Langsung ke konten utama

Menemukan Jutaan Kehilangan

Pernah ada yang mengingatkanku, bahwa akan selalu ada hal yang tak sesuai bayangan atau keinginan. Di dunia ini bukan hanya ada rencana, tapi ada pula kejutan. Sayangnya, seringkali kita sibuk menyiapkan diri dan hanya mendominasi diri dengan kesiapan menerima kejutan baik, kejutan yang menyenangkan. Padahal, ada kejutan yang bukan hanya tak pernah terbayang, bahkan berlawanan dengan kejutan yang kita bayangkan.

Kadang kita sibuk menyiapkan diri untuk menerima segala hal, tetapi kita lupa bersiap untuk kehilangan. Selanjutnya kita akan bilang bahwa kehilangan adalah kesedihan. Apa iya? Saya tak percaya. Yang saya yakini, kehilangan muncul bukan untuk membawa kita pada kepedihan. Justru, kita diajak belajar bahwa ke depan kita tidak akan hidup dengan orang yang sama dan di tempat yang sama. Segala hal yang kita miliki juga takkan pernah sama. Yang kita anggap hilang, bisa saja hendak diganti. Bukan mau pergi begitu saja.

Lalu, sebetulnya apa makna segala perjalanan yang memertemukan kita dengan yang baru, kemudian tak jarang memisahkan kita dengan yang lama?

Yang jelas, Dia ingin tunjukkan bahwa sebanyak apapun kita kehilangan, akan selalu ada hal lain yang kita temukan. Barangkali tak selalu sesuai keinginan, tetapi kita harus menerima untuk kemudian menemukan makna.

Ya, makna. Sudah seberapa jauh kita coba menemukannya dalam sebuah pertemuan, bahkan jutaan kehilangan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…