Langsung ke konten utama

Hanya Beda Barisan

Sebab awal yang pertemukan karena segala langkah yang sama,
Kemudian kita sejenak lupa bahwa akan ada waktunya hati berjarak nyata.
Sebab dahulu ada visi yang diperjuangkan dengan penuh percaya,
Lantas kita tak siap bila hari ini ada yang beda.

Dulu, barangkali kita memilih ada di satu barisan.
Saling meyakinkan untuk sebuah pilihan.
Hari ini aku sadar, ternyata kala itu kita tak beri ruang pada perubahan.
Padahal sebetulnya kita tahu, pada akhirnya tak ada yang perlu sama karena paksaan.

Akan selalu ada ruang bagi peran yang terbagi.
Yang perlu dipahami, idealisme takkan berubah tanpa tepi.
Kita hanya beda barisan, bukan pintu kepercayaan yang selama ini terus kita uji.
Biar kamu di sini, aku di sana karena sosok dibutuhkan pada banyak ruang dan tak hanya di satu sisi.

Tak perlu khawatir.
Perubahan itu bukan hal yang pasti getir.
Harusnya kaupun masih yakin walau tak jarang ada rasa berdesir,
Aku hanya ingin punya andil di sudut yang tak ramai dan teriakan yang menyingkir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…