Langsung ke konten utama

Belajar; Kehidupan yang Menyenangkan atau Target dan Beban?

Beberapa waktu lalu, saya bersama dua orang teman menonton film Wonderful Life (tonton trailernya di sini). Film Indonesia ini mengangkat cerita tentang disleksia, salah satu jenis disabilitas. Lebih spesifiknya, anak disleksia mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis. Bukan hanya pada huruf, tetapi juga angka. Penjelasannya dapat dibaca di sini. Cerita dalam Wonderful Life berdasarkan kisah Bu Amalia Prabowo, seorang Ibu yang memiliki anak penyandang disleksia. Diceritakan betapa Bu Amalia yang meyakini bahwa yang terjadi pada Aqil, anak
nya, adalah sebuah penyakit dan pasti dapat disembuhkan. Kondisi Bu Amalia yang nampak sulit menerima keadaan puteranya makin berat karena Ayah Kandungnya terus menanyakan apakah kondisi Aqil sudah membaik, dan menganggap bahwa bila Aqil belum mendapatkan nilai sempurna di sekolahnya, ia belum dapat dikatakan sehat dan Bu Amalia telah gagal menjadi orangtua. Belum lagi teman-teman Aqil di sekolah yang menganggapnya bodoh karena tak dapat membaca dan menulis dengan baik. Walau begitu, Aqil memiliki kemampuan menggambar di atas rata-rata. Sayangnya, tidak ada yang menyadari kelebihan tersebut.


Belum selesai dari keharuan Wonderful Life, hari ini saya memutuskan menonton film India berjudul Taree Zameen Par yang juga menyeritakan tentang Ishaan, penyandang disleksia. Kondisinya tak jauh berbeda dengan Aqil. Nilainya selalu paling jelek, gurunya sering menyuruh Ishaan ke luar kelas sebagai hukuman ia yang sering tak dapat menjawab pertanyaan. Ayahnya yang super sibuk dan jarang di rumah beranggapan bahwa Ishaan, tokoh penyandang disleksia, adalah anak yang tak mau belajar, bodoh, bahkan tak jarang memanggilnya "Idiot". Di luar itu, Ishaan memiliki kelebihan yang sama dengan Aqil. Ya, keduanya mahir menggambar, tapi tak ada yang menganggap hal tersebut sebagai sebuah kelebihan. Keadaan memanas ketika pihak sekolah Ishaan menyampaikan bahwa Ishaan tak dapat dipertahankan di sekolah bila hingga akhir tahun nilainya tak kunjung membaik. Hal ini membuat orangtua Ishaan, terlebih Ayahnya, memilih untuk memindahkan Ishaan ke sekolah Asrama agar dapat lebih mandiri dan mau berjuang lebih keras untuk belajar.


                               (foto: Cuplikan film Taree Zameen Par)

Cerita yang saya sampaikan hanya bagian awal dari film yang merupakan inti masalah yang dibahas hingga akhir. Apakah dua film itu menyajikan cerita yang menyedihkan? Iya.


Sejak awal menonton saya sibuk mendalami cerita sambil merefleksi diri. Berpikir hingga bertanya dalam hati, mengapa banyak orangtua yang menyayangi anak tetapi lebih memilih sibuk mendorong, memaksa anak untuk menjadi yang paling baik di antara yang lain? Sibuk membandingkan, merasa gagal bila pencapaian akademik anaknya tak sama dengan orang lain tanpa mau membuka mata bahwa jelas ada potensi lain yang dimiliki anak. Bila potensi itu tak disadari dan dikembangkan, bukan tak mungkin bila kemudian akan hilang terbelenggu keadaan yang penuh keterpaksaan..


Banyak orang yang masih menganggap bahwa anakanak disleksia, slow learner, adalah anak bodoh. Posisi mereka tak dibedakan dari pemalas yang tak mau belajar dan punya nilai akademik yang jelek. Kenapa tak dibedakan? Karena bagi banyak orang, anak bodoh adalah anak yang nilainya jelek, apapun alasannya. Bukan anak yang tak mau belajar. Senyatanya, kondisinya jelas berbeda. Anak malas jelas tak mau belajar, sedangkan anak disleksi adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang ia akan kesulitan walau sudah belajar,kecuali metode pembelajarannya mau lebih diinovasi agar memudahkannya.


Banyak orang pula yang menganggap bahwa anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata sejak kecil adalah anak yang pintar. Mereka tak berbeda dengan anak yang memiliki nilai bagus karena mati-matian belajar. Keduanya dianggap pintar karena bagi banyak orang, anak pintar adalah anak yang nilainya bagus, sering menang lomba. Pintar tak diukur dari seberapa rajin anak berusaha belajar.


Sayangnya, tidak banyak yang mengetahui bahwa anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata atau sering disebut gifted, keunikan, juga anak berkebutuhan khusus (ABK). Iya, mereka sama seperti anak disleksia dan slow learner, tapi berbeda jenisnya. (Penjelasan bahwa gifted adalah ABK dapat dibaca di sini).


Sebagai faktor utama dalam pendidikan, orangtua punya peran besar dalam upaya mengenali potensi hingga kelemahan anak agar tak terjadi masalah besar pada anak karena anggapan bahwa ia tak semahir teman-temannya. Bila orangtua tak dapat menerima kondisi anak, tak mau mendorongnya untuk lebih semangat di bidang yang ia gemari, maka jangan pula berharap orang lain akan mau menerima kondisi anak, Bila hal ini terus terjadi, anak akan selalu menjadi pihak yang terasingkan, nampak tak dibutuhkan dan tak ada gunanya.


Lebih dalam lagi, saya lantas merenung, menyadari bahwa menerima adalah hal yang tak pernah mudah bagi sebagian orang, barangkali termasuk saya. Parameter kebaikan dan pencapaian adalah yang ramai dengan tepuk tangan, bukan hasil refleksi seberapa dalam kita memaknai dan menyukuri yang ada di hadapan kita. Kita malas mencari solusi dan terus menyalahkan keadaan. Ini pula yang terjadi pada kasus orangtua anak disleksia dan ABK lainnya yang masih sulit menerima keadaan anak. Rata-rata mereka yakin bahwa anaknya sakit dan butuh ke dokter, butuh minum obat, tanpa mau melihat metode balajr apa yang digemari anak, apa hobi anak yang dapat dijadikan sebagai metode hingga media pembelajaran.


Semangat education for all yang sesungguhnya butuh dukungan besar dari orang tua justru akan semakin bias bila orang tua sibuk berlomba dengan orang tua lainnya, memerebutkan posisi membanggakan anak masing-masing tanpa peduli apakah anak betul-betul terdidik sesuai potensi yang dimiliki atau tidak. Akan sangat jauh bila kita harus bicara dengan terus menyalahkan kurikulum sekolah yang harus diubah, pelajaran yang harus dikurang, dan kebijakan institusi lainnya. Bila kita semua mengerti dan menyadari bahwa proses belajar anak di sekolah tak selalu menyenangkan bagi mereka, berpikirlah bagaimana dapat mengajak mereka belajar dengan menyenangkan, hingga mereka memaknai belajar sebagai kehidupan yang menyenangkan, bukan sekadar kewajiban penuh target dan beban.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…