Langsung ke konten utama

#JumuahBerfaedah - Melupakan Rentetan Doa



Beberapa hari ini saya dapat amanah menyunting 2 naskah buku yang ditulis guru dari Tanggamus (masih kurang 45 halaman 😭). Ini pengalaman baru karena biasaya saya menyunting naskah fiksi.

Suatu malam saya berpikir, mungkin ini cara Allah mewujudkan doa yang pernah terpanjatkan. Sejak dulu saya pingin bisa nulis buku tentang pendidikan, tapi belum terwujud karena dikalahkan perasaan nggak mumpuni.

Selama menyunting, mau tak mau saya membaca dengan seksama&jadi belajar lagi materi tentang pendidikan.

"Ini sih bukan cuma diwujudkan, tapi diajak belajar lagi sama Allah." Batin saya.

Sontak saya merefleksi segala hal yang diinginkan (kadang pinginnya pun cuma ngucap, nggak niat). Ternyata, ada banyak pengalaman yang nggak hanya harus saya syukuri, tapi juga sadari bahwa itu bukti Allah kabulkan doa saya..., dalam bentuk dan waktu yang menurutNya baik.

Dulu, saya pingin banget kuliah di jurusan psikologi. Udah sampai lobby chantique ke orang tua, tapi nggak keturutan. Eh, pas kuliah di jurusan pendidikan, 50% mata kuliahnya adalah psikologi. Mulai dari psikologi umum, perkembangan, hingga sosial dan agama.

Pun dengan keinginan untuk kuliah broadcast dan media. Ya nggak keturutan. Lha sekarang kok malah upyeknya di dunia itu. Public speaking dan ngurus media.

Pernah suatu ketika saya ngebatin, "Ya Allah, kok kangen naik kereta ya...". Besoknya saya dapet telpon untuk berangkat ke Jakarta, shooting program yang membahas tentang menulis. Shooting-nya bareng Bang Andrea Hirata.

Sampai sini, saya bukan lagi terpukau, tapi ketampar. Selama ini jangan-jangan saya cuma rajin bersyukur, tapi lupa pada rentetan doa yang sebetulnya sudah Allah kabulkan.

Kalau ada doa yang sekarang belum terwujud, fokus aja belajar. Allah bukan cuma nunggu kita siap, tapi ngedampingin kita sampai siap. Bukan cuma ngajak belajar, tapi nunjukin ke mana harus belajar.

Kalau dulu langsung diturutin Allah mungkin akan lebih gila panggung (atau sekarang pun iya ya?).

Kalau ada yang rasanya susah, jalani. Sama guru aja kita manut, apalagi kalau Allah yang jadi guru langsung, kan?

#refleksi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…