Langsung ke konten utama

Sibuk tapi Lupa

Tiap hari kita mengejar sempurna.
Menghindari segala sumbu yang hantarkan salah di muka.
Ya, kita tak siap dianggap sebagai penyebab murka.
Hanya ingin aman dan terus dirangkul puji dan puja.

Jangan-jangan ini pula yang buat kita sering enggan beri kesempatan.
Lebih memilih menimang luka dan tak berupaya menyembuhkan.
Tak pernah mau membuka pintu yang menjadi hak tiap insan.
Kita sibuk khawatir dengan kesalahan hingga lupa memberi ruang pada perbaikan.

Sesekali kita sibuk mendebat diri sendiri.
Mencari pembelaan yang dilindungi topeng penjelasan dengan rapi.
Sekali lagi.
Nampaknya kita memang betul-betul tak mau bertanya pada nurani.

Benci pada kemungkaran tetapi lupa memaafkan.
Tak terima kekurangan tapi lupa syukuri kekuatan.
Sibuk sembunyi agar diri tak punya cap kesalahan.
Dan, pergi meninggalkan kesalahan tapi tak mau beri jeda tuk melepaskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…