab buat siapa? Karena pakai jilbab itu ikh
tiyar taat pada Allah, jadi kudu gimana pakai jilbabnya? Belum lagi soal jilbab transparan dan tak menutup dada, serta pertanyaan 'renyah' lainnya yang katanya mau buat pembaca remaja, justru berhasil menggetarkan saya sendiri. (Silakan baca tulisannya di sini)

Sesaat setelah membaca tulisannya, saya terdiam seraya bertanya pada diri sendiri. Mulai dari kenapa berjilbab hingga pemikiran inti yang kemudian berkembang jadi prinsip. Begini pemikiran saya kala itu:

"Badanmu gede banget begini, Riz. Ukuran bajumu aja beda. Kalau ukuran jilbabmu sama kayak temen-temenmu yang kurus, berarti kamu ndak tahu diri dan ndak malu sama Allah."

Kemudian saya teringat sebuah hadits:

عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدٍٍ اْلأَنْصَاريِ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.)


Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu." (HR. Bukhari)


Rasa malu ini penting, sebab bila kita tak lagi punya rasa malu, kita patut bertanya pada kepekaan hati kita. Terutama malu pada Allah.

Sejak saat itu saya berniat untuk mulai memerbaiki cara berjilbab, hingga saat ini.

"Duh pemikiranmu kok ndak syar'i banget?"

Saya bingung harus memaknai syar'i seperti apa lagi bila niat lillahi ta'ala itu tidak syar'i.

Bagi saya, beragama tidak dapat lepas dari bagaimana kita menjalin hubungan bukan cuma dengan Allah, tapi juga dengan makhluk. Sejak dulu saja enggak suka menilai orang dari penampilan. Misal beranggapan bahwa yang shalihah itu yang jilbabnya besar, yang pakai jilbab paris itu ecek-ecek dan ndak pinter agama, yang berjilbab besar udah pasti shalihah dan paham semua ilmu Allah, yang shalih itu yang rajin pakai peci, dan lainnya. Silakan jadikan penampilan sebagai salah satu indikator, tapi jangan berhenti sampai situ, sebab beragama adalah proses belajar seumur hidup. Maka saya percaya, yang kita pakai hari ini adalah bagian dari proses belajar beragama. Banyak teman saya yang pakai jilbab paris tapi khatam kitab Alfiyah dan ahli tafsir, banyak pula yang menjadikan jilbab sebagai tren. Tak sedikit teman saya yang pakai jilbab besar tapi baca Al-fatihah aja belum lancar dan dia merasa sudah cukup dengan hal itu, tapi banyak pula yang jilbabnya besar dan paham soal ilmu-ilmu agama.


Saya juga sering heran. Dahulu, banyak yang anggap saya liberal dan sekuler, tidak ada yang berani mengajak saya kajian. Sekarang? Banyak banget. Apalagi kajian pra nikah. Ya Allah.... Buanyak sekali.

"Lha emang kenapa? Kan bagus to?"

Bagus, tapi jangan-jangan kita belum niat betul dakwah ke semua kalangan dengan cara yang menyenangkan dan menenangkan. Jangan cuma ngajakin yang jilbabnya gede, lah. Ajakin semuanya. Ngobrol soal agama dan Allah itu kan nyenengin banget kalau kita enggak sibuk membedakan padahal sesama muslim.

Tapi, yang ingin saya garis bawahi adalah, pada dasarnya kita memang tidak pernah selesai menilai niat orang lain melakukan sesuatu. Tidak akan pernah selesai. Tapi kita juga tidak bisa terus-terusan menilai dari penampilan. Percayalah, menjaga penampilan itu memang susah. Tapi lebih susah menjaga niat dan akhlaq. Padahal dua hal itu kunci penting saat kita hidup berdampingan. Maka sesungguhnya ada banyak hal yang harus terus kita pelihara dan perbaiki. Penampilan barangkali salah satunya, tapi yang paling penting tentu bagaimana kita mengejawantahkan kehambaan kita padaNya, mematuhi dan mau terus belajar tentang ilmuNya.

Terimakasih banyak telah berkenan membaca, mohon maaf bila banyak hal yang saya sampaikan membuat teman-teman tak berkenan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…