Langsung ke konten utama

Sibuk tapi Lupa

Tiap hari kita mengejar sempurna.
Menghindari segala sumbu yang hantarkan salah di muka.
Ya, kita tak siap dianggap sebagai penyebab murka.
Hanya ingin aman dan terus dirangkul puji dan puja.

Jangan-jangan ini pula yang buat kita sering enggan beri kesempatan.
Lebih memilih menimang luka dan tak berupaya menyembuhkan.
Tak pernah mau membuka pintu yang menjadi hak tiap insan.
Kita sibuk khawatir dengan kesalahan hingga lupa memberi ruang pada perbaikan.

Sesekali kita sibuk mendebat diri sendiri.
Mencari pembelaan yang dilindungi topeng penjelasan dengan rapi.
Sekali lagi.
Nampaknya kita memang betul-betul tak mau bertanya pada nurani.

Benci pada kemungkaran tetapi lupa memaafkan.
Tak terima kekurangan tapi lupa syukuri kekuatan.
Sibuk sembunyi agar diri tak punya cap kesalahan.
Dan, pergi meninggalkan kesalahan tapi tak mau beri jeda tuk melepaskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingg…