Langsung ke konten utama

#MendalamiMendalam di Minggunya Malioboro


Hari ini sebetulnya saya sudah merencanakan untuk menyelesaikan banyak hal. Mulai dari menulis untuk buku kedelepan dan kesembilan, menyelesaikan kompilasi tulisan yang dikerjakan sejak beberapa hari lalu, hingga rekap pemesanan buku keenam.


Namun sayangnya, partner terbaik yang tak dapat digantikan harus istirahat terlebih dahulu. Sejak Sabtu kemarin laptop perjuangan harus dirawat, dan baru bisa diambil besok pagi.
Walhasil, saya cuma bisa melakukan pekerjaan melalui ponsel.

"Ini kayaknya emang disuruh istirahat, setelah sebulan ini gedebukan nyelesein banyak project." Batin saya menghibur diri. Aslinya sih jelas kepikiran. Semua deadline akhirnya mundur. 😢


Pagi tadi, saya memutuskan 'loncat' dari Stasiun Tugu ke Malioboro. Bila selama ini banyak waktu saya habis untuk berbicara di depan orang, hari ini saya memilih untuk menghentikannya sejenak. Saya hanya jadi pengamat, pendengar, tanpa terlibat obrolan panjang (kecuali dengan penjaga tiket Trans Jogja, Penjual Lumpia, dan sesama penumpang Trans Jogja yang nyaris ketinggalan kereta).

Jalan Malioboro pagi ini tak hanya dipenuhi wisatawan. Saya menemukan sekelompok orang yang menyimak pemaparan seorang lelaki. Yang menarik perhatian saya, foto&rekaman yang ditampilkan lelaki ini jauh dari kesan eksklusif. Diceritakannya pengalaman memotret di tempat umum, termasuk jalanan.

Dari memotret, ia bilang, barangkali tak selalu ditemukan kebahagiaan karena dibayar. Namun, ia berulang kali bertemu orang-orang yang bahagia karena dipotret olehnya. Mulai dari loper koran, pengguna jalan, hingga tukang sapu. Mendengar itu, saya sungguh merasa lega dan bahagia.

"Dunia ini masih banyak punya punya stok orang baik." Batin saya. Setelah mendengarkannya sejenak, saya kemudian pergi sambil mencari tagar #instaxisasi yang tertulis di kaus pria itu. Ternyata ia adalah @putradjohan_aloke . Salam kenal, Mas. Terima kasih pagi ini sudah jadi energi&alarm bagi saya, walaupun tadi saya cuma ngintip sebentar.

Tak jauh dari situ, saya memutuskan untuk duduk di kawasan pedestrian jalan Malioboro, dan melanjutkan membaca buku #Narasi yang sejak kemarin saya baca.

Larut dalam riuhnya Maliobro diiringi gaung cerita tentang sejarah tembakau hingga konflik tanah yang dituliskan banyak jurnalis berpengaruh, ternyata cukup mengisi diri. Perpaduan mengamati Malioboro dan tenggelam dalam prosa jurnalisme ini seolah menyadarkan saya bahwa manusia selalu butuh jeda. Minimal memberi jarak pada koridor tertentu kehidupan umum, untuk mengingatkan diri tentang kekosongan yang jangan-jangan selama ini dibiarkan.


Setelah hampir sejam membaca, saya kembali berjalan. Kali ini saya memutuskan untuk menyicipi lumpia terkenal di depan Hotel Mutiara. Lagi-lagi saya termenung. Sejak lama saya tahu keberadaan jajanan ini, sejak lama pula saya ingin mencoba. Namun, niat itu selalu terhenti karena ada 'bisikan', "Nggak usah, deh. Kapan-kapan aja. Besok juga masih buka." Begitu terus selama hampir lima tahun.
Yang membuat saya akhirnya memutuskan tuk mencobanya hari ini, sebetulnya cuma karena, "Ya udah, mumpung di sini dan lagi lowong aja."



Ketika akhirnya saya duduk, ada kesenangan yang jelas saya rasakan. Akhirnya saya nyobain makanan terkenal ini. Huray! Lagi-lagi saya menyadari, ternyata kesenangan, kebahagiaan, ada kalanya memang harus kita atur supaya tak menumpuk di satu masa. Kendalikan keadaan agar hidup bukan hanya soal melengkapi dengan makhluk lain, tetapi juga berupaya melengkapi kebutuhan diri dengan seimbang.


Selesai menikmati makanan yang dibandrol harga empat ribu rupiah ini, saya lantas melanjutkan berjalan kaki ke Pasar Beringharjo. Sebuah pasar terkenal yang selama ini selalu berhasil membuat saya lupa diri dan pasti belanja batik. Namun, kali ini saya punya tekad lain. Saya berjanji untuk tak belanja apapun di Pasar Beringharjo.

Begitu masuk dan mengamati toko pertama, diri ini mulai goyah karena banyak sandangan batik dengan berbagai model yang bagus, dan tentu saja murah.

