Langsung ke konten utama

Pemimpin Nggak Hanya Soal Mau Mendengarkan

Pernah nggak kamu liat gambar di media sosial yang menyantumkan tentang bedanya "bos" dan "pemimpin"? Kamu bisa mencarinya melalui mesin pencarian daring, ya.

Nah, dari gambar tersebut, secara garis besar bisa kita lihat bahwa pemimpin akan fokus pada tim, bukan dirinya sendiri. Ngomong-ngomong soal tim, amanah seseorang ketika menjadi pimpinan memang salah satunya memastikan pekerjaan tim berjalan dengan baik. Lantas bagaimana memastikan amanah sang pimpinan telah berjalan dengan baik?

Here we go!
"Mau mendengarkan aspirasi" adalah karakter utama seorang pemimpin yang diidamkan banyak orang. Namun, yang lebih penting adalah meninjau bagaimana cara sang pimpinan dalam mendengarkan aspirasi. Kenapa penting? Kalau metodenya nggak sesuai, maka pencapaiannya bisa aja akan kurang tepat sasaran dan amanahnya pun jadi kurang maksimal dijalankan.

Banyak yang menyatakan bahwa salah satu cara "mendengar" sekaligus memastikan bahwa amanah telah dijalankan adalah dengan melakukan evaluasi kepemimpinan. Padahal ada langkah penting yang harusnya dilakukan dahulu sebelumnya, yaitu sosialisasi ruang lingkup kerja sang pimpinan.

"Lho, tugas pimpinan kan jelas. Mengoordinir."

Apa yang dikoordinir? Siapa yang dikoordinir? Bagaimana garis koordinasi dari pimpinan tertinggi ke pimpinan di bawahnya hingga ke eksekutor terakhir?

"Kayaknya staf nggak perlu tahu sampai situ."

Kalau hal ini nggak diperhatikan, risikonya tentu komunikasi yang tak efektif dan berimbas pada penyelesaian pekerjaan yang tumpang tindih.

Pemahaman ruang lingkup kerja itu pula yang perlu ditindaklanjuti saat evaluasi pimpinan. Pelaksanaan evaluasi tentu tak lepas dari penilaian yang dilakukan terlebih dulu, salah satunya bisa dengan survey kepuasan.

"Survey kepuasan yang penting soal bagaimana pengguna ke perusahaan atau institusi, kan?"

Saat ini saya sedang mendampingi sebuah institusi pendidikan untuk melakukan survey kepuasaan layanan. Jika umumnya yang menjadi sasaran survey adalah wali siswa atau mahasiswa, institusi ini melakukan survey ke seluruh sivitas akademikanya. Mulai dari peserta didik, tenaga pengajar, hingga tenaga pendidikan.

"Apa yang menjadi bahan survey? Institusinya?"

Bukan. Pimpinannya. Para pimpinan ingin mengetahui bagaimana kepuasaan orang-orang yang dipimpin sebagai bahan penilaian dan evaluasi. Dengan tujuan demikian, maka kami memutuskan agar survey dilakukan dengan cara membagikan angket, bukan interview atau dengar pendapat. Hal ini dilakukan agar pemberian penilaian lebih objektif dan tak ada sungkan.

"Lalu apa yang menjadi instrumen survey tersebut? Bagaimana gaya kepemimpinannya kah?"

Bukan. Yang menjadi instrumen survey adalah dokumen tentang wewenang dan tanggung jawab (WT) pimpinan. Bagi saya pribadi, hal ini merupakan wujud transparansi insititusi yang paling dasar. Jika pimpinan tak berkenan WT-nya diketahui oleh publik, maka muncul pertanyaan: sadarkah pimpinan tentang sasaran WT? Publik, kan? Maka harusnya nggak perlu was-was ketika WT dijadikan instrumen survey.

Pemilihan instrumen ini juga sebetulnya secara tak langsung menjadi edukasi bagi tim dan pengguna soal tugas pimpinan. Pimpinan juga akhirnya lebih sadar bahwa yang harus dilayani dan jadi klien bukan hanya pengguna institusi, tapi juga orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Nah, ini yang di awal tadi saya sampaikan soal metode "mendengarkan". Cara-cara yang saya paparkan bisa menjadi alternatif pimpinan apapun dalam memastikan bahwa tugasnya sudah dilakukan, dan timnya sudah paham tentang tugas pimpinannya. Bukan hanya tugas ia sendiri. Efek jangka panjang yang akan terjadi adalah minimnya tugas yang tumpang tindih dan pengaduan yang tak tepat sasaran. Para pengguna (klien) juga selanjutnya tak akan bingung saat hendak memberi masukan atau pengaduan. Bukan "yang penting sudah disampaikan ke institusi" tapi sudah disampaikan pada pihak yang tepat sehingga tindak lanjutnya pun (harusnya) dapat dilakukan dengan lebih efisien.

Setelah dipelajari, ternyata jadi pemimpin memang nggak cukup sampai mau mendengarkan saja. Cara mendengarkanlah yang menentukan efeknya pada tim dan intitusi. Selamat belajar menjadi pemimpin, Temans! 😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berani Bikin Mimpi, Berani Mewujudkan (cerita saya tentang #30HariMenulisNovel)

Tuhan memang sutradara kehidupan manusia. Ia selalu Maha Baik dan Maha Cinta tiada terkira. Buktinya Dia selalu memberi kesempatan manusia untuk mempunyai mimpi dan mewujudkannya. Saya selalu ingat, “berani membuat mimpi harus berani mewujudkan”. Ya, rasanya percuma kita berpikir keras untuk menciptakan mimpi-mimpi yang sangat indah jika kita bayangkan hal itu akan tercapai, tetapi kita keenakan membayangkan sampai lupa mewujudkannya.

                Satu lagi ‘anak tangga’ yang akhirnya baru mulai saya lewat. Ini berawal dari kekaguman saya kepada Pak Dahlan Iskan. Selama ini banyak yang bertanya, “kenapa sih, Dahlan Iskan?”. Jawabannya cukup saya yang tahu. Karena kalaupun saya share, tiap orang punya pandangan beda-beda, bukan?

                Saya sama seperti anak muda lainnya, ingin sekali bertemu dengan orang yang diidolakan. Walaupun saya kagum dengan Pak Dahlan, perlu di ketahui saya selalu gagal menghadiri macam-macam seminar nasional yang mengha…

Bukan untuk Sepakat

Tujuh tahun lalu, saya pernah menangis dengan suara lantang (bukan teriakan) di depan teman-teman sekelas saya. Saya ingat betul, waktu itu saya bilang,
“Kalian boleh menganggapku yang paling dewasa di sini, tapi ingatlah kita tetap seumuran. Aku tetaplah anak berumur 17 tahun seperti kalian. Jadi, ingatkan saja kalau memang menurut kalian salah. Jangan hanya simpan apalagi bicarakan sendiri di belakangku.”
Ucap bercampur desah dan tangis, sedangkan di hadapan saya ada dua puluh satu orang yang sibuk dengan caranya masing-masing. Ada yang menatap saya dengan nanar, ada pula yang memilih menunduk sambil mengatur napas, ada pula yang sibuk bermain ponsel. Selayaknya permasalahan pertemanan anak SMA, kami sedang terpecah menjadi beberapa kelompok. Geng, begitu bahasa kerennya. Semua orang berharap saya bisa jadi penengah, melebur kelompok kelompok itu, seperti biasanya. Namun, kali itu, ternyata menurut mereka saya justru memihak salah satu kelompok saja.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa ora…