Langsung ke konten utama

Sudah, ya, Sudah.

"Ya udah, sih."

Seringkali saya dianggap meremehkan ketika berkata seperti itu. Terkesan tidak mau berpikir. Padahal, tak jarang kita memang perlu tuk tidak terlalu memikirkan sesuatu. Apalagi sesuatu yang telah terjadi.

"Ya tapi, kan, kamu bisa belajar dari hal yang udah lewat?"

Iya, jelas bisa dan memang harus belajar. Tetapi, terlalu memikirkan mengapa suatu hal harus terjadi? Mengapa yang terjadi tak sesuai harapan kita? Kalian yakin, itu belajar? Belajar atau marah? Belajar atau menyesal?

Yang perlu lebih disadari, belajar dari masa lampau perlu kerendahan hati untuk menerima, mau mengajak otak dan hati untuk lebih jernih merefleksi. Belajar dari penyebabnya agar lebih hati-hati. Belajar dari niat yang harus terus diperbaiki.

Sekali lagi, akan sangat berbeda kondisi kita yang belajar dan yang justru memilih tuk memelihara kekecewaan. Orang orang yang mau belajar takkan sibuk meletup-letup, sedangkan orang yang marah dan merawat kerapuhan akan sibuk mencari celah tuk menyalahkan keadaan. Menyalahkan orang yang dianggap memorakmorandakan kondisi.

Satu lagi. Kita tak sering sadar, bahwa ternyata, akan selalu ada orang-orang yang bahkan tak paham penyebab dan proses terjadinya sesuatu, kemudian tiba-tiba merasa paling berhak marah. Seolah membela, padahal tak tahu pula apa yang sedang dibela.

Kita bisa saja mengabaikan golongan ini. Namun, percayalah, ketika kita sudah selesai belajar, ketika kita memilih untuk selesai dengan tak mengungkit, kita akan punya kekuatan lebih tuk mengendalikan orang-orang yang sibuk berteriak lantang. Orang-orang yang mencari celah agar mendapatkan peran penting dalam kondisi genting

Pada dimensi lain, ketika kita terjatuh, akan selalu ada mereka, orang-orang yang menyayangi kita, hadir dengan niat menemani dan menenangkan. Namun kemudian mereka justru terjebak pada rasa empati mendalam yang membuatnya jauh lebih sakit, sedih, dan kecewa. Alan ada kondisi yang seperti ini. Kalian tentu pernah mengalami. Iya, kan?

Hal ini pula yang membuat alasan makin kuat untuk segera memelihara diri agar yang selesai betul-betul selesai sejak dalam pikiran. Segera belajar, tak sibuk berkutat dengan relung yang runtuh berserakan. Mengapa? Sebab, kita juga punya tanggungjawab menenangkan mereka yang turut meresa hancur dengan hal yang telah terjadi pada kita. Mereka yang sangat mencintai kita.

Pada akhirnya, kita semua akan paham bahwa tiap sakit muncul bukan untuk melemahkan kita, tetapi justru membuat kita mau berupaya bangkit. Kita tau dan mau bahwa akan ada lebih banyak orang yang ingin menguatkan kita, tetapi justru harus kita kuatkan, kita yakinkan bahwa, yang sudah selesai, biarlah selesai. Sudah. Tidak lebih dan tak perlu dicari alasan tuk melanjutkan atau malah kembali tuk mengembalikan rasa pada garis awal. Sudah, ya, sudah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…