"Dua puluh lima ribu aja, Bu." Saya dengar perkataan itu, lalu menoleh ke sumber suara. Ternyata yang sedang ditawarkan adalah celana batik. Ya Allah, rasanya kayak pingin langsung bayar aja. Dua puluh lima ribu dengan kualitas batik yang tak pernah mengecewakan dari Pasar Beringharjo ini sudah tentu jadi surga sandangan. Detik selanjutnya saya memilih untuk segera melanjutkan perjalanan sambil sesekali memejamkan mata, meyakinkan diri untuk tak berhenti di toko mana pun. Pokoknya nggak boleh mampir. Amati aja.

Dari perjalanan di Pasar Beringharjo, saya tak hanya sekali melihat sekelompok orang (yang sepertinya sebuah keluarga), mencoba meyakinkan satu sama lain tentang pilihan batik.

"Mama, yang dicari batik kayak apa?" Seorang perempuan mengelus lengan dan mendekatkan wajah sambil menatap ibunya.
"Mama cuma inget tokonya." Dijawab dengan pelan oleh wanita sepuh di hadapannya.


Kala percakapan itu terjadi, anggota keluarga lain konsen mendengarkan dengan seksama. Barangkali mereka berpikir bagaimana cara menemukan toko batik yang dimaksud sang bunda, sebab ada puluhan kios di Pasar Beringharjo dan tak jarang nama kiosnya mirip.


Dari situ, lagi-lagi saya termenung. Komunikasi itu bukan sekadar saling paham, tetapi juga mau saling memahamkan. Bagaimana agar ia paham maksudku? Bagaimana agar aku paham maksudnya? Bagaimana agar tak ada yang kecewa?

Saya bahkan menemukan tekad baru tuk hari esok. Saat Ibu saya sudah tua, saya ingin bisa seperti perempuan yang mengelus bahu mamanya tadi. Dengan kasih ia bertanya. Tatapannya jelas tak dapat membohongi ketulusan pada sang ibu.

Saya melanjutkan perjalanan ke area belakang Pasar Beringharjo, masih dengan mengamati interaksi di tiap kios. Ketika akhirnya saya keluar karena sudah tak menemukan kios lagi, rasanya kebahagiaan bertambah. Saya berhasil menahan diri untuk tidak belanja sepeserpun di Pasar Beringharjo. Sungguh sebuah prestasi penting tahun ini. Hahaha.

Hari mulai siang, dan matahari mulai terik. Namun panasnya cuaca tak mengurangi keramaian Malioboro. Titik kilometer nol dan Taman Pinter masih dipenuhi keceriaan para wisatawan.
Mengakhiri perjalanan #MendalamiMendalam hari ini, saya memutuskan untuk naik Trans Jogja.

Dulu saya paling males naik kendaraan umum ini karena rutenya selalu muter. Pernah, dari Jalan Ringroad Utara ke UIN Sunan Kalijaga saya harus menempuh perjalanan selama dua jam! Padahal kalau menggunakan kendaraan bermotor, paling hanya dua puluh menit. Namun, hari ini saya kembali memilih Trans Jogja karena ingin menikmati perjalanan naik bus sambil baca buku, melanjutkan membaca prosa jurnalisme yang tadi juga sempat saya nikmati di Jalan Malioboro.

Saat hampir sampai di tujuan akhir, Terminal Condong Catur, seorang ibu dan putrinya nampak risau. Ternyata mereka harus segera pulang ke Semarang melalui jalur Solo terlebih dahulu, dan sudah mengantongi tiket Kereta Prameks pukul 12.30 WIB. Awalnya saya hanya ikut mengamati kerisauannya. Namun, melihat penumpang lain yang ikut menanggapi kegelasaan dua orang itu, saya pun akhirnya ikut nimbrung.

Di satu sisi mungkin saya tak berhasil memenuhi tekad tuk hanya mengamati segala hal yang terjadi hari ini. Namun, saya senang karena atmosfer saling membantu dari sesama pengguna transportasi umum, kali ini kembali saya rasakan. Hampir semua penumpang berdikusi tuk menemukan cara agar sepasang ibu dan anak ini bisa segera kembali ke Semarang tanpa harus terus memupuk kekecewaan karena terlambat. Kita tak perlu saling mengenal dan terus bertemu untuk mau membantu seseorang, kan?

Perjalanan panjang di hari Minggu ini betul-betul membedah diri saya, mengisi relung-relung yang sebetulnya mungkin tak kosong, tapi butuh lebih dirawat. Mengobati rindu tentang Jogja yang nJogja, menyadarkan saya bahwa #MendalamiMendalam ini bisa kita rasakan dengan mau menyisihkan prioritas waktu dan tenaga untuk memberi jeda pada diri dari keramaian. Meninggalkan sejenak rutinitas yang tentu saja selama ini kita sukai, tapi harus dihentikan sejenak. Tak lupa, tentang interaksi yang ada kalanya hanya perlu kita amati lalu menjadi bahan refleksi. Menumbuhkan kesadaran-kesadaran yang mungkin sempat tersingkir, dan perlu sengana dihadirkan kembali.

Bagaimana hari Minggumu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…