Langsung ke konten utama

Sanad

Hari ini, kita berada di masa yang serba digital. Segala informasi dapat ditemukan melalui internet. Mulai dari gossip, berita penting, hingga ilmu pengetahuan yang sifatnya informatif. Tanpa disadari, kekuatan "katanya" dalam penyebaran informasi sudah menjadi budaya. Akhirnya, minim upaya untuk mencari tahu tentang asal sebuah berita. Asal yang paling akar. Padahal, dalam Islam, Rasulullah dan para sahabat memberikan contoh tentang pentingnya asal informasi atau riwayat sebuah ilmu.

Dalam hadits, ada yang namanya sanad yang di KBBI diartikan sebagai sandaran, hubungan, atau rangkaian perkara yang dapat dipercaya. Pada hadits, sanad merupakan rentetan rawi hadits yang sampai hingga Rasulullah. Mudahnya, harus jelas dari mana asal sebuah riwayat. Misalnya kita mendapatkan pernyataan dari Fulan A, kita harus tahu pula dari mana ia mendapatkan pernyataan tersebut. Hal ini terus dicari hingga kita menemukan siapa yang pertama kali menyatakan hal tersebut. Pentingnya sanad ini bukan hanya penting pada hadits, tetapi juga dalam penyebaran informasi, pernyataan, hingga berita. Hal ini semata-mata untuk memastikan bahwa yang disebarluaskan merupakan riwayat yang valid, shahih, tanpa ada revisi, penambahan, dan pengurangan apapun. Agar kemurnian informasi dan ilmu yang didapatkan betul-betul murni. Budaya ini yang harus terus dibangun pada masa yang serba digital. Ketika mendengarkan sebuah ceramah, misalnya, kita juga perlu mencari tahu sumber pernyataan kyai atau ulama' yang menyampaikan. Biasanya, beliau sekalian akan menyampaikan dari mana sumbernya. Namun, tak sedikit yang menyampaikan dan membagikan informasi tanpa memastikan sanadnya terlebih dahulu. Padahal, bila persatuan ingin terus dipelihara, kita semua harus mau serius soal asal muasal sebuah informasi, agar informasi yang tersebar bukan hanya dapat dibagikan lagi pada yang lain, tetapi juga terjamin kebenaran dan asalnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…